Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Kamis 27 November 2025, Bacaan I Daniel 6:12-28, Bacaan Injil Lukas 21:20-28

Fandy Gerungan • Senin, 24 November 2025 | 14:56 WIB
Photo
Photo

Pekan Biasa XXXIV (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Daniel 6:12-28

Allah telah mengutus malaikat-Nya dan mengatupkan mulut singa-singa.

KEMUDIAN mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: “Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?”

Jawab raja: “Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.” Lalu kata mereka kepada raja: “Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya.”

Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya.

Lalu bergegas-gegaslah orang-orang itu menghadap raja serta berkata kepadanya: “Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah!”

Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: “Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!”

Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa.

Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur. Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa; dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu.

Berkatalah ia kepada Daniel: “Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?” Lalu kata Daniel kepada raja: “Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan.”

Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya.

Raja memberi perintah, lalu diambillah orang-orang yang telah menuduh Daniel dan mereka dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka.

Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi, bunyinya: “Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu!

Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir.

Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa.” Dan Daniel ini mempunyai kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius dan pada zaman pemerintahan Koresh, orang Persia itu.

Mazmur Tanggapan Daniel 3:68-74;

Refren : Pujilah dan luhurkanlah Dia selama-lamanya.

Pujilah Tuhan, hai embun dan salju membadai.

Pujilah Tuhan, hai es dan udara dingin,

Pujilah Tuhan, hai embun beku dan salju,

Pujilah Tuhan, hai siang dan malam,

Pujilah Tuhan, hai cahaya dan kegelapan,

Pujilah Tuhan, hai halilintar dan awan kemawan,

Biarlah bumi memuji Tuhan,

Bacaan Injil Lukas 21:20-28

Yerusalem akan diinjak-injak oleh para bangsa asing sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.

“APABILA kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis.

Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.

Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada satu hal yang selalu membuat hati kita tenang setiap kali membaca kisah Daniel: kesetiaannya yang tidak goyah. Ia tahu ada aturan baru yang mengancam hidupnya, ia tahu orang-orang menunggu ia jatuh, tapi ia tetap melakukan apa yang selama ini menjadi napas hidupnya berdoa.

Daniel tidak sedang mencari masalah, ia hanya setia. Dan dari kesetiaan itulah ia akhirnya masuk ke gua singa.

Menariknya, kisah ini tidak menampilkan seorang pahlawan yang kabur dari masalah. Justru Daniel masuk ke dalam bahaya, tetapi ia tidak sendirian di sana.

Allah hadir, bukan dengan menghilangkan gua atau membinasakan singa, melainkan dengan menutup mulut singa-singa itu. Allah bekerja di tengah ancaman, bukan selalu dengan memindahkan masalah, tetapi menjaga kita supaya tidak dilukai olehnya.

Kadang hidup kita mirip gua singa, tekanan dari pekerjaan, kecemburuan orang lain, fitnah, atau kesulitan yang datang bertubi-tubi. Kita merasa seperti digiring ke tempat yang gelap dan menakutkan.

Tapi bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa gua itu bukan akhir. Justru di tempat yang paling gelap itu, Allah menunjukkan siapa Dia sebenarnya: Pelindung, Penyelamat, dan Sahabat paling setia.

Kisah Daniel juga menyentuh sisi lain: hati raja Darius yang gelisah. Ia peduli pada Daniel, tapi ia terjebak oleh hukum yang dibuatnya sendiri. Sepanjang malam ia tidak nyaman, tidak makan, tidak tidur. Baru ketika fajar tiba ia berlari ke gua singa dengan harapan terakhir.

Dan di sana ia melihat suatu kebenaran Allah benar-benar bekerja. Dari pengalaman itu, ia pun menyerukan bahwa hanya Allah yang layak ditakuti dan dihormati, karena kuasa-Nya tidak dapat dibatasi siapa pun.

Dalam Injil, Yesus berbicara tentang masa-masa sulit yang akan datang—kekacauan, ketakutan, dan tanda-tanda yang mengguncang dunia. Gambaran yang sama menegangkan, sama menakutkannya seperti gua singa bagi Daniel.

Tetapi pesan akhirnya jelas: ketika semua itu mulai terjadi, kita tidak diminta untuk bersembunyi atau ciut, melainkan bangkit dan mengangkat wajah. Mengapa? Karena saat itu justru keselamatan kita semakin dekat.

Daniel selamat karena kesetiaannya. Yerusalem pun akan lewat masa sulitnya, tetapi keselamatan tetap menjadi janji akhir. Dan bagi kita hari ini, pesan yang sama berlaku: kesetiaan kita meski sederhana, meski tak terlihat tidak pernah sia-sia.

Allah tidak selalu menghentikan badai, tapi Ia bisa membuat kita tetap utuh di tengah gelombang. Ia tidak selalu menyingkirkan singa, tapi Ia bisa menutup mulutnya. Ia tidak selalu menghalangi masa sulit, tapi Ia selalu memegang tangan kita melewatinya.

Mungkin saat ini kamu sedang berada di “gua” versi hidupmu. Ingatlah: malaikat Tuhan tahu jalan masuknya. Dan Tuhan yang menjaga Daniel adalah Tuhan yang sama yang menuntunmu hari ini. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan