Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Mazmur 145:1–21 untuk W/KI, Biarlah Segala Makhluk Memuji Nama-Nya Yang Kudus

Clavel Lukas • Sabtu, 20 September 2025 | 10:02 WIB

 

Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Mazmur 145 adalah sebuah mazmur pujian dari Daud. Mazmur ini termasuk dalam kategori tehillah (pujian).

Bahkan menjadi satu-satunya mazmur yang dalam judulnya langsung disebut sebagai “Mazmur Pujian Daud.”

Mazmur ini juga bersifat abjadiah (akrostik), yang berarti setiap ayat dimulai dengan huruf berurutan dari abjad Ibrani.

Hal ini melambangkan bahwa pujian kepada Tuhan haruslah menyeluruh, dari A sampai Z, dari awal sampai akhir kehidupan.

Dalam konteks sejarahnya, umat Israel seringkali mengalami situasi penuh penderitaan, pembuangan, atau peperangan.

Namun Daud menegaskan bahwa sekalipun dalam kondisi tersulit, Allah tetap layak dipuji karena kasih setia-Nya tidak berubah.

Bagi kita saat ini, Mazmur ini mengingatkan bahwa panggilan orang percaya bukan hanya bersyukur saat berkelimpahan, melainkan tetap memuji Tuhan dalam setiap keadaan.

Tema “Biarlah Segala Makhluk Memuji Nama-Nya Yang Kudus” menegaskan bahwa pujian kepada Allah tidak terbatas pada individu atau komunitas tertentu.

Tetapi seluruh ciptaan — manusia, alam semesta, dan bahkan makhluk surgawi — dipanggil untuk memuliakan Dia.

Pujian ini bukan hanya ritual liturgi, melainkan sikap hidup: mengakui keagungan Allah, mengalami kasih-Nya, dan menyaksikan kebesaran-Nya dalam kehidupan nyata.

Baca Juga: Materi Khotbah Mazmur 145:1–21, Biarlah Segala Makhluk Memuji Nama-Nya Yang Kudus

Baca Juga: Renungan Mazmur 145:1–21, Biarlah Segala Makhluk Memuji Nama-Nya yang Kudus

Pembahasan Ayat per Ayat

  1. Ayat 1-2 – Daud membuka mazmur dengan komitmen pribadi: “Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.”

    Pujian dimulai dari keputusan pribadi. Sebagai perempuan Kristen, W/KI dipanggil untuk menjadikan pujian bukan sekadar kegiatan ibadah, tetapi gaya hidup sehari-hari: dalam bekerja, mengurus rumah tangga, mendidik anak, atau terlibat dalam pelayanan.

  2. Ayat 3-6 – Tuhan dipuji karena kebesaran-Nya yang tak terukur. Generasi ke generasi mewartakan karya-Nya.

    Ini mengingatkan bahwa iman perlu diwariskan. Kaum ibu dan wanita berperan penting mendidik anak-anak serta cucu dalam pengenalan akan Allah melalui teladan hidup dan kesetiaan berdoa.

    Pujian bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan memperkenalkan Allah kepada generasi berikutnya.

  3. Ayat 7-9 – Ditekankan sifat Allah yang penuh kasih dan rahmat. Tuhan panjang sabar, besar kasih setia-Nya.

    Di dunia modern yang penuh tekanan, banyak orang kehilangan kesabaran. Tetapi firman ini menegaskan bahwa Allah berbeda dengan manusia:

    Ia murah hati dan dekat bagi mereka yang berseru kepada-Nya. Perempuan Kristen dipanggil meneladani kasih Allah dalam kelembutan, kesabaran, dan pelayanan di tengah keluarga dan jemaat.

  4. Ayat 10-13 – Semua makhluk akan memuji nama Tuhan dan menyebut kerajaan-Nya yang kekal.

    Mazmur ini menegaskan bahwa kerajaan Allah bersifat universal dan abadi. Dunia berubah, zaman berganti, tetapi kerajaan Allah tidak tergoncangkan.

    Sebagai W/KI GMIM, kita dipanggil hidup dalam perspektif kekekalan, tidak terjebak hanya pada hal-hal duniawi, tetapi mengutamakan nilai-nilai rohani.

  5. Ayat 14-16 – Tuhan menopang semua yang jatuh dan memberi makan pada waktunya.

    Allah bukan hanya Raja yang jauh, tetapi juga Bapa yang peduli pada kebutuhan umat-Nya.

    Ini menghibur bagi banyak ibu atau perempuan yang sering bergumul dengan persoalan ekonomi, kesehatan, atau relasi.

    Mazmur ini memberi jaminan: Allah tahu kebutuhan kita dan akan mencukupkan.

  6. Ayat 17-20 – Semua jalan Tuhan adil, Ia dekat dengan orang yang berseru dengan tulus, dan melindungi mereka yang mengasihi-Nya.

    Hal ini mengajarkan bahwa relasi dengan Allah adalah relasi kasih. Tuhan ingin dekat dengan umat-Nya, bukan hanya saat kita kuat, tetapi juga ketika kita lemah.

    Pujian kita lahir dari pengalaman nyata akan kesetiaan dan perlindungan Allah.

  7. Ayat 21 – Penutup mazmur ini bersifat universal: “Mulutku akan mengucapkan puji-pujian kepada TUHAN, dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus, untuk seterusnya dan selamanya.”

    Inilah klimaks: panggilan kosmik bagi seluruh ciptaan untuk memuji Tuhan. Bukan hanya umat Israel, bukan hanya orang percaya, tetapi segala makhluk.

 

Penutup Renungan

Saudara-saudara W/KI GMIM yang terkasih dalam Tuhan,

Tema hari ini “Biarlah Segala Makhluk Memuji Nama-Nya Yang Kudus” menegaskan bahwa hidup orang percaya adalah hidup yang berpusat pada Allah.

Pujian bukan hanya aktivitas liturgis di gereja, melainkan seluruh gaya hidup kita.

Ada beberapa implikasi penting dari firman ini:

  1. Pujian dimulai dari keputusan pribadi. Seperti Daud, mari kita berkomitmen untuk memuji Allah setiap hari, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

  2. Pujian adalah warisan iman. Tugas kita sebagai wanita dan ibu adalah memperkenalkan Allah kepada generasi berikutnya melalui teladan kasih dan doa.

  3. Pujian meneladani kasih Allah. Ketika kita murah hati, sabar, dan peduli pada sesama, kita sedang memuji Allah dengan hidup kita.

  4. Pujian melampaui batas waktu dan ruang. Segala makhluk dipanggil memuji Allah, artinya seluruh ciptaan berada di bawah kedaulatan-Nya.

Karena itu, mari sebagai W/KI GMIM, kita mempersembahkan hidup kita sebagai nyanyian pujian:

di rumah tangga, di jemaat, di masyarakat, bahkan dalam dunia pekerjaan.

Jangan biarkan pujian hanya berhenti di bibir, tetapi nyatakan dalam tindakan nyata — melayani keluarga, menolong sesama, menjaga lingkungan, dan menghidupi kasih Kristus.

Kiranya kita menjadi saksi nyata bahwa Allah layak dipuji. Dan pada akhirnya, bersama seluruh ciptaan, kita akan bersatu dalam satu suara: “Segala makhluk, pujilah nama Tuhan yang kudus, untuk seterusnya dan selamanya!”

Amin

Editor : Clavel Lukas
#khotbah #GMIM #W/KI #Renungan GMIM #Renungan