MANADOPOST.ID– Bahasa roh atau dikenal juga sebagai glossolalia merupakan salah satu topik yang menimbulkan perbedaan pandangan di antara gereja-gereja Kristen.
Sebagian gereja, terutama dari kalangan Protestan dan Anglikan, cenderung tidak mempraktikkan penggunaan bahasa roh.
Sebaliknya, gereja-gereja dalam aliran Karismatik dan Pantekosta secara konsisten mengajarkan dan mempraktikkannya dalam kehidupan beribadah.
Topik ini kembali diangkat dalam program TV Pantekosta yang menjelaskan secara mendalam asal-usul serta dua jenis bahasa roh menurut Alkitab, yaitu sebagai tanda kepenuhan Roh Kudus dan sebagai karunia Roh Kudus.
Asal Usul Bahasa Roh dalam Alkitab
Bahasa roh pertama kali dinubuatkan oleh Tuhan Yesus sendiri dalam Markus 16:17 “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,”
Yang menyatakan bahwa “mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru.”
Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah glōssais lalēsousin, yang berarti "berbicara dengan lidah yang baru."
Hal ini kemudian digenapi pada peristiwa Pentakosta, seperti yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 2:4, di mana 120 murid dipenuhi oleh Roh Kudus dan mulai berkata-kata dalam berbagai bahasa sesuai dengan yang diberikan oleh Roh.
Dua Jenis Bahasa Roh
Dalam pengajarannya, Pantekosta menekankan bahwa bahasa roh dalam Alkitab dibagi menjadi dua jenis utama:
- Bahasa Roh sebagai Tanda Kepenuhan Roh Kudus
Jenis ini terjadi satu kali seumur hidup, yaitu saat seseorang pertama kali dipenuhi oleh Roh Kudus.
Dalam Kisah Para Rasul 2:4, para murid berbicara dalam bahasa-bahasa manusia yang dimengerti oleh banyak orang dari berbagai bangsa seperti Partia, Media, Elam, Mesir, dan Arab.
Bahasa ini menjadi tanda bahwa seseorang telah dipenuhi oleh Roh Kudus, bukan hasil dari pikiran atau kehendak pribadi, melainkan sepenuhnya berasal dari Roh Kudus.
- Bahasa Roh sebagai Karunia Roh Kudus
Karunia ini diberikan oleh Roh Kudus secara khusus dan dapat digunakan sewaktu-waktu dalam pelayanan. Dalam 1 Korintus 12:10, disebutkan bahwa ada orang yang diberikan karunia untuk berkata-kata dalam bahasa roh, dan ada juga yang diberikan karunia untuk menafsirkannya.
Bahasa roh jenis ini tidak dimengerti oleh manusia, karena merupakan ucapan rahasia kepada Allah, seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 14:2 “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.”
Tata Ibadah dan Etika dalam Penggunaan Bahasa Roh
Alkitab memberikan panduan tentang penggunaan bahasa roh dalam ibadah:
- Harus ada penafsiran: Jika seseorang berbicara dalam bahasa roh di tengah jemaat, harus ada yang menafsirkannya agar dapat dimengerti dan membangun iman jemaat (1 Korintus 14:27).
- Tidak boleh mendominasi ibadah: Rasul Paulus menegaskan bahwa ibadah harus dilakukan dengan tertib, dan bahasa roh tidak boleh menghalangi pemahaman jemaat secara umum (1 Korintus 14:19).
- Tidak bisa diajarkan atau ditiru: Bahasa roh sebagai karunia tidak bisa dibuat-buat, diajarkan, diseragamkan, ataupun ditiru.
Hal ini murni berasal dari Roh Kudus dan diberikan secara spesifik kepada setiap individu.
- Membangun secara rohani: Karunia-karunia Roh termasuk bahasa roh dimaksudkan untuk membangun jemaat, memperkuat iman, dan memperdalam hubungan rohani antara manusia dan Allah.
Bahasa Roh di Era Gereja Mula-Mula dan Masa Kini
Fenomena bahasa roh tidak hanya terjadi di Yerusalem, tetapi juga menyebar ke daerah Kaisarea (Kisah 10:44-46) dan Efesus (Kisah 19:6).
Dalam setiap kejadian, mereka yang menerima Roh Kudus berbicara dalam bahasa roh dan memuliakan Allah, menunjukkan bahwa karunia ini tidak terbatas hanya pada satu kaum atau wilayah.
Kesimpulan:
Bahasa roh atau bahasa lidah merupakan bagian dari doktrin Alkitab yang menunjukkan kuasa dan pekerjaan Roh Kudus di tengah gereja.
Ada dua jenis utama yang perlu dipahami umat Kristiani:
Bahasa roh sebagai tanda kepenuhan Roh Kudus, terjadi satu kali saat seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus.
Bahasa roh sebagai karunia, yang dapat digunakan dalam doa pribadi atau ibadah jemaat dan harus disertai dengan penafsiran.
Pemahaman yang benar dan alkitabiah sangat penting untuk menghindari penyalahgunaan atau penyimpangan dalam praktik berbahasa roh.
Hendaknya setiap orang percaya selalu meminta bimbingan Roh Kudus dalam setiap pelayanan dan kehidupan spiritualnya.
Puji Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (*)
Editor : Gregorius Mokalu