Shalom, Saudara yang terkasih dalam Tuhan.
Pernahkah Saudara melihat orang-orang yang punya kekuatan, uang, atau jabatan besar merasa mereka bisa menyelesaikan semua masalah dengan kekuasaan mereka?
Tetapi sejarah membuktikan, bukan kekuatan yang selalu membawa kemenangan, melainkan hikmat.
Izinkan saya memberikan sebuah ilustrasi. Ada seorang insinyur di sebuah kota kecil. Suatu hari bendungan di kota itu hampir jebol.
Semua orang panik. Ada tentara, pejabat, orang kaya, mereka semua mencoba dengan kekuatan dan uang untuk mengatasi masalah itu.
Namun, justru seorang insinyur tua, yang miskin dan sederhana, datang dengan satu ide sederhana: menutup retakan dengan teknik yang ia pelajari bertahun-tahun lalu.
Kota itu selamat. Namun, setelah bencana berlalu, orang itu dilupakan.
Bukankah ini mirip dengan kisah yang kita baca dari Pengkhotbah 9:13-18? Sebuah kota kecil diselamatkan oleh seorang miskin yang berhikmat, tapi ia dilupakan.
Tiga hal penting dari firman Tuhan:
Hikmat Mampu Menyelamatkan (ayat 13-15)
Kitab Pengkhotbah mengatakan, kota kecil itu dikepung oleh raja besar. Secara logika, kota itu akan kalah. Tapi satu orang miskin yang bijak menyelamatkan kota itu.
Apa pelajaran untuk kita?
• Hikmat lebih berharga daripada kekuatan. Hikmat adalah kemampuan melihat masalah dari sudut pandang Tuhan, bukan hanya akal manusia.
• Hikmat datang dari takut akan Tuhan (Amsal 1:7). Jadi bukan sekadar pintar, tapi tunduk kepada Tuhan.
• Dalam rumah tangga: Jangan mengandalkan emosi atau kekerasan saat ada konflik. Doakan, minta hikmat Tuhan.
• Dalam pekerjaan: Jangan hanya mengejar uang atau posisi. Ambil keputusan dengan hikmat agar tidak merugikan orang lain.
Ilustrasi singkat:
Bayangkan ada dua orang nelayan. Satu kuat, satu bijak. Ketika badai datang, yang kuat mencoba melawan ombak dan gagal.
Yang bijak mencari perlindungan di pulau kecil sampai badai reda. Hikmat menyelamatkan lebih daripada kekuatan.
Dunia Sering Melupakan Orang Bijak (ayat 15b)
Setelah kota selamat, orang miskin itu dilupakan. Inilah realita pahit: dunia menghargai kekuatan, kekayaan, dan popularitas, bukan kebijaksanaan.
• Jangan kaget kalau perbuatan baik kita dilupakan orang.
• Tetapi ingat: Tuhan tidak pernah melupakan kita (Ibrani 6:10).
• Saat Saudara melayani, jangan mengharapkan pujian.
• Saat Saudara membantu orang, lakukan seolah-olah untuk Tuhan, bukan untuk manusia (Kolose 3:23).
Hikmat Lebih Baik daripada Senjata, tapi Rapuh jika Ada Kebodohan (ayat 16-18)
Ayat 16 berkata, “Hikmat lebih baik daripada alat perang,” tetapi ayat 18 memperingatkan, “Satu orang berdosa dapat merusakkan banyak hal baik.”
• Hikmat membangun, tetapi kebodohan menghancurkan.
• Dalam gereja, keluarga, dan pelayanan, satu keputusan bodoh bisa merusak semua.
• Jaga lidah kita, karena satu kata yang salah bisa melukai hati dan menghancurkan relasi.
• Jangan kompromi dengan dosa. Hikmat dan dosa tidak bisa berjalan bersama.
Banyak perusahaan besar hancur bukan karena tidak punya modal, tapi karena keputusan yang salah dari satu pemimpin. Begitu juga rumah tangga. Satu perselingkuhan bisa menghancurkan kebahagiaan bertahun-tahun.
Saudara, mari kita bertanya pada diri kita:
Apakah kita mengejar kekuatan, kekayaan, atau hikmat dari Tuhan?
Hikmat mungkin tidak membuat kita populer, tetapi itu menyelamatkan. Hikmat mungkin tidak membuat kita kaya, tetapi membawa kehidupan.
Hari ini Tuhan berkata, “Carilah hikmat-Ku.” Hikmat itu ada di dalam firman Tuhan, doa, dan takut akan Tuhan.
Jika Saudara rindu hidup dengan hikmat, mari datang kepada Tuhan. Serahkan hidupmu. Katakan, “Tuhan, ajar aku hidup dalam hikmat-Mu.”
Doa : “Ya Tuhan, kami mengerti bahwa hikmat lebih berharga daripada kekuatan. Ajar kami untuk hidup takut akan Engkau. Berikan kami hikmat dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Supaya kami selalu mengambil keputusan yang benar dan memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.”
Editor : Clavel Lukas