Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Senin 24 November 2025, Bacaan I Wahyu 14:1-3.4b-5, Bacaan Injil Lukas 21:1-4

Fandy Gerungan • Kamis, 20 November 2025 | 10:53 WIB
Photo
Photo

Warna Liturgi Hijau

Bacaan I Wahyu 14:1-3.4b-5

Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.

Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya.

Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorangpun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu.

Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.

Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 24:1-2.3-4ab.5-6

Mazmur Daud. Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.

Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.

"Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"

"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.

Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.

Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub."

Bacaan Injil Lukas 21:1-4

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.

Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.

Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.

Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam penglihatan yang digambarkan dalam Kitab Wahyu, ada gambaran begitu kuat tentang sekelompok orang yang berdiri dekat dengan Anak Domba orang-orang yang hidupnya ditandai oleh ketulusan, kesetiaan, dan hati yang murni.

Mereka bukan sekadar “kaum pilihan” yang tampak hebat di mata dunia, tetapi orang-orang yang memilih untuk mengikuti Tuhan dengan sederhana dan setia, apa pun yang terjadi.

Hidup mereka menjadi seperti nyanyian baru, sebuah melodi yang tidak bisa ditiru oleh siapa pun, karena itu lahir dari perjalanan pribadi yang penuh kejujuran di hadapan Allah.

Lalu Injil hari ini menghadirkan sosok yang sangat kontras dengan keramaian para peziarah kaya: seorang janda sederhana, yang nyaris tidak dilihat oleh siapa pun. Tidak ada sorotan, tidak ada tepuk tangan, tidak ada pengakuan. Namun justru persembahannya yang sangat kecil itulah yang membuat Yesus tergerak.

Mengapa?. Karena Tuhan selalu melihat bukan seberapa besar yang kita berikan, tetapi seberapa besar hati yang terlibat di dalamnya.

Orang-orang kaya memberi dari sisa kelimpahan mereka. Tidak salah. Namun janda itu memberi dari kekurangan, bahkan dengan risiko membuat hidupnya lebih sulit. Itu bukan sekadar tindakan memberi itu adalah tindakan mempercayai Tuhan sepenuhnya.

Di sinilah kedua bacaan bertemu: hati yang murni adalah hati yang memberi tanpa perhitungan; hati yang setia adalah hati yang mengikuti Tuhan ke mana pun Ia memimpin, sekalipun langkah itu terasa berat atau kecil.

Kadang kita berpikir hidup kita terlalu sederhana untuk berarti bagi Tuhan. Kita merasa tidak punya banyak talenta, waktu, atau kemampuan. Tapi hari ini Tuhan menegur pola pikir itu: yang Ia cari bukan “kebesaran,” tetapi kejujuran dan kerelaan.

Nyanyian baru yang hanya bisa dinyanyikan oleh orang-orang murni itu tidak lahir dari kehebatan, tetapi dari kesetiaan yang dibangun tiap hari:Kesetiaan untuk tetap jujur ketika mudah sekali untuk berdusta. Kesetiaan untuk tetap murah hati meski kita sendiri sedang kekurangan. Kesetiaan untuk tetap mengasihi ketika hati sedang lelah.

Itulah yang membuat hidup kita menjadi persembahan yang indah. Mungkin kita tidak punya banyak “dua peser” itu secara harfiah, tapi setiap hari kita punya kesempatan untuk memberi sebagian dari diri kita.

Sedikit kesabaran, sedikit perhatian, sedikit pengampunan, sedikit waktu. Dan ketika itu dilakukan dengan tulus, Tuhan melihatnya sama berharganya seperti persembahan janda itu.

Semoga hari ini kita belajar memberi bukan dari kelimpahan, tetapi dari hati yang percaya penuh. Dan semoga hidup kita pelan-pelan berubah menjadi “nyanyian baru” yang hanya bisa dinyanyikan oleh orang-orang yang berjalan bersama Tuhan dengan setia. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan