Matius 25:13 — “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”
Dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis ini, Yesus menggambarkan kerajaan Surga seperti sepuluh gadis yang membawa pelita untuk menyongsong mempelai laki-laki.
Lima di antaranya bijaksana, dan lima lainnya bodoh.
Gadis-gadis yang bijaksana membawa pelita beserta minyak cadangan, sementara yang bodoh hanya membawa pelita tanpa persiapan lebih.
Ketika mempelai itu datang di tengah malam waktu yang tidak disangka pelita mereka yang tanpa minyak tambahan pun padam, dan mereka tertinggal karena harus pergi membeli minyak.
Apa makna dari kisah ini bagi hidup kita?
Minyak dalam perumpamaan ini dapat dimaknai sebagai iman yang disertai ketaatan dan persiapan rohani yang terus-menerus.
Menjadi orang Kristen bukan hanya soal percaya sekali lalu selesai.
Kita dipanggil untuk hidup dalam kesiapan, karena kita tidak tahu kapan Tuhan akan datang kembali entah dalam kedatangan-Nya yang kedua kali, atau ketika kita sendiri dipanggil menghadap-Nya.
Lima gadis bijaksana tidak hanya membawa pelita, tetapi mereka berjaga-jaga dan bersiap, meski tidak tahu jam kedatangan sang mempelai.
Mereka menggambarkan kehidupan yang hidup dalam pengharapan, kesetiaan, dan kesiapan setiap waktu.
Sementara itu, lima gadis bodoh mewakili mereka yang mengaku percaya, tetapi tidak menjaga kualitas rohaninya.
Yang harus kita lakukan dalam Kehidupan Sehari-hari:
- Periksa minyakmu hari ini.
Apakah hatimu tetap menyala karena doa, firman, dan ketaatan? Atau sudah mulai padam karena dunia?
- Jangan menunda-nunda untuk bertobat dan membangun hubungan dengan Tuhan.
Jangan tunggu "nanti" karena kita tidak tahu kapan "nanti" itu datang.
- Bersiaplah setiap saat, hidup dalam kekudusan dan kasih, karena waktu Tuhan bukan waktu kita.
*Kesimpulannya*
Hidup bijaksana adalah hidup yang terus berjaga-jaga, menjaga pelita tetap menyala dengan minyak yang cukup iman yang aktif, kasih yang tulus, dan pengharapan yang tidak padam.
Jangan menjadi seperti lima gadis bodoh yang tertinggal karena lalai.
Hari itu akan datang, dan hanya mereka yang siap yang akan masuk bersama Sang Mempelai. (*)
Editor : Gregorius Mokalu