Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Jumat 31 Oktober 2025 Bacaan I Roma 9:1-5, Bacaan Injil Lukas 14:1-6

Fandy Gerungan • Rabu, 29 Oktober 2025 | 14:34 WIB
Photo
Photo

Minggu Biasa Ke XXX (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Roma 9:1-5

Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus,

bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati.

Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.

Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji.

Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 147:12-13,14-15,19-20

Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion!

Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu.

Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik.

Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari.

Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel.

Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal. Haleluya!

Bacaan Injil Lukas 14:1-6

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya.

Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: "Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?"

Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi.

Kemudian Ia berkata kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?"

Mereka tidak sanggup membantah-Nya.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali berhadapan dengan pilihan antara menaati aturan atau menuruti hati nurani. Bacaan hari ini mengajak kita merenungkan tentang kasih yang melampaui batas-batas formalitas dan hukum manusia, sebagaimana dicontohkan oleh Santo Paulus dan Yesus sendiri.

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menyingkapkan isi hatinya yang terdalam: betapa besar kasih dan kepeduliannya terhadap bangsanya. Ia rela menanggung penderitaan demi keselamatan mereka.

Ia tahu bahwa kasih sejati tidak berhenti pada perasaan simpati, tetapi terwujud dalam kerelaan untuk berkorban. Inilah bentuk kasih yang tidak egois kasih yang memantulkan kasih Kristus sendiri, yang rela menyerahkan diri demi keselamatan umat manusia.

Sementara dalam Injil, Yesus menunjukkan kasih yang sama kuatnya, namun dengan cara yang sangat konkret. Di hadapan para ahli Taurat dan orang Farisi, Ia menyembuhkan seorang yang sakit busung air pada hari Sabat.

Tindakan ini bukanlah bentuk pelanggaran hukum, melainkan pengungkapan makna terdalam dari hukum itu sendiri bahwa hukum Allah sejati bertujuan untuk memulihkan, menyembuhkan, dan menghidupkan. Yesus menegaskan bahwa kasih tidak pernah bisa dibatasi oleh hari, aturan, atau ritual.

Dari kedua bacaan ini kita diajak untuk bertanya: seberapa dalam kasih kita kepada sesama?. Apakah kita lebih sering terjebak dalam formalitas melakukan yang “benar” di mata orang lain namun lupa untuk melakukan yang baik di mata Allah?.

Kasih sejati tidak menunggu waktu yang tepat atau kondisi yang ideal. Ia bertindak karena digerakkan oleh belas kasih, seperti Yesus yang tidak tahan melihat penderitaan orang lain dibiarkan begitu saja.

Mazmur hari ini meneguhkan bahwa Allah selalu memberi kesejahteraan kepada umat-Nya. Namun kesejahteraan itu bukan hanya berupa kelimpahan materi, melainkan juga kedamaian hati yang timbul ketika kita hidup dalam kasih dan ketaatan sejati.

Maka, marilah kita belajar dari kasih Paulus yang berani berkorban, dan dari belas kasih Yesus yang tak mengenal batas. Dalam setiap keputusan, baik kecil maupun besar, semoga kita menempatkan kasih sebagai hukum tertinggi karena di sanalah Allah sendiri hadir dan dimuliakan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan