MANADOPOST.ID--Rapat BPMS GMIM pada 27 Oktober 2025 yang menyatakan terjadi kelowongan, disikapi sekira 50 peserta Sidang Majelis Sinode Tahunan (SMST).
Dengan penuh kasih, mereka menyambangi Kantor Sinode Senin 3 November, dan Pdt Antonius Dan Sompe menyerahkan narasi tertulis kepada BPMS GMIM yang diterima Pdt Evert Tangel, Pdt Yani Rende, Pdt Adolf Wenas, Pnt Recky Montong, Pnt Yudi Robot, Pdt Christian Luwuk, dan Dkn Meytha Wala.
Informasi dihimpun, pasca Rapat BPMS 27 Oktober yang menelorkan adanya Pjs Ketua BPMS, sejumlah Hamba Tuhan berkumpul, berdoa dan menggumulinya di GMIM Riedel Wawalintouan.
Kemudian, mereka mempercayakan Pdt Dan Sompe membuat narasi tertulis hasil tinjauan eklesiologi dan Tata Gereja GMIM 2021.
Lalu dimasukkan ke BPMS GMIM untuk dikaji dan dipelajari. “Kita semua sama-sama cinta GMIM. Dan kami peduli serta menggumuli hasil rapat BPMS tersebut. Bagaimanapun, ini hak konstitusional kami sebagai peserta sidang.”
Usai menyerahkan narasi, Pdt Dan Sompe dkk langsung meninggalkan kantor sinode.
“Silahkan BPMS GMIM membahasnya. Jangan terburu-buru. Dan boleh undang kami untuk mendengarkan respon terhadap narasi ini. Kalaupun tidak ada tanggapan dari BPMS, tidak apa-apa,” kata mereka sembari menyebut tidak lama lagi Sidang Tahunan 27, 28, dan 29 November digelar. “Kita berdoa semoga semuanya selesai di Sidang Tahunan.”
Di sisi lain, banyak anggota jemaat mempertanyakan urgensi memberhentikan Plt Ketua dan menetapkan Pjs Ketua. Padahal roda organisasi GMIM tetap berjalan baik, bahkan telah melewati momen penting seperti Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen, serta GMIM Bersinode.
“BPMS blunder. Lagi tidak masalah, kenapa bikin masalah? Akhirnya melahirkan pro kontra di jemaat. Rapat BPMS 27 November itu sangat prematur,” sesal sejumlah warga jemaat.(*)
Editor : Clavel Lukas