Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 25 November 2025, Bacaan I Daniel 2:31-45, Bacaan Injil Lukas 21:5-11

Fandy Gerungan • Jumat, 21 November 2025 | 09:00 WIB
Photo
Photo

Pekan Biasa ke-XXXIV (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Daniel 2:31-45

Ya raja, tuanku melihat suatu penglihatan, yakni sebuah patung yang amat besar! Patung ini tinggi, berkilau-kilauan luar biasa, tegak di hadapan tuanku, dan tampak mendahsyatkan. Adapun patung itu, kepalanya dari emas tua, dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, sedang pahanya dari besi dengan kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat.

Sementara tuanku melihatnya, terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia, lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk.

Maka dengan sekaligus diremukkannyalah juga besi, tanah liat, tembaga, perak dan emas itu, dan semuanya menjadi seperti sekam di tempat pengirikan pada musim panas, lalu angin menghembuskannya, sehingga tidak ada bekas-bekasnya yang ditemukan. Tetapi batu yang menimpa patung itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.

Itulah mimpi tuanku, dan sekarang maknanya akan kami katakan kepada tuanku raja. Ya tuanku raja, raja segala raja, yang kepadanya oleh Allah semesta langit telah diberikan kerajaan, kekuasaan, kekuatan dan kemuliaan, dan yang ke dalam tangannya telah diserahkan-Nya anak-anak manusia, di manapun mereka berada, binatang-binatang di padang dan burung-burung di udara, dan yang dibuat-Nya menjadi kuasa atas semuanya itu?. Tuankulah kepala yang dari emas itu.

Tetapi sesudah tuanku akan muncul suatu kerajaan lain, yang kurang besar dari kerajaan tuanku; kemudian suatu kerajaan lagi, yakni yang ketiga, dari tembaga, yang akan berkuasa atas seluruh bumi.

Sesudah itu akan ada suatu kerajaan yang keempat, yang keras seperti besi, tepat seperti besi yang meremukkan dan menghancurkan segala sesuatu; dan seperti besi yang menghancurluluhkan, maka kerajaan ini akan meremukkan dan menghancurluluhkan semuanya.

Dan seperti tuanku lihat kaki dan jari-jarinya sebagian dari tanah liat tukang periuk dan sebagian lagi dari besi, itu berarti, bahwa kerajaan itu terbagi; memang kerajaan itu juga keras seperti besi, sesuai dengan yang tuanku lihat besi itu bercampur dengan tanah liat.

Tetapi sebagaimana jari-jari kaki itu sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat, demikianlah kerajaan itu akan menjadi keras sebagian dan rapuh sebagian.

Seperti tuanku lihat besi bercampur dengan tanah liat, itu berarti: mereka akan bercampur oleh perkawinan, tetapi tidak akan merupakan satu kesatuan, seperti besi tidak dapat bercampur dengan tanah liat.

Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya,

tepat seperti yang tuanku lihat, bahwa tanpa perbuatan tangan manusia sebuah batu terungkit lepas dari gunung dan meremukkan besi, tembaga, tanah liat, perak dan emas itu. Allah yang maha besar telah memberitahukan kepada tuanku raja apa yang akan terjadi di kemudian hari; mimpi itu adalah benar dan maknanya dapat dipercayai.”

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

MT Dan. 3:57-61

Pujilah Tuhan, hai segala buatan Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.

Pujilah Tuhan, hai segala malaikat Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segenap langit, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.

Pujilah Tuhan, hai segala air di atas langit, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala tentara Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.

Bacaan Injil Lukas 21:5-11

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus:

“Apa yang kamu lihat di situ?. Akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?”

Jawab-Nya: “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka.

Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka: “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Saudara/i ada satu pola yang sering muncul dalam hidup manusia: kita mudah terpesona oleh hal-hal besar, kuat, kokoh, dan memukau. Raja-raja besar, bangunan megah, kuasa yang memikat, sistem yang tampak tak tergoyahkan semuanya memberi ilusi bahwa dunia ini bisa menawarkan kestabilan yang permanen.

Bacaan dari Kitab Daniel menghadirkan sebuah gambaran yang sangat kontras: sebuah patung raksasa, dibangun dengan bahan paling kuat dan paling berharga. Tampak tak terkalahkan.

Tetapi ternyata fondasinya rapuh sebagian besi, sebagian tanah liat. Dan cukup satu batu kecil, yang bahkan tidak dibuat oleh tangan manusia, untuk meruntuhkannya sampai tak tersisa.

Kadang hidup kita mirip patung itu. Kita menyandarkan rasa aman pada hal-hal duniawi: pekerjaan, harta, relasi, status, atau pencapaian. Kelihatan kokoh, tapi sebenarnya mudah runtuh. Krisis kecil saja bisa membuat semuanya goyah.

Injil hari ini juga bicara hal serupa. Saat para murid terkagum-kagum melihat bangunan suci dengan segala kemegahannya, Yesus justru mengingatkan bahwa satu hari nanti semua itu akan runtuh. Sebagus apa pun karya manusia, semuanya punya masa. Tak ada yang abadi.

Kalau kita tarik benang merah kedua bacaan ini, pesannya jelas. Hanya yang berasal dari Allah yang sungguh bertahan. Yang lain, sekuat apa pun, hanya sementara.

Kerajaan yang Tuhan bangun kerajaan damai, kebenaran, keadilan, dan kasih tidak berdiri di atas tanah liat. Tidak dibangun dengan kekuatan manusia. Tidak ditopang oleh ambisi dunia. Karenanya, kerajaan itu tidak bisa runtuh.

Nah, bagaimana dengan kita?. Tantangannya bukan soal memahami nubuat atau menghafal tanda-tanda akhir zaman. Tantangannya adalah, Di atas apa kita membangun hidup ini?.

Kalau fondasinya adalah hal-hal fana, kita akan cepat retak ketika dunia berguncang. Tapi kalau fondasinya adalah Tuhan kebenaran-Nya, firman-Nya, kasih-Nya maka sekalipun badai datang, kita tetap berdiri.

Hari ini Tuhan mengajak kita untuk tidak takut melihat perubahan zaman, kekacauan dunia, peperangan, penyakit, atau kegaduhan sosial. Itu semua adalah bagian dari sejarah manusia.

Yang penting bukan seberapa menakutkan dunia ini terlihat, tetapi seberapa dalam kita percaya bahwa Tuhan memegang kendali.

Mari kita bangun hidup di atas Dia yang menjadi “batu” itu kekuatan yang tidak dibuat tangan manusia mana pun, tetapi datang dari Allah sendiri.
Di tengah dunia yang rapuh, hanya Dia yang tak tergoyahkan.
Dan bersama Dia, hati kita pun bisa menemukan damai yang tidak bisa diruntuhkan oleh apa pun. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan