Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Khotbah MTPJ GMIM Pdt Stefanus Mawitjere MTh, 10-16 Agustus 2025 Matius 22:15-22 Berikanlah Apa Yang Wajib Kamu Berikan Kepada Kaisar dan Kepada Allah

Aprilia Sahari • Senin, 11 Agustus 2025 | 08:57 WIB
Pdt. Stefanus Ferli Mawitjere, M. Th
Pdt. Stefanus Ferli Mawitjere, M. Th

MTPJ 10 AGUSTUS 2025

TEMA : BERIKANLAH APA YANG WAJIB KAMU BERIKAN KEPADA KAISAR DAN KEPADA ALLAH


(Pdt. Stefanus Mawitjere)


Map of thinking dari penulis :

- Konteks perikop
- Kelompok yang terlibat dalam perikop
- Konteks di Yerusalem dalam kaitan dengan perikop
- Latar Sejarah Pengenaan Pajak kepala/Tributum capitis/Poll Tax
- Siapa yang wajib membayar dan tidak wajib membayar pajak
- Penjelasan soal gambar koin
- Tafsiran


Konteks Perikop

Konteks perikop ini berada dalam rangkaian konfrontasi Yesus dengan para pemimpin agama di Bait Allah setelah masuk Yerusalem (Matius 21:23–23:39). Polanya:
Tantangan otoritas Yesus dari para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi (21:23–27).
Tiga perumpamaan penghakiman (21:28–22:14) yang mengkritik pemimpin Yahudi.
Tiga pertanyaan menjebak (22:15–40):
Pajak kepada Kaisar (22:15–22).
Kebangkitan orang mati (22:23–33).
Hukum yang terutama (22:34–40).
Perikop ini adalah pertanyaan menjebak pertama. Strategi mereka adalah membuat Yesus salah ucap:
Jika Yesus menjawab “ya, bayar pajak”, Ia akan dituduh sebagai pengkhianat nasional dan kehilangan simpati rakyat.
Jika Yesus menjawab “tidak, jangan bayar pajak”, Ia akan dituduh memberontak kepada Roma (tindak pidana serius).
Jawaban Yesus (“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada

Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”) membalikkan jebakan mereka. Ia menegaskan:
Ada pengakuan kewajiban sipil (selama tidak melanggar kehendak Allah).
Kesetiaan utama tetap kepada Allah, yang memiliki otoritas tertinggi atas manusia.


Kelompok-Kelompok yang Terlibat

Farisi
Kelompok religius nasionalis yang menekankan ketaatan Taurat dan tradisi leluhur.
Secara teologis, mereka menolak penyembahan kepada Kaisar dan resah terhadap pajak yang dianggap menodai kedaulatan Allah.
Namun, secara politik, mereka tidak ingin konfrontasi terbuka yang memicu hukuman Roma.

Herodian
Pendukung dinasti Herodes, yang menjadi sekutu Roma.
Lebih pragmatis dan pro-pemerintah Roma.
Uniknya, dua kelompok ini biasanya berseberangan, tetapi bersatu melawan Yesus—mirip musuh yang kompak sementara demi mengalahkan “ancaman” yang lebih besar.


Konteks di Yerusalem

Peristiwa ini terjadi di Bait Allah, pada minggu terakhir kehidupan Yesus (Minggu Paskah Yahudi).
Yesus baru saja:
Memasuki Yerusalem secara mesianis (21:1–11).
Membersihkan Bait Allah (21:12–17).
Mengajar perumpamaan yang menegur keras para pemimpin agama (21:28–22:14).
Ketegangan memuncak; para pemimpin agama mencari cara “menjerat Yesus dalam perkataan-Nya” (22:15) agar bisa menuntut-Nya.
Pertanyaan tentang pajak adalah jebakan politik:
Jawab “ya” → kehilangan dukungan rakyat yang anti-Roma.
Jawab “tidak” → bisa dituduh memberontak pada Roma


Latar Sejarah Pengenaan Pajak kepala/Tributum capitis/Poll Tax

Tributum capitis adalah istilah Latin yang berarti “pajak kepala” atau “pajak perorangan”.
Tahun 6 M – Pajak kepala ini diberlakukan di Yudea setelah wilayah itu menjadi provinsi Romawi di bawah gubernur Publius Sulpicius Quirinius.
Sebelumnya, wilayah Yudea berada di bawah kekuasaan Herodes Agung yang semi-otonom sehingga tidak membayar pajak langsung ke Roma dalam bentuk ini.
Pengenaan tributum capitis pada 6 M memicu pemberontakan oleh Yudas orang Galilea (Kis. 5:37; Yosefus, Antiquities 18.1.1), yang memulai gerakan Zelot dengan semboyan bahwa hanya Allah yang boleh menjadi Raja atas Israel.
Besaran: umumnya 1 denarius per orang per tahun (setara upah harian buruh tani).
Biasanya dibebankan pada setiap penduduk non-warga Roma di provinsi jajahan, mulai usia tertentu, setiap tahun.
Sanksi: Penolakan membayar pajak dianggap pemberontakan terhadap Roma (perduellio), yang bisa dihukum berat, bahkan mati.


Siapa yang Wajib Membayar

Penduduk provinsi taklukan (peregrini) → termasuk Yudea setelah menjadi provinsi Romawi (tahun 6 M).
Berlaku bagi laki-laki dan perempuan dalam rentang usia produktif (±14/12 tahun hingga ±65/60 tahun).
Semua status sosial (petani, pedagang, buruh, dll.) selama bukan warga negara Romawi.
Termasuk orang Yahudi yang tinggal di wilayah langsung di bawah kekuasaan Roma.

Siapa yang Dikecualikan

Warga negara Romawi penuh (cives Romani) — dibebaskan dari tributum capitis dan tributum soli (pajak tanah).
Penduduk kota yang punya status khusus (civitates liberae atau foederatae) yang memiliki perjanjian khusus dengan Roma — mereka kadang dibebaskan sebagian atau seluruhnya dari pajak.
Anak-anak di bawah usia wajib pajak (sekitar <14 tahun untuk laki-laki, <12 tahun untuk perempuan).
Lansia di atas batas usia (±65 tahun untuk laki-laki, ±60 tahun untuk perempuan).
Beberapa pejabat dan imam agama yang diakui Roma kadang mendapat pengecualian (meskipun ini jarang dan bersifat politis).


GAMBAR KOIN

SISI DEPAN
Gambar: Potret Kaisar Tiberius menghadap ke kanan, memakai mahkota daun salam (laurel wreath).
Tulisan Latin:
TI CAESAR DIVI AVG F AVGVSTVS
Kepanjangannya: Tiberius Caesar Divi Augusti Filius Augustus.
Arti: “Tiberius Caesar, anak ilahi Augustus, yang mulia/agung.”
→ Frasa Divi Augusti Filius adalah klaim bahwa Tiberius adalah “anak dewa”, karena ayah angkatnya, Kaisar Augustus, didewakan setelah kematiannya.

BELAKANG
Gambar: Figur perempuan duduk (umumnya diidentifikasi sebagai Livia, ibu Tiberius), berpakaian seperti dewi perdamaian (Pax), memegang cabang zaitun dan tongkat atau tongkat panjang (sceptre).
Tulisan Latin:
PONTIF MAXIM
Kepanjangannya: Pontifex Maximus.
Arti: “Imam Besar Tertinggi.”
→ Ini adalah gelar religius tertinggi di Roma, menunjukkan bahwa Kaisar bukan hanya penguasa politik tetapi juga kepala agama negara.

 

TAFSIRAN AYAT PER AYAT :

1. Latar Peristiwa dan Strategi Lawan Yesus (ayat 15)

Ayat ini mencatat bahwa orang Farisi berunding untuk menjerat Yesus dengan perkataan-Nya.
Kata kerja symboulion elabon (“berunding bersama”) mengindikasikan adanya perencanaan politik yang terkoordinasi, bukan sekadar tanya jawab biasa.
Kistemaker melihat pengiriman “murid-murid Farisi” bersama “Herodian” sebagai taktik cerdik: kelompok muda ini lebih kecil kemungkinan dicurigai Yesus dibanding para pemimpin senior.
Pujian mereka — “Engkau jujur, mengajar jalan Allah dengan benar, dan tidak memandang muka” — diakui Kistemaker sebagai deskripsi yang akurat tentang Yesus, tetapi dipakai secara sinis untuk memanipulasi percakapan
Calvin melihat peristiwa ini sebagai contoh permusuhan yang bersumber dari kebencian terhadap kebenaran. Ia menegaskan bahwa sumbernya adalah kebencian terhadap kebenaran yang lahir dari hati manusia yang telah jatuh. BETAPA BAHAYANYA HATI YANG BUSUK
Matthew Henry: Ini adalah strategi setan, mempersatukan orang yang biasanya bertentangan untuk melawan kebenaran Allah
Latar belakangnya adalah ketegangan antara Yesus dan para pemimpin Yahudi sejak Ia masuk Yerusalem dan menyucikan Bait (Mat. 21:12–13).
Menurut Carson, pertanyaan yang disiapkan adalah “pertanyaan perangkap” (entrapment question), yang dalam konteks Yudea abad pertama bisa memicu konsekuensi politik atau agama yang serius.


2. Kolaborasi Farisi dan Herodian (ayat 16a)

Kombinasi ini sangat tidak lazim secara sosial-politik:
Farisi umumnya anti-Roma dan menolak campur tangan pagan dalam hukum Taurat.
Herodian adalah pendukung politik Herodes Antipas yang pro-Roma.
Kolaborasi mereka menunjukkan bahwa oposisi terhadap Yesus begitu besar sehingga kelompok yang secara ideologis berlawanan rela bersatu

3. Pendekatan dengan Pujian yang Menjebak (ayat 16b)

Ucapan mereka, “Guru, kami tahu bahwa Engkau jujur…” adalah bentuk captatio benevolentiae (mencari penerimaan dengan pujian), teknik retorika untuk menurunkan kewaspadaan lawan.
R.T. France menekankan bahwa meski pernyataan itu benar secara teologis, motivasinya adalah kemunafikan

Istilah alēthēs ei (“Engkau benar/jujur”) menggemakan reputasi Yesus sebagai guru yang tidak memihak kelompok mana pun, sehingga membuat jebakan ini lebih licik.

4. Pertanyaan Perangkap tentang Pajak Kaisar (ayat 17)

Pertanyaan: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” mengacu pada tributum capitis (pajak kepala tahunan yang dikenakan oleh Roma kepada setiap orang dewasa di provinsi jajahan)
Jika Yesus menjawab “boleh”, Ia akan dianggap kolaborator Roma oleh massa Yahudi. Jika Yesus berkata “Ya, bayar pajak”, Ia akan kehilangan dukungan rakyat Yahudi yang membenci pajak Romawi.
Jika menjawab “tidak boleh”, Ia dapat dituduh sebagai penghasut melawan kekuasaan Roma. Jika Ia berkata “Tidak”, Ia dapat diadukan ke pemerintah Romawi sebagai pemberontak.
Keener mencatat bahwa ini adalah lose-lose question yang dirancang agar Yesus terjebak apa pun jawabannya


5. Yesus Mengetahui Kemunafikan Mereka (ayat 18)

Istilah hypokritēs di sini berarti orang yang pura-pura memiliki integritas, tetapi sebenarnya menyembunyikan maksud jahat.

Yesus tidak hanya memahami isi pertanyaan, tetapi juga maksud hati mereka — ini menunjukkan otoritas profetikdan kemampuan ilahi untuk “mengetahui pikiran manusia” (bdk. Yoh. 2:24–25)
Matthew Henry: Kemunafikan adalah dosa yang menyamar di balik topeng kesalehan; Kristus menelanjangi topeng itu
Sproul: Pengetahuan ilahi Yesus membuktikan keilahian-Nya, karena Ia menembus pikiran terdalam manusia

6. Permintaan untuk Melihat Mata Uang (ayat 19–20)

Yesus meminta dēnarion, koin perak Roma yang biasanya bergambar Kaisar Tiberius (memerintah 14–37 M) dengan tulisan Tiberius Caesar Divi Augusti Filius Augustus (“Tiberius Kaisar, anak dewa Augustus”)

Gambar (eikōn) dan tulisan (epigraphē) pada koin tersebut menyoroti dua hal:
Fakta hukum: pajak dibayar dengan mata uang Kaisar.
Konflik religius: gambar Kaisar dianggap berbau penyembahan berhala bagi banyak Yahudi

7. Jawaban Prinsipil: "Berikan kepada Kaisar..." (ayat 21)

Jawaban Yesus memisahkan dua ranah: ranah politik sipil (Kaisar) dan ranah ilahi (Allah).
Kata kerja apodote (“kembalikan, bayar kembali”) menyiratkan kewajiban moral untuk memberikan kepada setiap pihak apa yang menjadi haknya
Teolog Reformed seperti Herman Ridderbos menekankan bahwa ini bukan sekadar kompromi politik, tetapi pengakuan bahwa otoritas sipil adalah bagian dari ketetapan Allah (bdk. Rm. 13:1–7)
Sproul: Inilah dasar teologi Reformed tentang sphere sovereignty artinya bahwa Allah memerintah semua ranah, tetapi memberi mandat khusus pada pemerintah sipil.

Kistemaker menafsirkan jawaban Yesus sebagai prinsip ganda:
“Berikan kepada Kaisar” — mengakui kewajiban sah terhadap pemerintah.
“Berikan kepada Allah” — mengakui kewajiban yang lebih tinggi kepada Tuhan.
Ia menekankan bahwa kewajiban kepada negara tidak boleh mengesampingkan kewajiban kepada Allah, dan kewajiban kepada Allah mencakup seluruh hidup manusia sebagai gambar-Nya

8. Reaksi Lawan: Kagum dan Pergi (ayat 22)

Mereka thaumazō (“tercengang, kagum”) bukan karena setuju, tetapi karena jawaban Yesus mematahkan logika perangkap mereka.

Dalam narasi Matius, respons ini menunjukkan kebijaksanaan kerajaan yang lebih tinggi daripada kecerdikan manusia, sehingga lawan terpaksa mundur

RELEVANSI :


1. MEMBAYAR PAJAK ADALAH WUJUD KETAATAN PADA TUHAN
2. SI TOU TIMOU TUMOU TOU BUKAN SI TOU TIMOU TUMONGKO TOU (Manusia hidup untuk memanusiakan manusia vs manusia hidup untuk menelan menghancurkan manusia). Dalam budaya Minahasa, ular tumotongko ditakuti karena sangat berbahaya bagi manusia
3. YESUS ADALAH ALLAH YANG MAHA TAHU (OMNI SCIENT)
4. JANGAN JADI ORANG MUNAFIK. FILOSOFI KEDONDONG DAN FILOSOFI KEMASAN MIE INSTANT

 

DAFTAR PUSTAKA :

Craig L. Blomberg, Matthew (NAC 22; Nashville: Broadman, 1992)
D.A. Carson, Matthew dalam The Expositor’s Bible Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 2010)
Craig S. Keener, The Gospel of Matthew: A Socio-Rhetorical Commentary (Grand Rapids: Eerdmans, 2009)
R.T. France, The Gospel of Matthew (NICNT; Grand Rapids: Eerdmans, 2007)
Leon Morris, The Gospel According to Matthew (PNTC; Grand Rapids: Eerdmans, 1992)
Herman N. Ridderbos, The Coming of the Kingdom (Phillipsburg: P&R, 1962)
Matthew Henry, Commentary on the Whole Bible, vol. 5 (Peabody: Hendrickson, 1994)
R.C. Sproul, St. Andrew’s Expositional Commentary: Matthew (Orlando: Reformation Trust, 2013)
John Calvin, Commentary on a Harmony of the Evangelists, Matthew, Mark, and Luke, vol. 3, terj. William Pringle (Grand Rapids: Baker, 2003)

Editor : Aprilia Sahari
#MTPJ #GMIM #Renungan GMIM