Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Untuk Umat Katolik Selasa 22 Juli 2025 Bacaan I Kidung Agung 3:1-4a, Bacaan Injil Yohanes 20:1.11-18

Fandy Gerungan • Selasa, 22 Juli 2025 | 09:31 WIB
Ilustrasi Jemaat mendengarkan Firman di Gereja. (ChatGPT)
Ilustrasi Jemaat mendengarkan Firman di Gereja. (ChatGPT)

Pekan Biasa ke- XVI (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I- Kidung Agung 3:1-4a

“Impian mempelai perempuan.”

Di dalam kerinduannya, sang mempelai berkata: Pada malam hari, di atas peraduanku, kucari jantung hatiku. Kucari dia, tapi tak kutemukan. Aku bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku.

Kucari dia, tapi tak kutemukan. Aku ditemui peronda-peronda kota. “Apakah kamu melihat jantung hatiku?” Baru saja meninggalkan mereka, kutemukan jantung hatiku. Kupegang dia, dan tak kulepaskan lagi.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 63:2.3-4.5-6.8-9

Ref. Jiwaku haus pada-Mu, Tuhan, ingin melihat wajah Allah.

Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus akan Dikau tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, yang tiada berair.

Demikianlah aku rindu memandang-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup; bibirku akan memegahkan Dikau.

Aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Seperti dijamu lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, bibirku bersorak sorai, mulutku memuji-muji.

Sungguh, Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu.

Bait Pengantar Injil Alleluya

Ref. Alleluya.

Katakanlah Maria, engkau melihat apa? Wajah Yesusku yang hidup, sungguh mulia hingga aku takjub.

Bacaan Injil Yohanes 20:1.11-18

“Ibu mengapakah engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?”

Pada hari Minggu Paska, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur Yesus dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis.

Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.

Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Sesudah berkata demikian Maria menoleh ke belakang, dan melihat Yesus berdiri di situ; tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman.

Maka ia berkata kepadanya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”

Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!” artinya: Guru. Kata Yesus kepada-Nya, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa.

Tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”

Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Tuhanlah yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Inti Renungan.

Bacaan Pertama yang diambil dari Kitab Kidung Agung 3:1-4a dan Bacaan Injil yang diambil dari Injil Yohanes 20:1,11-18 sama-sama menggambarkan kerinduan yang mendalam.

Kerinduan dari seorang yang sangat mencintai, hingga rela mencari tanpa lelah meski dalam kegelapan dan kesedihan.

Dalam Kidung Agung, sang mempelai perempuan dengan penuh kerinduan mencari kekasih hatinya. Ia tidak menemukannya di peraduan, maka ia keluar dan menjelajahi kota.

Ia berjalan di jalanan, bertanya kepada para penjaga kota, hingga akhirnya ia menemukan "jantung hatinya", dan ia tidak ingin melepaskannya lagi. Ini adalah gambaran cinta yang begitu tulus, cinta yang haus akan kehadiran, cinta yang mencari tanpa kenal lelah.

Lalu kita melihat Maria Magdalena, murid yang sangat mengasihi Yesus, datang ke makam saat hari masih gelap. Ia menangis dan merasa kehilangan. Baginya, Yesus bukan sekadar guru, tetapi jantung hatinya, harapan hidupnya.

Ketika ia tidak melihat jasad Yesus, hatinya remuk. Namun justru di dalam tangisan itulah Yesus hadir tidak lagi dalam kematian, tetapi dalam kebangkitan.

Ia memanggil Maria dengan namanya, dan seketika Maria mengenali-Nya. Hanya dengan satu kata "Maria!" Yesus menjawab kerinduan yang paling dalam dari seorang yang mengasihi-Nya.

Kadang Tuhan memang terasa jauh. Seperti sang mempelai dalam Kidung Agung, seperti Maria yang kehilangan arah di kubur kosong, kita pun bisa merasa sendirian. Namun, pencarian itu tidak sia-sia.

Dalam kerinduan yang tulus, Tuhan berkenan menyatakan diri-Nya. Dia memanggil nama kita, sebagaimana Ia memanggil Maria. Ia ingin agar kita juga berseru, “Rabuni! – Guruku!”. (*)

Editor : Clavel Lukas
#renungan katolik #khotbah #umat katolik #Renungan