Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Ulangan 10:12–22 untuk P/KB, Allah adalah Pokok Pujian

Clavel Lukas • Jumat, 18 Juli 2025 | 14:21 WIB

 

Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Kitab Ulangan adalah bagian dari Pentateukh (lima kitab Musa), yang memuat pidato-pidato Musa sebelum bangsa Israel memasuki tanah Kanaan.

Kitab ini mengulang hukum-hukum Tuhan yang sebelumnya telah disampaikan kepada generasi Israel sebelumnya di padang gurun.

Dalam Ulangan 10:12–22, Musa mengingatkan umat akan kasih karunia dan kebaikan Allah, serta menyerukan respons yang benar kepada Allah yang telah menyelamatkan mereka: takut akan Tuhan, hidup menurut jalan-Nya, mengasihi Dia, dan memuji Dia.

Pasal ini bukan hanya berisi tuntutan hukum, tetapi juga mengungkapkan kasih Allah yang mendalam, bahkan kepada kaum kecil, seperti orang asing, yatim dan janda.

Di tengah-tengah semua perintah itu, Musa menyatakan bahwa Allah adalah pokok pujian, artinya hanya Allah yang layak menerima pujian, hormat, dan penyembahan umat-Nya.

Pembahasan Ayat Per Ayat

Ayat 12–13:
"Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang diminta dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu..."

Ayat ini mengajarkan inti dari hidup beriman: takut akan Tuhan, hidup menurut jalan-Nya, mengasihi Tuhan, dan beribadah dengan segenap hati dan jiwa.

Ini adalah panggilan kepada setiap anak Tuhan untuk hidup dalam relasi kasih dan ketaatan yang sejati.

Takut akan Tuhan bukan berarti takut seperti kepada musuh, tetapi menghormati, menghargai, dan menempatkan Allah sebagai yang terutama. Ini adalah dasar bagi kita untuk hidup dalam pujian kepada Allah.

Ayat 14–15:
"Sesungguhnya, kepunyaan TUHAN, Allahmu, ialah langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit..."

Pujian kepada Allah didasarkan pada siapa Dia dan apa yang Dia miliki. Dialah pemilik langit dan bumi, namun dengan penuh kasih memilih Israel sebagai umat-Nya.

Inilah alasan mengapa pujian kita kepada Allah tidak boleh berhenti—karena Dia telah memilih dan mengasihi kita dengan kasih yang kekal.

Untuk ibu-ibu W/KI GMIM, ini menjadi pengingat bahwa dalam segala aktivitas pelayanan dan rumah tangga, pujian kepada Allah adalah nafas iman.

Ayat 16:
"Sunatlah hatimu dan janganlah lagi tegar tengkuk."

Allah tidak hanya menuntut ibadah lahiriah, tetapi menginginkan hati yang diserahkan kepada-Nya. Sunat hati artinya membuka diri terhadap karya pembaruan Tuhan.

Ini adalah pesan penting bagi setiap perempuan percaya—membangun hati yang lembut, mudah dibentuk, dan selalu menyembah Tuhan dalam kebenaran.

Ayat 17–18:
"Sebab TUHAN, Allahmu, Dialah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan..."

Allah yang layak dipuji adalah Allah yang adil, penuh kasih, dan membela mereka yang lemah.

Dalam konteks saat ini, kita dipanggil untuk meneladani karakter Allah ini: menjadi perempuan yang memuliakan Tuhan dengan membela kebenaran, merawat yang terluka, dan menjadi terang di tengah keluarga dan masyarakat.

Ayat 19:
"Sebab itu haruslah kamu mengasihi orang asing..."

Pujian kepada Tuhan bukan hanya dengan nyanyian, tetapi juga dengan tindakan kasih. Ibu-ibu yang memuji Tuhan sejati adalah mereka yang membuka tangan kepada sesama, terutama kepada yang tersisih dan membutuhkan.

Ayat 20–22:
"Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu..."

Bagian ini kembali menekankan bahwa Allah adalah pokok pujian. Ia yang melakukan perkara besar di masa lalu, yang membawa Israel keluar dari Mesir, yang memelihara, memimpin, dan memberkati, adalah Allah yang sama yang layak dipuji hari ini.

Penutup

Saudari-saudari terkasih dalam W/KI GMIM, dari seluruh pembacaan ini kita diingatkan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu yang layak kita puji.

Dia bukan hanya Pencipta dan Penyelamat, tetapi juga Allah yang memilih kita, menyertai kita, dan mengasihi kita dalam setiap musim kehidupan.

Pujian bukan sekadar ritual, tetapi menjadi gaya hidup yang lahir dari pengenalan akan siapa Allah dan perbuatan-Nya dalam hidup kita.

Sebagai perempuan Kristen, sebagai ibu, istri, pekerja, atau pelayan di jemaat, marilah kita menjadikan pujian kepada Allah sebagai dasar kehidupan kita:

  1. Pujilah Tuhan dengan hati yang takut akan Dia. Hormatilah Tuhan dalam segala aspek hidup—dalam perkataan, tindakan, dan sikap kita sehari-hari.

  2. Pujilah Tuhan dengan kehidupan yang kudus dan mengasihi sesama. Jangan biarkan hidup kita menjadi kontra kesaksian, tetapi jadikan hidup ini cermin kasih dan keadilan Tuhan.

  3. Pujilah Tuhan dengan bersyukur dan berserah dalam segala keadaan. Meski hidup tidak mudah, kita punya Allah yang besar, yang sanggup menolong dan menyelamatkan.

  4. Pujilah Tuhan dengan terus mengingat karya-karya-Nya di masa lalu. Ingatlah bagaimana Tuhan menuntun, memelihara, dan memulihkan. Jangan lupa kebaikan-Nya.

Ajakan:
Hari ini, mari kita memperbaharui komitmen kita untuk hidup dalam pujian kepada Tuhan.

Jadikanlah setiap langkah, perkataan, dan pelayanan kita sebagai bentuk pemuliaan kepada Dia yang layak menerima segalanya.

Kiranya nama Tuhan dipuji bukan hanya di gereja, tetapi juga di rumah kita, di pekerjaan kita, dan di dalam hati kita setiap saat.

“Sebab Dialah pokok pujianmu dan Dialah Allahmu” (Ulangan 10:21).
Amin.

Editor : Clavel Lukas
#Upus Ni Mama GMIM #WKI GMIM #khotbah #GMIM #W/KI #Renungan GMIM #Renungan