Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Rabu 26 November 2025, Bacaan I Daniel 5:1-6,13-14,16-17,23-28, Bacaan Injil Lukas 21:12-19

Fandy Gerungan • Jumat, 21 November 2025 | 09:00 WIB
Photo
Photo

Pekan Biasa ke-XXXIV (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Daniel 5:1-6,13-14,16-17,23-28

Raja Belsyazar mengadakan perjamuan yang besar untuk para pembesarnya, seribu orang jumlahnya; dan di hadapan seribu orang itu ia minum-minum anggur.

Dalam kemabukan anggur, Belsyazar menitahkan orang membawa perkakas dari emas dan perak yang telah diambil oleh Nebukadnezar, ayahnya, dari dalam Bait Suci di Yerusalem, supaya raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu.

Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu; mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu.

Pada waktu itu juga tampaklah jari-jari tangan manusia menulis pada kapur dinding istana raja, di depan kaki dian, dan raja melihat punggung tangan yang sedang menulis itu. Lalu raja menjadi pucat, dan pikiran-pikirannya menggelisahkan dia; sendi-sendi pangkal pahanya menjadi lemas dan lututnya berantukan.

Lalu dibawalah Daniel menghadap raja. Bertanyalah raja kepada Daniel: “Engkaukah Daniel itu, salah seorang buangan yang telah diangkut oleh raja, ayahku, dari tanah Yehuda?

Telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau penuh dengan roh para dewa, dan bahwa padamu terdapat kecerahan, akal budi dan hikmat yang luar biasa. Tetapi telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau dapat memberikan makna dan dapat menguraikan kekusutan. Oleh sebab itu, jika engkau dapat membaca tulisan itu dan dapat memberitahukan maknanya kepadaku, maka kepadamu akan dikenakan pakaian dari kain ungu dan pada lehermu akan dikalungkan rantai emas, dan dalam kerajaan ini engkau akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga.”

Kemudian Daniel menjawab raja: “Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain! Namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku.

Tuanku meninggikan diri terhadap Yang Berkuasa di sorga: perkakas dari Bait-Nya dibawa orang kepada tuanku, lalu tuanku serta para pembesar tuanku, para isteri dan para gundik tuanku telah minum anggur dari perkakas itu; tuanku telah memuji-muji dewa-dewa dari perak dan emas, dari tembaga, besi, kayu dan batu, yang tidak dapat melihat atau mendengar atau mengetahui, dan tidak tuanku muliakan Allah, yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku.

Sebab itu Ia menyuruh punggung tangan itu dan dituliskanlah tulisan ini. Maka inilah tulisan yang tertulis itu: Mene, mene, tekel ufarsin. Dan inilah makna perkataan itu: Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan; Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia.”

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

MT Dan. 3:62-67

Pujilah Tuhan, hai matahari dan bulan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala bintang di langit, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.

Pujilah Tuhan, hai segala hujan dan embun, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala angin, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.

Pujilah Tuhan, hai api dan panas terik, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai kedinginan dan pembekuan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.

Bacaan Injil Lukas 21:12-19

Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku.

Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu.

Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.

Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Saudara/i ada sebuah ironi besar dalam kisah Raja Belsyazar. Di tengah pesta megah, di mana anggur mengalir dan para pembesar menikmati kemewahan, tiba-tiba dunia sang raja runtuh hanya karena sebuah tulisan kecil di dinding.

Tanpa suara, tanpa guntur, tanpa gempa hanya tulisan misterius yang membuat seorang penguasa begitu berkuasa menjadi pucat dan gemetar.

Mengapa sampai segenting itu?. Karena tulisan itu menyentuh kenyataan yang paling ditakuti manusia: hidup kita tidak pernah berada sepenuhnya dalam kendali kita. Ada Pribadi yang menimbang, menilai, dan memeriksa isi hati kita, bukan tampilan luar atau kejayaan yang kita bangun.

Belsyazar jatuh bukan karena kekurangan kekuasaan, tetapi karena ia kehilangan hormat kepada Allah. Ia mengambil sesuatu yang kudus dan memperlakukan­nya secara sembarangan. Ia memuliakan benda-benda mati, tetapi melupakan Sumber Kehidupan. Dan ketika Tuhan “menimbangnya”, ternyata ia terlalu ringan.

Bahaya yang sama ada di hidup kita. Kita bisa begitu sibuk membangun kenyamanan, nama baik, pencapaian, atau status, sampai lupa menimbang ulang isi hati sendiri. Kita bisa kelihatan hebat di luar, tapi kosong di dalam. Kita bisa merasa berkuasa, tapi rapuh ketika diuji.

Di pihak lain, Injil hari ini mengingatkan tentang situasi yang jauh berbeda: bukan pesta megah, tetapi masa-masa sulit. Bukan kemewahan, tetapi tekanan. Bukan pujian manusia, tetapi penganiayaan karena setia kepada Tuhan.

Uniknya, Yesus tidak menjanjikan jalan yang mulus. Ia justru mengatakan bahwa kesetiaan sering membawa kita pada ujian. Tetapi di tengah itu semua, ada sebuah janji yang sangat indah.

Kita tidak akan pernah dibiarkan sendirian. Bahkan kata-kata yang kita butuhkan untuk bertahan akan diberikan saat itu juga. Bukan berasal dari kecerdasan kita, tetapi dari penyertaan-Nya.

Jika bacaan pertama menunjukkan bahwa kesombongan meruntuhkan seseorang, Injil menunjukkan kebalikannya: keteguhan dan kerendahan hati membuat seseorang tetap berdiri ketika dunia mengguncangnya.

Hidup ini pada akhirnya memang akan “ditimbang”. Ada saat ketika Tuhan melihat bukan seberapa gemerlap hidup kita, tetapi seberapa tulus kita menyembah-Nya, seberapa jujur kita hidup, dan seberapa setia kita bertahan dalam tekanan.

Hari ini kita diajak untuk memeriksa diri: Apakah hidupku terlalu bergantung pada hal-hal lahiriah?. Apakah aku lebih sibuk memoles citra daripada membangun hati?. Apakah aku berani tetap teguh ketika kesulitan datang?.

Tuhan tidak mencari kesempurnaan, tetapi hati yang jujur. Tidak mencari kemegahan, tetapi kesetiaan. Tidak mencari pesta, tetapi kerendahan hati.

Dan ketika kita hidup dengan cara itu, kita tidak akan ditemukan terlalu ringan. Kita akan ditemukan sebagai pribadi yang kuat, teguh, dan layak menerima kehidupan sejati yang dijanjikan-Nya. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan