Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Kisah Para Rasul 3:1-6, Bukan Perak atau Emas, Tapi Yesus yang Menyembuhkan

Deiby Rotinsulu • Selasa, 12 Agustus 2025 | 17:11 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi.

MANADOPOST.ID- Banyak dari kita seperti pengemis lumpuh di depan pintu gerbang Bait Allah: lemah, tidak berdaya, dan hanya berharap pada pertolongan duniawi.

Kita mengira bahwa uang atau bantuan materi akan menyelesaikan masalah kita.

Tapi Tuhan tahu, kebutuhan terdalam kita bukan perak atau emas, melainkan Yesus Pribadi yang bisa memulihkan, menguatkan, dan memberi kehidupan baru.

Petrus dan Yohanes tidak memberi sesuatu yang dunia tawarkan.

Mereka memberi apa yang paling berharga: kuasa dalam nama Yesus.

Nama itu memiliki kuasa untuk mengangkat yang terpuruk, menyembuhkan yang sakit, dan memberi arah bagi hidup yang tersesat.

Yang lebih luar biasa lagi, mujizat ini terjadi di luar gedung Bait Allah.

Artinya, kuasa Tuhan tidak terbatas oleh tempat atau waktu.

Ia bisa menjamah hidup siapa pun, di mana pun, bahkan di luar sistem keagamaan sekalipun asal ada iman dan keterbukaan hati.

*Penjelasan per Ayat*

Ayat 1: "Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah."

Petrus dan Yohanes pergi ke Bait Allah pada waktu doa.

Ini menunjukkan kebiasaan mereka bersekutu dengan Tuhan kekuatan rohani dimulai dari kehidupan doa yang konsisten.

Ayat 2: "Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah."

Seorang pengemis lumpuh sejak lahir duduk di pintu gerbang indah.

Ia mengandalkan belas kasihan manusia dan berharap hanya untuk kebutuhan jasmani, bukan pemulihan hidup sepenuhnya.

Ayat 3-4: "Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah.

4.Mereka menatap dia dan Petrus berkata: "Lihatlah kepada kami."

Saat orang lumpuh itu meminta sedekah, Petrus dan Yohanes menatapnya dan meminta perhatian penuh.

Ini menandakan bahwa sebelum mujizat terjadi, seseorang harus membuka hatinya terlebih dahulu.

Ayat 5: "Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka."
Mereka menatap dia dan Petrus berkata: "Lihatlah kepada kami."

Pengemis itu berharap menerima uang—harapan yang kecil dibandingkan dengan rencana Tuhan yang besar.

Kadang, kita pun hanya berharap "sedikit pertolongan", padahal Tuhan ingin memberi pemulihan total.

Ayat 6: "Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"

Petrus tidak memberi emas atau perak, tetapi memberi Yesus Sumber kuasa dan kesembuhan sejati. Dalam nama Yesus, yang lumpuh disembuhkan dan mulai berjalan.

*Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari*

- Jangan hanya berharap pada bantuan dunia, tetapi percayakan seluruh hidupmu kepada Tuhan yang sanggup memberi lebih dari yang kamu pikirkan.

- Jadilah saluran berkat seperti Petrus dan Yohanes.

Meskipun kamu tidak punya banyak materi, kamu bisa membawa Yesus kepada orang lain melalui kesaksian, doa, dan kasih.

- Berdoalah dengan iman dalam nama Yesus.

Nama-Nya masih punya kuasa sampai hari ini untuk memulihkan keadaan yang lumpuh—baik secara fisik, mental, maupun rohani.

- Berhenti melihat diri sebagai korban.

Tuhan sanggup mengubah hidup yang terpuruk menjadi kehidupan yang berjalan dalam mujizat dan kesaksian.

*Kesimpulan*
Yesus lebih dari cukup bagi hidup kita. Dunia menawarkan emas dan perak, tapi hanya Yesus yang bisa memberi pemulihan sejati.

Kita dipanggil bukan hanya untuk berharap pada bantuan manusia, tapi mengandalkan kuasa Tuhan yang sanggup mengubahkan hidup. Amin (*)

Editor : Gregorius Mokalu
#Kristen #Renungan #kisah para rasul