Ester 9:26-28
“Menghidupi Iman dengan Mengingat Perbuatan Tuhan”
Sahabat muda yang dikasihi Tuhan, setiap bangsa memiliki hari-hari penting yang diperingati untuk mengingat sejarah mereka. Di Indonesia, kita punya 17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan.
Di sekolah, mungkin kita pernah ikut upacara bendera atau lomba untuk mengenang perjuangan para pahlawan. Mengapa hari-hari seperti ini diperingati? Karena manusia mudah lupa. Tanpa mengingat, kita akan kehilangan rasa syukur dan bisa mengulang kesalahan yang sama.
Demikian juga dalam Alkitab, bangsa Israel sering diperintahkan Tuhan untuk mengingat perbuatan-Nya melalui perayaan-perayaan tertentu. Dalam pembacaan kita hari ini, kitab Ester mencatat lahirnya perayaan Purim. Perayaan ini bukan sekadar pesta, tapi sebuah momen iman untuk mengingat bagaimana Tuhan membebaskan umat-Nya dari ancaman pemusnahan.
Latar Belakang Ester 9:26-28
Konteksnya begini: Bangsa Yahudi berada dalam pembuangan di Persia. Haman, seorang pejabat tinggi kerajaan, membenci orang Yahudi dan merencanakan pembantaian massal terhadap mereka. Namun melalui keberanian Ratu Ester dan hikmat Mordekhai, rencana jahat itu dibalikkan Tuhan. Hari yang seharusnya menjadi hari kehancuran, berubah menjadi hari kemenangan.
Mordekhai kemudian menulis surat kepada seluruh orang Yahudi untuk menetapkan hari tersebut sebagai perayaan Purim. Tujuannya jelas: supaya generasi demi generasi mengingat penyelamatan Tuhan, bersyukur, dan tetap setia.
Mengingat Karya Tuhan adalah Tanda Iman yang Hidup
Ester 9:26-28 menekankan bahwa Purim harus diperingati setiap tahun oleh semua orang Yahudi, di mana pun mereka berada. Mengapa harus setiap tahun? Karena manusia cepat sekali lupa akan kebaikan Tuhan.
Sobat muda, kadang kita juga seperti itu. Saat ujian sekolah atau pergumulan hidup, kita berdoa sungguh-sungguh. Ketika Tuhan menolong, kita bersyukur… tapi hanya sebentar. Setelah itu, kita kembali lupa dan bahkan mengeluh saat masalah baru muncul.
Menghidupi iman berarti secara sadar mengingat karya Tuhan. Sama seperti orang Yahudi mengingat Purim, kita juga perlu punya “momen pengingat” iman—entah itu melalui kesaksian pribadi, catatan rohani, atau perayaan bersama.
Ilustrasi: Ada seorang pemuda yang setiap tahun pada tanggal tertentu menulis di buku catatan pribadinya: “Hari ini Tuhan menjawab doa besar dalam hidupku.” Ketika ia merasa lemah, ia membuka catatan itu dan kembali dikuatkan. Demikianlah mengingat karya Tuhan membuat iman tetap menyala.
Perayaan Iman Harus Berdampak Nyata
Perayaan Purim bukan hanya sekadar mengingat, tapi juga berbagi. Ester 9:22 (ayat sebelumnya) menyebutkan bahwa mereka saling mengirim makanan dan memberi kepada orang miskin.
Artinya, mengingat karya Tuhan mendorong kita untuk melakukan kebaikan.
Bagi Sobat muda, iman yang dihidupi bukan hanya soal hadir di ibadah, tapi juga soal menjadi berkat di tengah teman-teman sekolah, kampus, atau komunitas. Perayaan iman sejati membuat kita tidak egois, tapi peduli.
Contoh: Saat ulang tahun, banyak orang merayakan dengan makan-makan bersama teman dekat. Tapi bagaimana kalau kita juga mengundang atau memberi kepada mereka yang jarang mendapat perhatian? Itulah perayaan iman yang berbuah kasih.
Menghidupi Iman adalah Tugas Generasi ke Generasi
Ayat 28 menegaskan bahwa Purim harus diperingati “oleh keturunan mereka dan oleh semua orang yang bergabung dengan mereka.” Artinya, iman bukan cuma untuk diri sendiri, tapi harus diwariskan.
Sobat muda, Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk menikmati hubungan pribadi dengan-Nya, tapi juga menjadi saksi bagi orang lain. Salah satu cara mewariskan iman adalah dengan bercerita—tentang bagaimana Tuhan menolong kita, mengubahkan kita, dan membimbing langkah kita.
Jika kita tidak menceritakan karya Tuhan kepada orang lain, bisa saja generasi berikutnya tumbuh tanpa mengenal kasih Tuhan. Bangsa Israel pernah mengalami hal ini pada zaman Hakim-hakim, ketika generasi baru “tidak mengenal Tuhan dan perbuatan yang dilakukan-Nya” (Hakim-hakim 2:10). Itu terjadi karena mereka gagal mengingat dan mengajarkan kembali karya Tuhan.
Aplikasi untuk Sobat Muda:
• Mulailah mencatat atau membagikan pengalaman iman, sekecil apa pun.
• Jadilah teladan dalam kesetiaan kepada Tuhan, sehingga orang lain terdorong untuk mengenal-Nya.
• Jangan malu berbicara tentang Tuhan di hadapan teman-teman.
Tuhan adalah Sumber Kemenangan Sejati
Perayaan Purim adalah peringatan bahwa kemenangan itu datang dari Tuhan, bukan dari kekuatan manusia semata. Ya, Ester dan Mordekhai berperan besar, tapi tanpa campur tangan Tuhan, semua rencana mereka bisa gagal.
Dalam hidup kita, kadang kita merasa keberhasilan hanya hasil dari usaha sendiri. Padahal, di balik itu semua, ada campur tangan Tuhan yang membuka jalan, memberi hikmat, dan melindungi kita. Menyadari hal ini membuat kita rendah hati dan terus mengandalkan Tuhan.
Refleksi: Apakah selama ini kita lebih sering mengandalkan kekuatan sendiri? Apakah kita sudah mengucap syukur setiap kali berhasil melewati tantangan, atau malah merasa itu murni karena kerja keras kita?
Sobat muda, pesan dari Ester 9:26-28 untuk kita hari ini jelas: jangan pernah lupa akan perbuatan Tuhan. Mengingat karya-Nya bukan sekadar nostalgia, tapi sebuah sikap iman yang menjaga kita tetap setia, mengubah cara kita berbuat baik, dan mendorong kita mewariskan iman kepada generasi berikutnya.
Mari kita seperti bangsa Yahudi yang memelihara Purim—bukan hanya sebagai tradisi, tapi sebagai pengakuan iman bahwa Tuhan setia menolong umat-Nya di setiap zaman.
“Maka perayaan itu harus dijalankan oleh keturunan mereka... supaya jangan hilang di antara orang Yahudi, dan peringatannya jangan hilang di antara keturunan mereka.” (Ester 9:28)
Kiranya kita menjadi generasi muda yang setia mengingat, menghidupi, dan membagikan karya Tuhan di hidup kita.
Doa : Tuhan Yesus yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau selalu mengingat dan memelihara kami, bahkan ketika kami sering lupa pada-Mu. Tolong kami untuk senantiasa mengingat karya-Mu, mengucap syukur, dan membagikan kasih-Mu kepada orang lain. Jadikan hidup kami perayaan iman setiap hari, yang memuliakan nama-Mu dan memberkati sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas