Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Kolose 3:5-17 untuk P/KB, Hidup Baru Dalam Kristus Sebagai Orang-Orang Pilihan Allah Yang Dikuduskan dan Dikasihi-Nya

Clavel Lukas • Sabtu, 6 September 2025 | 10:03 WIB

 

Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Surat Kolose ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia berada dalam penjara di Roma (sekitar tahun 60–62 M).

Jemaat Kolose menghadapi ajaran-ajaran sesat yang mengajarkan bahwa keselamatan harus ditambah dengan ritual-ritual Yahudi, filsafat Yunani, bahkan mistisisme yang menekankan penyembahan malaikat.

Paulus menegaskan bahwa Kristuslah pusat iman, cukup dan sempurna bagi keselamatan.

Karena itu, orang percaya tidak lagi hidup dalam kegelapan dosa, melainkan dalam hidup baru yang dipimpin oleh Kristus.

Tema kita hari ini sangat relevan: Hidup Baru Dalam Kristus Sebagai Orang-Orang Pilihan Allah Yang Dikuduskan dan Dikasihi-Nya.

Paulus mengingatkan jemaat (dan kita semua, terutama bapak-bapak Kristen P/KB GMIM) bahwa status kita sebagai orang percaya bukan hanya sebuah label.

Tetapi panggilan untuk hidup berbeda—hidup kudus, penuh kasih, dan memancarkan terang Kristus di tengah dunia yang rusak oleh dosa.

Baca Juga: Materi Khotbah Kolose 3:5–17, Hidup Baru Dalam Kristus Sebagai Orang-Orang Pilihan Allah Yang Dikuduskan dan Dikasihi-Nya

Baca Juga: Renungan Kolose 3:5–17, Hidup Baru Dalam Kristus Sebagai Orang-Orang Pilihan Allah Yang Dikuduskan dan Dikasihi-Nya

Pembahasan Ayat per Ayat

Ayat 5-7: Mematikan Manusia Lama

“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi...”

Paulus tegas menggunakan kata “matikanlah,” bukan “kurangilah” atau “hindarilah.” Hidup lama—percabulan, hawa nafsu, keserakahan—harus benar-benar dibunuh, tidak diberi ruang hidup. Sebab, dosa-dosa inilah yang mendatangkan murka Allah.

Dunia sekarang penuh godaan—dari pornografi digital, perselingkuhan emosional, korupsi, sampai ambisi duniawi.

Sebagai kepala keluarga, kita dipanggil untuk menjaga kekudusan, menjadi teladan dalam rumah tangga, dan tidak membiarkan dosa menguasai hidup.

Ayat 8-9: Tinggalkan Perilaku Lama

“Buanglah semuanya ini: marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor...”

Paulus melanjutkan dengan menekankan perubahan karakter. Tidak hanya dosa seksual, tetapi juga sikap hati dan perkataan harus diperbarui.

Bapak-bapak Kristen kadang jatuh dalam dosa mulut: kata-kata kasar kepada istri, anak, atau sesama.

Paulus berkata, jangan ada dusta di antara kamu, sebab kita sudah menanggalkan manusia lama.

Ayat 10-11: Mengenakan Manusia Baru

“…dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui...”

Manusia baru ini dibentuk sesuai gambar Sang Pencipta. Hidup baru berarti transformasi terus-menerus.

Hidup baru bukan sekali jadi, tetapi proses seumur hidup. Seorang bapak yang hidup dalam Kristus tidak berhenti bertumbuh.

Di rumah, di pekerjaan, di gereja, ia terus diperbarui menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Ayat 12-14: Hidup dalam Kasih

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran...”

Inilah pakaian manusia baru. Paulus menekankan bahwa identitas kita adalah orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya.

Identitas ini melahirkan karakter kasih. Dan kasih adalah “pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”

Dunia sering mengukur keberhasilan dari harta, jabatan, atau pengaruh. Tapi firman Tuhan mengingatkan: yang utama bukan berapa besar kekuasaan kita, tetapi seberapa dalam kita mengasihi.

Seorang suami yang penuh kasih akan dihormati istrinya. Seorang ayah yang penuh kasih akan diingat anak-anaknya seumur hidup.

Ayat 15-17: Hidup dalam Damai dan Ucapan Syukur

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu...”

Hidup baru ditandai dengan damai sejahtera, firman Kristus yang tinggal dalam hati, dan ucapan syukur. Setiap perkataan dan perbuatan harus dilakukan dalam nama Tuhan Yesus.

Bapak-bapak Kristen harus menjadi agen damai sejahtera. Dalam masyarakat yang penuh konflik, intoleransi, dan perpecahan, kita harus menghadirkan damai Kristus.

Dalam rumah tangga, dalam pekerjaan, bahkan di politik atau pelayanan gereja, kita dipanggil untuk menjadi orang yang membawa syalom Allah.

Penutup

Bapak-bapak yang terkasih dalam Tuhan, tema kita hari ini “Hidup Baru Dalam Kristus Sebagai Orang-Orang Pilihan Allah Yang Dikuduskan dan Dikasihi-Nya” adalah panggilan nyata bagi kita semua.

Paulus ingin menegaskan bahwa identitas kita sebagai umat Allah harus tercermin dalam cara hidup sehari-hari.

Mari kita perhatikan beberapa poin penting sebagai ajakan firman ini:

  1. Matikan manusia lama. Jangan kompromi dengan dosa. Hidup baru dimulai dengan berani berkata tegas: “Tidak!” kepada segala bentuk dosa yang menjerat.

  2. Kenakan manusia baru. Pakaian hidup baru adalah kasih, kerendahan hati, kesabaran, dan kelemahlembutan. Inilah tanda nyata orang pilihan Allah.

  3. Hiduplah dalam kasih. Kasih bukan teori, tetapi tindakan nyata dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan masyarakat.

  4. Hiduplah dalam damai Kristus. Jadilah bapak-bapak yang membawa damai, bukan konflik. Biarlah rumah tangga, jemaat, dan lingkungan kita merasakan damai Kristus melalui hidup kita.

  5. Jadikan Kristus pusat hidup. Apa pun yang kita lakukan—dalam pekerjaan, pelayanan, bahkan perkataan sehari-hari—lakukanlah dalam nama Yesus dan dengan ucapan syukur.

Sebagai P/KB GMIM, kita dipanggil bukan hanya untuk menjadi pemimpin keluarga, tetapi juga menjadi teladan iman di tengah masyarakat.

Dunia membutuhkan lebih banyak bapak-bapak yang hidup dalam Kristus: jujur dalam pekerjaan, setia dalam keluarga, rendah hati dalam pelayanan, dan teguh dalam iman.

Mari kita tutup dengan keyakinan: Hidup baru dalam Kristus adalah anugerah, tetapi juga tanggung jawab. Allah sudah memilih kita, menguduskan kita, dan mengasihi kita.

Maka marilah kita menjawab kasih itu dengan hidup yang kudus, penuh kasih, dan memuliakan Allah dalam segala hal.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
#PKB GMIM #khotbah #P/KB #GMIM #Renungan GMIM #Renungan