Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk umat Katolik, Kamis 23 Oktober 2025 Bacaan I Roma 6:19-23, Bacaan Injil Lukas 12:49-53

Fandy Gerungan • Selasa, 21 Oktober 2025 | 09:46 WIB
Photo
Photo

Hari Minggu Biasa ke XXIX (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Roma 6:19-23

Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.

Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.

Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian.

Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 1:1-2,3,4,6

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bacaan Injil Lukas 12:49-53

"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!

Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!

Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.

Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.

Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, bacaan hari ini membawa kita pada dua realitas yang sangat kuat: kemerdekaan dari dosa dan api Kristus yang membakar dunia. Dua hal ini tampak berbeda, namun sebenarnya sangat berkaitan.

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Santo Paulus menulis dengan kejujuran yang menyentuh hati yaitu "Sama seperti kamu dahulu menyerahkan tubuhmu menjadi hamba dosa, sekarang serahkanlah tubuhmu menjadi hamba kebenaran.”

Paulus mengajak kita untuk merenungkan kepemilikan diri kita yang sejati. Siapa yang sebenarnya “menguasai” hidup kita?. Apakah dosa, ataukah Allah?.
Ketika kita membiarkan diri diperbudak oleh dosa entah itu kesombongan, hawa nafsu, iri hati, atau dendam kita merasa seolah bebas.

Tapi Paulus menyingkapkan kebenaran yang pahit: kebebasan semu itu berakhir pada kematian rohani. Namun ketika kita memilih menjadi hamba kebenaran, sesuatu yang luar biasa terjadi. Allah tidak memperbudak kita, Ia menguduskan kita.

Menjadi hamba Allah berarti hidup dalam kebebasan sejati bebas dari belenggu dosa, bebas untuk mencintai, bebas untuk hidup dalam terang Kristus. Dan buah dari kebebasan itu bukanlah kematian, melainkan hidup yang kekal.

Lalu Injil hari ini (Luk 12:49-53) seolah menghadirkan wajah Yesus yang lain bukan Yesus yang lembut dan penuh damai, melainkan Yesus yang berkata:
“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi, dan betapakah Aku harapkan api itu telah menyala!”

Api yang dimaksud Yesus bukanlah api kehancuran, melainkan api Roh Kudus, api kasih yang menguduskan, api yang membakar segala dosa dan kepalsuan dalam diri kita. Namun, api itu juga membawa pertentangan karena kebenaran selalu menimbulkan reaksi.

Ketika seseorang sungguh mengikuti Kristus, ia akan mengalami konflik: dengan dunia, dengan nilai-nilai yang salah, bahkan terkadang dengan orang-orang terdekatnya. Iman yang sejati tidak pernah netral. Ia menuntut pilihan yang jelas: antara terang dan gelap, antara kebenaran dan kompromi.

Maka hari ini, Yesus seolah bertanya kepada kita: “Apakah engkau siap untuk membiarkan api-Ku menyala dalam hidupmu?”. Api itu akan membakar ego kita, menghanguskan dosa kita, dan menyalakan cinta yang murni kepada Allah.

Kadang itu menyakitkan. Tapi seperti emas yang dimurnikan dalam api, demikian juga jiwa kita dimurnikan oleh kasih Kristus.

Menjadi murid Yesus berarti siap terbakar oleh cinta-Nya, siap berpisah dari hal-hal yang gelap, dan siap berdiri teguh di pihak kebenaran meski itu membuat kita berbeda.

Saudara-saudari terkasih, Paulus berkata: “Upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus.” Kristus datang untuk membakar dosa, bukan manusia. Ia datang untuk menyalakan hidup, bukan memadamkannya.

Maka marilah kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus, agar api kasih-Nya membakar segala yang tidak murni dalam diri kita, dan menuntun kita menuju pengudusan yang sejati menuju hidup kekal bersama Dia. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan