Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Senin 10 November 2025, Bacaan I Kebijaksanaan Salomo 1:1-7, Bacaan Injil Lukas 17:1-6

Fandy Gerungan • Kamis, 6 November 2025 | 15:22 WIB
Photo
Photo

Peringatan Wajib St. Leo Agung (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Kebijaksanaan Salomo 1:1-7

Kasihilah kebenaran, hai para penguasa dunia, hendaklah pikiranmu tertuju kepada Tuhan dengan tulus ikhlas, dan carilah Dia dengan tulus hati!

Ia membiarkan diri-Nya ditemukan oleh yang tidak mencobai-Nya, dan menampakkan diri kepada semua yang tidak menaruh syak wasangka terhadap-Nya.

Pikiran bengkang-bengkung menjauhkan dari pada Allah, dan kekuasaan-Nya yang diuji mengenyahkan orang bodoh.

Sebab kebijaksanaan tidak masuk ke dalam hati keruh, dan tidak pula tinggal dalam tubuh yang dikuasai oleh dosa.

Roh pendidik yang suci menghindarkan tipu daya, dan pikiran pandir dijauhinya.

Sebab kebijaksanaan adalah roh yang sayang akan manusia, tetapi orang penghujat tidak dibiarkannya terluput dari hukuman karena ucapan bibirnya. Memang Allah menyaksikan hati sanubarinya, benar-benar mengawasi isi hatinya dan mendengarkan ucapan lidahnya.

Sebab roh Tuhan memenuhi dunia semesta, dan Ia yang merangkum segala-galanya mengetahui apapun yang disuarakan.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 139:1-3,4-6,7-8,9-10

Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;

Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.

Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.

Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.

Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.

Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?

Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.

Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,

juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

Bacaan Injil Lukas 17:1-6

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.

Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.

Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.

Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia."

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"

Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Hidup kita sering kali diwarnai oleh berbagai bentuk kepura-puraan entah dalam perkataan, tindakan, bahkan dalam cara kita mencari Tuhan. Bacaan hari ini mengingatkan bahwa kebijaksanaan dan kebenaran tidak bisa berdiam di hati yang keruh. Hanya hati yang tulus, jujur, dan terbuka yang mampu menjadi tempat kediaman Tuhan.

Sering kali kita berpikir bahwa menjadi orang beriman berarti mengetahui banyak hal tentang agama. Padahal, iman sejati bukan sekadar soal pengetahuan, tetapi soal ketulusan hati. Tuhan tidak bersembunyi dari manusia justru Dialah yang selalu ingin ditemukan.

Namun, Dia hanya menampakkan diri kepada mereka yang mencari-Nya tanpa tipu daya, tanpa niat tersembunyi, tanpa kemunafikan.

Kebijaksanaan sejati lahir dari hati yang bersih. Ketika hati kita dipenuhi ambisi, iri hati, atau kepentingan pribadi, kebijaksanaan akan menjauh. Roh Kudus tidak bisa bekerja di dalam hati yang penuh dengan kepalsuan. Karena itu, menjaga kejernihan hati bukanlah hal kecil itu adalah kunci agar kita tetap dekat dengan Allah.

Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang penyesatan dan pengampunan. Ia tahu bahwa dalam hidup bersama, kita akan saling melukai, kadang tanpa sengaja. Namun, yang lebih penting dari kesalahan itu adalah bagaimana kita menanggapinya.

Jika seseorang bersalah, kita dipanggil untuk menegur dengan kasih, bukan dengan kebencian. Dan jika ia menyesal, kita harus mengampuninya bahkan jika itu terjadi berkali-kali.

Mengampuni tidak mudah, apalagi bila luka masih terasa. Tapi di sinilah Yesus menunjukkan bahwa iman sejati bukan hanya tentang percaya pada mujizat besar, melainkan tentang kesetiaan melakukan hal kecil dengan kasih. Mengampuni adalah wujud iman yang nyata.

Ketika para murid merasa ajaran itu terlalu berat, mereka memohon agar iman mereka ditambah. Namun Yesus menunjukkan bahwa yang dibutuhkan bukanlah iman yang besar, melainkan iman yang murni seperti biji sesawi, kecil tapi hidup. Iman yang sederhana namun tulus bisa menggerakkan hal-hal yang tampaknya mustahil.

Tuhan tidak menuntut kita menjadi sempurna dalam sekejap. Ia hanya meminta kita untuk berproses dengan hati jujur dan iman yang sungguh-sungguh. Iman yang tulus akan memampukan kita menegur dengan kasih, mengampuni tanpa batas, dan tetap menjaga hati agar tidak keruh oleh kebencian atau keangkuhan.

Hari ini, marilah kita memeriksa hati kita masing-masing.
Apakah kita mencari Tuhan dengan kesederhanaan hati?.
Apakah kita menjaga pikiran agar tetap jernih dari prasangka dan kepura-puraan?. Dan apakah kita berani mengampuni, bahkan ketika hati masih terluka?

Tuhan tidak menuntut iman yang besar, hanya hati yang jernih dan tulus. Dari sanalah kebijaksanaan mengalir, dan dari sanalah kehidupan rohani kita tumbuh. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan