Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik Hari Kamis 20 November 2025, Bacaan I 1 Makabe 2:15-29, Bacaan Injil Lukas 19:41-44

Fandy Gerungan • Jumat, 14 November 2025 | 15:04 WIB
Photo
Photo

Minggu Biasa Ke XXXIII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Makabe 2:15-29

Kemudian para pegawai raja yang bertugas memaksa orang-orang Yahudi murtad datang ke kota Modein untuk menuntut pengorbanan.

Banyak orang Israel datang kepada mereka. Adapun Matatias serta anak-anaknya berhimpun pula.

Pegawai raja itu angkat bicara dan berkata kepada Matatias: "Saudara adalah seorang pemimpin, orang terhormat dan pembesar di kota ini dan lagi didukung oleh anak-anak serta kaum kerabat saudara.

Baiklah saudara sekarang juga maju ke depan sebagai orang pertama untuk memenuhi penetapan raja, sebagaimana telah dilakukan semua bangsa, bahkan orang-orang Yehuda dan mereka yang masih tertinggal di Yerusalem. Kalau demikian, niscaya saudara serta anak-anak saudara termasuk ke dalam kalangan sahabat-sahabat raja dan akan dihormati dengan perak, emas dan banyak hadiah!"

Tetapi Matatias menjawab dengan suara lantang: "Kalaupun segala bangsa di lingkungan wilayah raja mematuhi seri baginda dan masing-masing murtad dari ibadah nenek moyangnya serta menyesuaikan diri dengan perintah-perintah seri baginda,

namun aku serta anak-anak dan kaum kerabatku terus hendak hidup menurut perjanjian nenek moyang kami.

Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan.

Titah raja itu tidak dapat kami taati dan kami tidak dapat menyimpang dari ibadah kami baik ke kanan maupun ke kiri!"

Matatias belum lagi selesai mengucapkan perkataan tadi maka seorang Yahudi sudah tampil ke muka di depan umum untuk mempersembahkan korban di atas perkorbanan di kota Modein menurut penetapan raja.

Melihat itu Matatias naik darah dan gentarlah hatinya serta meluap-luaplah geramnya yang tepat. Disergapnya orang Yahudi itu dan digoroknya di dekat perkorbanan itu.

Petugas raja yang memaksakan korban itu dibunuhnya pula pada saat itu juga. Kemudian perkorbanan itu dirobohkannya.

Serupalah kerajinannya untuk hukum Taurat itu dengan apa yang telah dilakukan dahulu oleh Pinehas kepada Zimri bin Salom.

Lalu berteriaklah Matatias dengan suara lantang di kota Modein: "Siapa saja yang rindu memegang hukum Taurat dan berpaut pada perjanjian hendaknya ia mengikuti aku!"

Kemudian Matatias serta anak-anaknya melarikan diri ke pegunungan. Segala harta miliknya di kota ditinggalkannya.

Kemudian turunlah ke padang gurun banyak orang yang mencari kebenaran dan keadilan.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i kisah seorang ibu dan tujuh anaknya dalam bacaan pertama selalu menyentuh hati setiap kali dibaca. Di hadapan kuasa dunia yang kejam, keluarga ini tetap teguh memegang iman mereka. Ibu itu, yang secara manusia pasti hancur melihat anak-anaknya satu per satu dibunuh, justru tampil sebagai figur yang paling kuat.

Ia menaruh seluruh harapannya pada Tuhan, bukan pada keselamatan yang ditawarkan dunia. Keberaniannya lahir bukan dari ketegasan pribadi semata, tetapi dari keyakinan mendalam bahwa hidup berasal dari Tuhan dan hanya kepada-Nya segalanya kembali.

Menariknya, cobaan yang mereka hadapi tidak jauh berbeda dari apa yang kita alami, meski dalam bentuk yang lebih halus. Dunia terus menawarkan kenyamanan, kompromi, dan jalan pintas agar kita melepaskan nilai dan iman.

Ada banyak kesempatan ketika kita digoda untuk meninggalkan apa yang benar demi keuntungan cepat. Tetapi keteguhan ibu dan anak-anaknya menunjukkan bahwa iman sejati tidak bisa dibeli oleh janji jabatan, harta, atau keselamatan fisik. Iman sejati bertahan bahkan ketika dunia menekan dari segala sisi.

Bacaan Injil kemudian mengantar kita pada pengajaran Yesus tentang kesetiaan melalui perumpamaan para hamba yang menerima mina. Raja dalam perumpamaan itu mempercayakan sesuatu yang kecil untuk melihat kesungguhan hati para hambanya.

Yang mempergunakan pemberiannya dengan baik, menerima kepercayaan yang lebih besar. Sementara yang menyimpannya karena takut dan tidak berbuat apa-apa justru kehilangan semuanya.

Dalam dua bacaan ini, tersingkap satu pesan besar: Tuhan memperhatikan cara kita mengelola iman dan hidup yang dipercayakan kepada kita. Iman bukan hanya sesuatu yang dijaga, melainkan sesuatu yang harus dihidupi dan diolah hingga menghasilkan buah.

Iman yang disimpan tanpa dijalankan perlahan akan mati. Sebaliknya, iman yang dipraktikkan, meski dalam hal-hal kecil, akan membuat kita semakin teguh dan semakin dekat dengan Tuhan.

Dari keluarga Makabe, kita belajar keberanian untuk tetap setia dalam tekanan. Dari perumpamaan Yesus, kita belajar tanggung jawab untuk mengelola karunia Tuhan dalam hidup kita. Keduanya mengarah pada satu kenyataan: kesetiaan adalah bukti cinta kita kepada Tuhan.

Hari ini, kita diajak bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita memegang teguh iman hanya ketika nyaman?. Atau kita mau tetap setia ketika situasi menantang?.

Apakah kita menggunakan talenta, waktu, kesempatan, dan hidup yang Tuhan titipkan untuk menghasilkan buah?. Atau kita justru menyimpannya karena takut, malas, atau merasa kecil?.

Tuhan tidak meminta kita melakukan hal-hal besar sekaligus. Ia hanya meminta kita setia dalam setiap langkah kecil. Dan seperti ibu Makabe yang memandang pada kehidupan kekal, kita pun diundang melihat lebih jauh dari sekadar kenyamanan dunia ini.

Semoga hari ini kita menerima rahmat keberanian untuk setia, dan rahmat kesungguhan untuk mengelola hidup sesuai kehendak Tuhan. Karena pada akhirnya, hanya kesetiaan yang akan menjadi dasar perjumpaan kita dengan-Nya. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan