Minggu Biasa Ke XXXIII (Warna Liturgi Hijau)
Bacaan I Maleakhi 4:1-2a
Bagimu akan terbit surya kebenaran.
Sungguh, hari Tuhan akan datang, menyala seperti perapian! Maka semua orang yang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik akan menjadi seperti jerami, dan akan terbakar oleh hari yang datang itu,” firman Tuhan semesta alam; “akar dan cabang mereka pun tidak akan ditinggalkan. Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya.”
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 98:5-6.7-8.9a
Refrain: Tuhan datang untuk mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran
Bermazmurlah bagi Tuhan dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu merdu; dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-sorailah di hadapan Raja, yakni Tuhan!
Biarlah gemuruh laut dan segala isinya, dunia dan semua yang diam di dalamnya! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gemunung bersorak-sorai bersama-sama.
Biarlah mereka bersorak-sorai di hadapan Tuhan, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran.
Bacaan II 2 Tesalonika 3:7-12
Barangsiapa tidak mau bekerja, janganlah ia makan.
Saudara-saudara, kamu sendiri tahu bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu. Kami tidak makan rezeki orang dengan cuma-cuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu.
Bukan karena kami tidak berhak menerima rezeki dari kamu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. Sebab ketika berada di tengah-tengahmu, kami telah memperingatkan, Barangsiapa tidak mau bekerja, janganlah ia makan!’ Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.
Orang-orang yang demikian kami peringatkan dan kami nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan dari hasil jerih payahnya sendiri.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur Kepada Allah.
Bait Pengantar Injil: Lukas 21:28
Refrain: Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya 2X
Bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.
Bacaan Injil Lukas 21:5-19
Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.
Sekali peristiwa, ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Akan datang harinya segala yang kamu lihat di situ diruntuhkan, dan tidak akan ada satu batu pun dibiarkan terletak di atas batu yang lain.”
Lalu murid-murid bertanya kepada Yesus, “Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab Yesus, “Waspadalah, jangan sampai kamu disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata ‘Akulah Dia’ atau ‘Saatnya sudah dekat’.
Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan bila kamu mendengar tentang perang dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”
Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan terjadi gempa bumi yang dahsyat, dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan. Dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.
Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya. Karena nama-Ku kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat, dimasukkan ke dalam penjara, dan dihadapkan kepada raja-raja dan para penguasa.
Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetap teguhlah di dalam hatimu, jangan kamu memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Aku sendirilah yang akan memberi kamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.
Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluarga dan sahabat-sahabatmu, dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh; karena nama-Ku kamu akan dibenci semua orang. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Saudara/i kadang hidup terasa seperti berada di dalam tungku api. Kita melihat dunia di sekitar yang semakin panas bukan karena suhu, tapi karena tekanan hidup yang datang bertubi-tubi.
Ada masalah ekonomi, pekerjaan yang tidak kunjung stabil, relasi yang penuh gesekan, bahkan iman yang mulai goyah karena terlalu sering diuji. Dalam keadaan seperti itu, kita bisa saja bertanya-tanya, Sampai kapan, Tuhan?
Namun, bacaan hari ini mengajak kita untuk melihat api itu dengan cara yang berbeda. Nabi Maleakhi menggambarkan hari Tuha seperti perapian yang menyala membakar segala yang jahat, tetapi pada saat yang sama membawa kesembuhan bagi mereka yang setia.
Artinya, api Tuhan bukan hanya menghukum, melainkan juga memurnikan. Sama seperti emas dibakar supaya menjadi murni, demikian pula hidup kita diproses supaya semakin bercahaya di hadapan-Nya.
Kadang, ketika Tuhan memanaskan hidup kita, itu bukan tanda Ia marah, melainkan tanda Ia sedang bekerja. Ia sedang menumbuhkan sesuatu yang baru iman yang lebih kuat, hati yang lebih sabar, kasih yang lebih murni.
Dan di ujung segala penderitaan itu, akan terbit surya kebenaran, yaitu terang Kristus yang menyembuhkan luka-luka kita.
Lalu, dalam bacaan kedua, Rasul Paulus menegaskan hal yang sangat praktis: iman yang sejati tidak hanya diucapkan, tetapi dikerjakan. Ia menegur mereka yang malas dan hanya sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Hidup beriman bukanlah alasan untuk berpangku tangan dan menunggu mujizat, tetapi panggilan untuk berkeringat dalam kasih.
Tuhan menghendaki kita bekerja dengan sungguh-sungguh, bukan hanya untuk rezeki jasmani, tetapi juga demi pertumbuhan rohani. Bekerja adalah bentuk partisipasi dalam karya Allah yang menciptakan dan memelihara dunia ini.
Lalu Yesus dalam Injil memberi peringatan yang keras tetapi penuh kasih: dunia ini tidak abadi. Bahkan bangunan yang megah seperti Bait Allah pun bisa runtuh. Akan ada perang, bencana, dan penganiayaan. Namun, di tengah semua itu, Yesus tidak meminta kita panik, tetapi bertahan.
Ia menjanjikan satu hal yang pasti: Tidak sehelai pun rambutmu akan hilang. Itu bukan berarti hidup akan mudah, tetapi bahwa dalam setiap kesulitan, Tuhan hadir menjaga kita dengan setia. Ketekunan adalah kunci untuk bertahan di tengah badai dunia ini.
Menariknya, Yesus tidak berkata bahwa kesulitan adalah penghalang, melainkan kesempatan untuk bersaksi. Saat kita tetap setia di tengah penderitaan, orang lain akan melihat cahaya Kristus yang bersinar melalui hidup kita. Mungkin kita tidak menyadarinya, tetapi kesabaran dan iman kita bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang yang sedang kehilangan harapan.
Maka hari ini, mari kita merenung:
Apakah aku sedang membiarkan api hidup membakar habis semangatku, atau justru memurnikan imanku?.
Apakah aku hidup dengan rajin dan tekun, atau hanya menunggu tanpa berbuat apa-apa?.
Apakah aku tetap bertahan dalam kesetiaan kepada Tuhan, meski dunia di sekeliling terasa runtuh?.
Tuhan tidak menjanjikan jalan yang mudah, tetapi Ia menjanjikan penyertaan yang pasti. Dan bagi mereka yang bertahan, akan terbit surya kebenaran terang kasih Tuhan yang menyembuhkan dan memberi hidup baru. (*)
Editor : Fandy Gerungan