Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik Hari Senin 17 November 2025, 1 Makabe 1:10-15,41-43,54-57,62-64, Bacaan Injil Lukas 18:35-43

Fandy Gerungan • Kamis, 13 November 2025 | 14:07 WIB
Photo
Photo

Peringatan Wajib St. Elisabet dari Hungaria (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Makabe 1:10-15,41-43,54-57,62-64

Dari pada mereka itulah terbit sebuah tunas yang berdosa, yaitu Antiokhus Epifanes putera raja Antiokhus. Ia telah menjadi sandera di Roma. Antiokhus Epifanes menjadi raja dalam tahun seratus tiga puluh tujuh di zaman pemerintahan Yunani.

Di masa itu tampil dari Israel beberapa orang jahat yang meyakinkan banyak orang dengan berkata: "Marilah kita pergi dan mengadakan perjanjian dengan bangsa-bangsa di keliling kita. Sebab sejak kita menyendiri maka kita ditimpa banyak malapetaka."

Usulnya itu diterima baik.

Maka beberapa orang dari kalangan rakyat bersedia untuk menghadap raja. Mereka diberi hak oleh raja untuk menuruti adat istiadat bangsa-bangsa lain.

Kemudian orang-orang itu membangun di Yerusalem sebuah gelanggang olah raga menurut adat bangsa-bangsa lain.

Merekapun memulihkan kulup mereka pula dan murtadlah mereka dari perjanjian kudus. Mereka bergabung dengan bangsa-bangsa lain dan menjual dirinya untuk berbuat jahat.

Rajapun menulis juga sepucuk surat perintah untuk seluruh kerajaan, bahwasanya semua orang harus menjadi satu bangsa.

Masing-masing harus melepaskan adatnya sendiri. Maka semua bangsa menyesuaikan diri dengan titah raja itu.

Juga dari Israel ada banyak orang yang menyetujui pemujaan raja. Dipersembahkan oleh mereka korban kepada berhala dan hari Sabat dicemarkan.

Pada tanggal lima belas bulan Kislew dalam tahun seratus empat puluh lima maka raja menegakkan kekejian yang membinasakan di atas mezbah korban bakaran. Dan mereka mendirikan juga perkorbanan di segala kota di seluruh Yehuda.

Pada pintu-pintu rumah dan di lapangan-lapangan dibakar korban.

Kitab-kitab Taurat yang ditemukan disobek-sobek dan dibakar habis.

Jika pada salah seorang terdapat Kitab Perjanjian atau jika seseorang berpaut pada hukum Taurat maka dihukum mati oleh pengadilan raja.

Namun demikian ada banyak orang Israel yang menetapkan hatinya dan memasang tekad untuk tidak makan apa yang haram.

Lebih sukalah mereka mati dari pada menodai dirinya dengan makanan semacam itu dan begitu mencemarkan perjanjian kudus. Dan sesungguhnya mereka mati juga.

Kemurkaan yang hebat sekali menimpa Israel.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 119:53,61,134,150,155,158

Aku menjadi gusar terhadap orang-orang fasik, yang meninggalkan Taurat-Mu.

Tali-tali orang-orang fasik membelit aku, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan.

Bebaskanlah aku dari pada pemerasan manusia, supaya aku berpegang pada titah-titah-Mu.

Mendekat orang-orang yang mengejar aku dengan maksud jahat, mereka menjauh dari Taurat-Mu.

Keselamatan menjauh dari orang-orang fasik, sebab ketetapan-ketetapan-M tidaklah mereka cari.

Melihat pengkhianat-pengkhianat, aku merasa jemu, karena mereka tidak berpegang pada janji-Mu.

Bacaan Injil Lukas 18:35-43

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis.

Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?"

Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat."

Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"

Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"

Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya:

"Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!"

Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!"

Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada pilihan antara kesetiaan dan kenyamanan. Bacaan pertama hari ini menggambarkan bagaimana sebagian umat Israel tergoda untuk meninggalkan iman mereka demi berbaur dengan kebiasaan bangsa lain.

Mereka berpikir bahwa mengikuti arus zaman akan membawa kedamaian dan kemudahan. Namun kenyataannya, keputusan itu justru menjauhkan mereka dari Tuhan dan menciptakan kekacauan dalam jiwa.

Hal yang sama bisa terjadi pada kita hari ini. Dunia modern menawarkan begitu banyak hal yang tampak menarik gaya hidup, pemikiran, dan nilai-nilai yang sering kali bertentangan dengan iman kita. Tidak jarang, kita pun tergoda untuk menyesuaikan diri, agar diterima oleh lingkungan atau agar hidup terasa lebih mudah.

Kita mulai menoleransi dosa kecil, mengabaikan doa, bahkan menomorduakan Tuhan demi urusan dunia. Tanpa sadar, kita pun menjadi “buta rohani”, kehilangan kepekaan terhadap kebenaran dan kasih Allah.

Namun bacaan Injil hari ini membawa secercah harapan. Ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan, hidupnya gelap, terpinggirkan, dan tidak dianggap. Tetapi ia memiliki satu hal yang luar biasa: iman dan keberanian untuk berseru kepada Yesus.

Meskipun orang lain berusaha membungkamnya, ia tetap memanggil dengan segenap hati. Seruannya lahir dari kerinduan yang mendalam untuk melihat terang bukan hanya secara fisik, tetapi juga rohani.

Dan Yesus pun berhenti. Ia menoleh kepada suara iman itu. Dalam kasih-Nya, Yesus memulihkan bukan hanya penglihatan mata, tetapi juga penglihatan hati.

Sahabat terkasih, dunia di sekitar kita mungkin sedang diliputi kegelapan seperti pada zaman Makabe ketika banyak orang meninggalkan iman demi kenyamanan. Namun kisah orang buta di Yerikho mengingatkan kita: Tuhan masih berjalan di tengah dunia ini, siap berhenti bagi siapa pun yang berseru dengan iman.

Maka, di tengah arus dunia yang menyesatkan, kita diajak untuk tidak membiarkan diri menjadi buta rohani. Jangan biarkan hati kita padam oleh kompromi dan kebiasaan dosa. Seperti orang buta itu, kita pun perlu berani berseru, "Tuhan, aku ingin melihat!” melihat kembali kasih-Nya, kebenaran-Nya, dan jalan yang Ia tunjukkan.

Iman yang sejati bukanlah tentang berjalan tanpa kesulitan, melainkan tentang tetap melihat terang Tuhan meski dunia di sekitar tampak gelap.
Dan ketika mata hati kita terbuka, kita pun dapat mengikuti-Nya sambil memuliakan Allah seperti orang buta yang disembuhkan itu, yang hidupnya berubah menjadi kesaksian bagi banyak orang. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan