Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Jumat 21 November 2025, Bacaan I 1 Makabe 4:36-37,52-59, Bacaan Injil Lukas 19:45-48

Fandy Gerungan • Senin, 17 November 2025 | 14:17 WIB
Photo
Photo

Peringatan Wajib SP Maria Dipersembahkan kepada Allah (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I 1 Makabe 4:36-37,52-59

Adapun Yudas serta saudara-saudaranya berkata: "Musuh kita sudah hancur. Baiklah kita pergi mentahirkan Bait Allah dan mentahbiskannya kembali."

Setelah bala tentara dihimpun seluruhnya maka berangkatlah mereka ke gunung Sion.

Pagi-pagi benar pada tanggal dua puluh lima bulan kesembilan, yaitu bulan Kislew, dalam tahun seratus empat puluh delapan bangunlah mereka semua

untuk mempersembahkan korban sesuai dengan hukum Taurat di atas mezbah korban bakaran baru yang telah dibuat mereka.

Tepat pada jam dan tanggal yang sama seperti dahulu waktu orang-orang asing mencemarkannya mezbah itu ditahbiskan dengan kidung yang diiringi dengan gambus, kecapi dan canang.

Maka meniaraplah segenap rakyat dan sujud menyembah serta melambungkan lagu pujian ke Sorga, kepada Yang memberikan hasil baik kepada mereka.

Delapan hari lamanya perayaan pentahbisan mezbah itu dilangsungkan. Dengan sukacita dipersembahkanlah korban bakaran, korban keselamatan dan korban pujian.

Bagian depan Bait Allah dihiasi dengan karangan-karangan keemasan dan utar-utar. Pintu-pintu gerbang dan semua balai diperbaharui dan pintu-pintu dipasang padanya.

Segenap rakyat diliputi sukacita yang sangat besar. Sebab penghinaan yang didatangkan orang-orang asing itu sudah terhapus.

Yudas serta saudara-saudaranya dan segenap jemaah Israel menetapkan sebagai berikut: Perayaan pentahbisan mezbah itu tiap-tiap tahun harus dilangsungkan dengan sukacita dan kegembiraan delapan hari lamanya tepat pada waktunya, mulai tanggal dua puluh lima bulan Kislew.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan 1 Tawarikh 29:10,11abc,11d-12a,12bcd

Lalu Daud memuji TUHAN di depan mata segenap jemaah itu. Berkatalah Daud: "Terpujilah Engkau, ya TUHAN, Allahnya bapa kami Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.

Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.

Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.

Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.

Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.

Bacaan Injil Lukas 19:45-48

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,

kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."

Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia,

tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada satu pola yang selalu muncul dalam sejarah keselamatan: Tuhan terus bekerja membangkitkan kembali apa yang telah dirusakkan manusia. Dalam kisah Yudas Makabe dan saudara-saudaranya, kita melihat momen ketika rumah Tuhan yang pernah dicemarkan akhirnya dipulihkan.

Setelah perjuangan panjang, mereka kembali ke Bait Allah, membersihkannya, menata ulang apa yang rusak, dan merayakan kembali kesuciannya dengan sukacita besar. Seluruh bangsa larut dalam kegembiraan karena apa yang tercemar kini kembali murni.

Menariknya, Injil hari ini menggema dengan nada yang sama. Ketika Yesus masuk ke Bait Allah dan menemukan tempat yang seharusnya menjadi ruang doa berubah fungsi menjadi pasar yang kacau dan penuh kepentingan, Ia bertindak tegas.

Bukan karena Ia anti perdagangan, tetapi karena Ia tahu betul bahwa rumah Tuhan adalah ruang perjumpaan, bukan tempat transaksi. Ia ingin memulihkan kembali makna terdalam dari Bait Allah: ruang untuk berbicara dengan Bapa, ruang bagi jiwa untuk bernapas.

Kalau kita tarik ini ke kehidupan kita, rasanya sangat relevan. Hati kita pun sering seperti Bait Allah. Kadang bersih, kadang berantakan. Kadang penuh doa, kadang penuh distraksi hidup ambisi, kekhawatiran, konflik, atau hal-hal kecil yang tanpa kita sadari merusak ruang batin kita.

Ada saat ketika kita sadar: "wah, ini sudah jauh dari yang Tuhan mau."
Dan di saat-saat seperti itulah, bacaan hari ini bicara lembut tapi jelas: pemulihan itu selalu mungkin. Bahkan Tuhan sendiri datang untuk membersihkannya.

Yudas dan bangsanya membersihkan Bait Allah secara fisik. Yesus membersihkan Bait Allah secara rohani. Kini, giliran kita membuka hati agar Tuhan membersihkan ruang batin kita dari segala yang membuat kita jauh dari-Nya.

Mungkin itu kebiasaan buruk. Mungkin itu kemarahan yang dipelihara.
Mungkin itu kecanduan perhatian orang lain. Atau mungkin cuma rasa letih yang membuat hati kita dingin.

Apa pun itu, Tuhan ingin masuk bukan untuk menghakimi, tapi untuk memulihkan, seperti yang Ia lakukan di Bait Allah. Dan pemulihan itu nggak harus dramatis.

Bisa dimulai dari langkah kecil: satu doa sederhana, satu momen hening, satu keputusan untuk berhenti membawa racun tertentu ke dalam hidup. Pelan-pelan, hati kita bisa ditahbiskan kembali menjadi tempat Doa, bukan tempat hiruk-pikuk.

Akhirnya, bacaan ini mengingatkan kita bahwa sukacita yang sejati muncul ketika ruang terdalam hidup kita kembali pada tujuan aslinya: menjadi tempat di mana Allah tinggal.

Semoga hari ini kita berani membuka pintu hati kita, membiarkan Tuhan membersihkan, menata ulang, dan merayakan lagi kehadiran-Nya di dalam diri kita. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan