Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Yeremia 23:1–8, Menanti Kedatangan Raja yang Bijaksana dan Benar

Clavel Lukas • Kamis, 27 November 2025 | 10:23 WIB


Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Kitab Yeremia ditulis dalam suasana salah satu masa paling kelam dalam sejarah bangsa Yehuda.

Yeremia dipanggil menjadi nabi pada masa pemerintahan Raja Yosia, namun pelayanannya berlanjut melewati masa raja-raja yang menyimpang seperti Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia.

Seluruh negeri sedang berada di persimpangan mengerikan menuju pembuangan oleh Babel.

Di tengah kekacauan politik, sosial, dan spiritual itulah Yeremia berbicara dengan air mata dan beban besar:

Bangsa telah jatuh semakin jauh dari Tuhan, dan yang paling bertanggung jawab atas semua ini adalah para gembala, yaitu para raja, pemimpin-pemimpin rohani, dan tokoh-tokoh masyarakat yang seharusnya menuntun umat ke jalan Tuhan.

Situasinya sangat mirip dengan dunia kita sekarang: krisis moral di berbagai tempat, pemimpin yang tidak lagi memikirkan kebenaran, dan umat Tuhan yang bingung mencari arah.

Dalam keadaan seperti itu, Yeremia 23:1–8 muncul sebagai suara Allah yang menegur pemimpin, menghibur umat, sekaligus memberikan janji besar:

Akan datang seorang Raja yang adil, bijaksana, dan benar—Raja yang sangat berbeda dari pemimpin dunia yang sering mengecewakan.

Inilah pengharapan yang terus relevan sampai hari ini. Kita menantikan Raja yang Bijaksana dan Benar itu—Yesus Kristus—yang memerintah dengan kebenaran dan memulihkan umat-Nya.

Baca Juga: Materi Khotbah Yeremia 23:1-8, Menanti Kedatangan Raja Yang Bijaksana dan Benar

PEMBAHASAN AYAT PER AYAT 

Ayat 1

“Celakalah para gembala yang membiarkan domba-Ku terserak…”

Firman Tuhan ini dimulai dengan kata Celakalah”—sebuah deklarasi penghakiman terhadap para pemimpin. Kata “gembala” adalah metafora umum untuk raja dan pemimpin rohani.

Seorang gembala seharusnya memimpin dengan kasih, menjaga domba, memperhatikan keselamatan mereka, dan membawa mereka ke padang rumput yang baik. Tetapi para pemimpin Yehuda tidak melakukan itu.

Mereka tidak hanya gagal memelihara, tetapi justru menyebabkan kawanan itu terserak.

Tuhan menegaskan bahwa domba-domba itu adalah “domba-Ku”—mereka bukan milik raja, bukan milik pemimpin rohani, bukan milik para pemuka masyarakat, tetapi milik Tuhan sendiri.

Ketika pemimpin memperlakukan umat dengan semena-mena, Tuhan marah karena yang disakiti bukan sekadar manusia, tetapi milik kasih-Nya sendiri.

Dalam konteks kini, ayat ini menyuarakan pergumulan banyak jemaat, keluarga, dan masyarakat yang terluka oleh kepemimpinan yang kasar, tidak adil, dan tidak peduli.

Tuhan melihat itu semua. Ia tidak tinggal diam. Kata “celaka” menunjukkan bahwa Tuhan membela umatnya.

Dan ini juga peringatan keras bagi siapa pun yang memimpin—bahwa jabatan bukan kemuliaan, tetapi amanat.

Ayat 2

“Aku akan mengadakan perhitungan dengan kamu karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat.”

Pada ayat ini, teguran Tuhan menjadi semakin spesifik. Ia tidak hanya mengumumkan celaka, tetapi juga menegaskan bahwa Ia sendiri akan mengadakan perhitungan.

Ini adalah bahasa pengadilan. Tuhan menjadi hakim yang meneliti perbuatan, menimbang segala tindakan, dan mengadili setiap penyimpangan.

Ayat ini menegaskan bahwa pemimpin tidak kebal penghakiman. Pada zaman Yeremia, para pemimpin hidup bebas dalam ketidakadilan, penyembahan berhala, penindasan, dan penyimpangan moral.

Mereka merasa aman karena berada dalam struktur politik dan religius yang kuat. Tetapi Tuhan menembus semua itu dan berkata: “Aku akan mengadili kamu.”

Dalam dunia kita hari ini, banyak pemimpin duniawi, bahkan rohani, yang merasa aman karena kekuasaan, sistem, uang, dan dukungan.

Tetapi Tuhan berkata: “Aku adalah hakim.” Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya.

Ayat ini sekaligus penghiburan bagi umat Tuhan yang sering merasa tidak berdaya menghadapi ketidakadilan: Allah tidak membiarkan itu berlangsung selamanya.

Ayat 3

“Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa domba-Ku…”

Setelah menegur para pemimpin yang gagal, Tuhan berbicara kepada umat dengan penuh empati.

Ayat ini penuh kehangatan, pernyataan bahwa penderitaan umat tidak luput dari perhatian Allah. Kalimat “Aku sendiri” menekankan keterlibatan langsung Tuhan.

Ia tidak menyerahkan tugas penting ini kepada pihak lain. Ketika pemimpin manusia gagal, Tuhan sendiri turun tangan.

Allah berkata Ia akan mengumpulkan “sisa-sisa”—artinya mereka yang selamat, yang terluka, yang tercerai-berai, yang kehilangan arah.

Ini gambaran umat yang telah ditinggalkan oleh pemimpin mereka, tetapi tidak ditinggalkan oleh Tuhan.

Ayat ini relevan dengan banyak keluarga, gereja, dan komunitas Kristen masa kini.

Ada yang tercerai-berai karena konflik gereja, ada yang terluka karena pemimpin yang mengkhianati kepercayaan, ada yang kehilangan arah dalam kehidupan rohani.

Tetapi Tuhan berkata: “Aku sendiri akan mengumpulkan kamu kembali.” Inilah kasih setia Allah yang tidak berubah.

Ayat 4

“Aku akan mengangkat gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka…”

Allah tidak hanya mengumpulkan umat-Nya kembali, tetapi juga memberikan pemimpin baru.

Berbeda dari gembala yang jahat, mereka adalah pemimpin yang sungguh-sungguh menjaga, memelihara, dan membawa umat pada keamanan.

Ayat ini menggambarkan kepemimpinan yang membawa perlindungan, bukan ketakutan; pemulihan, bukan kerusakan; arah, bukan kebingungan.

Ketika Tuhan berjanji “mereka tidak akan takut lagi,” ini sangat mendalam. Pada zaman Yeremia, rakyat hidup dalam ketakutan: takut diserang Babel, takut ditindas, takut ditipu oleh nabi palsu.

Tuhan berkata bahwa di bawah kepemimpinan baru yang Ia tetapkan, ketakutan itu akan hilang.

Di masa kini, kita merindukan pemimpin yang tidak menambah beban, tetapi mengurangi beban; pemimpin yang tidak hanya memerintah dari atas, tetapi berjalan bersama umat.

Ini gambaran kepemimpinan Kristus yang sejati—dan juga gambaran pemimpin rohani dan keluarga yang Tuhan kehendaki.

Ayat 5

“Aku akan menumbuhkan Tunas yang adil bagi Daud…”

Ini adalah pusat nubuatan Mesianik dalam perikop ini. Ungkapan “Tunas bagi Daud” menunjuk kepada keturunan Daud yang kelak akan menjadi Raja sejati.

Kata “tunas” menunjukkan kehidupan baru yang muncul dari akar pohon yang sudah ditebang.

Gambaran ini muncul karena dinasti Daud sedang hampir mati; raja-raja terakhir Yehuda jahat dan tidak punya masa depan.

Tetapi Tuhan berkata: dari akar yang mati itu, Aku akan menumbuhkan sesuatu yang hidup dan baru.

“Tunas” ini adalah Mesias — Yesus Kristus.

Ayat ini menggambarkan pemerintahan-Nya: Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana, tidak salah mengambil keputusan, tidak memihak kepada kejahatan.

Keputusan-Nya berdasarkan kebenaran, bukan kepentingan politik. Ia memerintah dengan hikmat ilahi, bukan kecerdikan manusia.

Dalam dunia yang penuh kekacauan, ketidakadilan, dan pemimpin yang mengecewakan, ayat ini meneguhkan kita bahwa ada satu Raja yang tidak pernah mengecewakan: Yesus Kristus. Inilah Raja yang kita nantikan.

Ayat 6

“Dan inilah nama-Nya: TUHAN keadilan kita.”

Tuhan adalah Keadilan Kita. Ia bukan sekadar raja yang adil; Ia adalah sumber keadilan itu sendiri.

Keadilannya tidak dipengaruhi politik, uang, kekuasaan, atau tekanan. Keberadaan-Nya adalah keadilan.

Yang lebih dalam lagi: Ia tidak hanya menegakkan keadilan di luar, tetapi juga membenarkan kita di hadapan Allah.

Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia meniadakan kutuk dosa dan menegakkan kebenaran dalam hidup kita.

Ketika dunia semakin tidak adil—ketika hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, ketika banyak orang benar menderita—kita dapat berkata:

Kristus adalah Keadilan Kita. Dan suatu hari Ia akan memerintah dalam kebenaran yang sempurna.

Ayat 7–8

“... Tuhan hidup, yang membawa keturunan Israel keluar dari tanah utara …”

Ayat penutup ini berbicara tentang pemulihan besar yang bahkan lebih besar daripada keluarnya Israel dari Mesir—peristiwa yang selama berabad-abad menjadi pusat identitas bangsa Israel.

Namun Tuhan berkata bahwa apa yang akan Ia lakukan nanti akan jauh melampaui itu.

Ini menunjuk kepada pemulihan Israel dari pembuangan dan juga mengarah kepada pemulihan eskatologis di bawah pemerintahan Mesias.

Artinya, karya Tuhan di masa depan lebih besar dari karya Tuhan di masa lalu.

Tuhan sanggup membalik keadaan yang paling buruk sekalipun dan mengubahnya menjadi pemulihan besar.

Jika Israel dapat pulang dari pembuangan, Tuhan juga mampu memulihkan hidup kita dari kejatuhan, luka batin, dosa, kesulitan, dan situasi yang tampaknya tidak ada harapan.

PENUTUP 

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, ketika kita menutup perenungan atas Yeremia 23:1-8, kita melihat bahwa nubuatan ini tidak hanya tentang sebuah krisis kepemimpinan di Israel.

Tetapi sebuah nubuatan besar tentang pengharapan yang akan mencapai puncaknya dalam kedatangan Mesias—Raja yang Bijaksana, Benar, dan yang menyelamatkan umat-Nya.

Dalam konteks Yeremia, bangsa itu jatuh karena pemimpinnya gagal. Raja-raja Israel tidak menggembalakan, tetapi justru menyebabkan kawanan tercerai-berai, melukai, menindas, dan menyesatkan.

Akibatnya, Israel mengalami pembuangan, krisis identitas, dan kehilangan orientasi spiritual.

Namun justru di tengah kegelapan itulah, Tuhan berbicara tentang masa depan terang—tentang Raja Adil yang akan memerintah dengan hikmat dan kebenaran ilahi.

Di sinilah inti berita Yeremia 23: Tuhan tidak membiarkan kehancuran menjadi kata terakhir. Tuhan sendiri yang turun tangan, menyediakan Raja yang berbeda dari semua raja dunia.

Nubuatan Yeremia menunjuk kepada Yesus Kristus, Raja keturunan Daud yang ditinggikan, yang akan memerintah dengan keadilan dan kebenaran, bukan seperti raja yang korup.

Bukan seperti pemimpin yang manipulatif, bukan seperti gembala upahan yang melarikan diri ketika bahaya datang. Kristus adalah Raja yang hatinya penuh belas kasihan.

Ia datang untuk mencari yang hilang, bukan untuk menyebarkan ketakutan; untuk mempersatukan, bukan menceraiberaikan; untuk memulihkan, bukan menghancurkan.

Namun yang menarik adalah bahwa nubuatan Yeremia tidak hanya menunjuk ke kedatangan pertama Kristus, tetapi juga kepada kedatangan-Nya yang kedua, ketika Ia akan sepenuhnya menggenapi pemerintahan damai, adil, dan benar tanpa celah.

Karena itu, pesan ini relevan bagi kita hari ini:
Kita hidup dalam masa penantian.
Sama seperti Israel menanti Raja Adil, demikian juga gereja masa kini menanti penggenapan Kerajaan Allah secara sempurna.

Apa Artinya Menanti Raja yang Bijaksana dan Benar?

Menanti bukan sekadar menunggu secara pasif. Dalam Alkitab, penantian selalu terkait dengan pengharapan yang aktif, iman yang bekerja, dan kesetiaan yang bertindak.

Menanti Raja yang Bijaksana dan Benar berarti:

1. Menunggu dengan Hidup yang Selaras dengan Kerajaan-Nya

Jika kita menantikan Raja yang adil, maka kita dipanggil hidup dalam keadilan.

Jika kita menantikan Raja yang benar, kita dipanggil hidup dalam kebenaran.

Jika kita menantikan Raja yang berbelaskasihan, kita dipanggil hidup mengasihi.

Kristus datang bukan hanya untuk disembah, tetapi untuk diteladani.
Kedatangan-Nya yang kedua tidak hanya menuntut iman, tetapi ketaatan.

2. Menolak Kepemimpinan Dunia yang Sesat

Yeremia mencela raja-raja dan gembala-gembala palsu yang merusak umat.
Hari ini banyak “pemimpin palsu” dalam bentuk lain:

Menanti Raja Benar berarti menolak semua raja kecil yang palsu—dosa, ego, kesombongan, dan nilai dunia yang menipu.

3. Menjadi Gembala yang Baik dalam Lingkup Hidup Kita

Yeremia mengecam gembala-gembala yang tidak bertanggung jawab.
Hari ini, setiap kita adalah gembala dalam lingkup tertentu:

Menanti Raja Benar berarti menghidupi gaya kepemimpinan Kristus:
melayani, mengasihi, menegakkan keadilan, menjadi teladan dalam kesucian.

4. Menjaga Harapan di Tengah Situasi Sulit

Israel mendengar nubuatan ini ketika mereka mengalami sakit dan kehancuran.
Firman ini datang untuk menguatkan mereka.

Demikian pula bagi kita:
ketika dunia kacau, ketika masyarakat penuh korupsi, ketika keluarga goyah, ketika ekonomi tidak stabil, ketika gereja menghadapi tantangan—
kita tetap menanti Raja yang memerintah dengan hikmat dan kebenaran yang sempurna.

Penantian ini meneguhkan hati kita:
Tuhan belum selesai bekerja. Keadilan-Nya pasti ditegakkan. Kerajaan-Nya pasti datang.

Implikasi 

Dari Yeremia 23:1-8, kita menerima beberapa implikasi penting:

1. Gereja harus menjadi komunitas yang hidup dalam kebenaran

Gereja bukan sekadar tempat ibadah, tetapi tempat karakter dibentuk, tempat orang belajar berjalan dalam kebenaran, bukan kompromi.

2. Pemimpin gereja—pendeta, penatua, syamas, pelayan Tuhan—dipanggil menggembalakan dengan integritas

Yeremia menegur keras pemimpin yang tidak setia. Dalam era ini, gereja harus dipimpin oleh orang yang:

3. Keluarga Kristen harus menjadi tempat keadilan dan kebenaran dibentuk

Penantian kita diwujudkan lewat:

4. Umat Tuhan harus memiliki pengharapan eskatologis

Kita tidak hidup hanya untuk dunia hari ini.
Ada Raja yang akan datang.
Ada takhta yang akan ditegakkan.
Ada keadilan sempurna yang akan dinyatakan.

Penantian akan kedatangan Raja mendorong kita hidup kudus, tekun, tidak menyerah.

Akhirnya, Saudara-saudari yang Kekasih… Marilah kita menantikan Raja yang Bijaksana dan Benar dengan hidup yang benar.

Marilah kita menjadi gembala yang baik bagi keluarga, gereja, dan masyarakat.
Marilah kita menolak suara-suara palsu yang menyesatkan.

Marilah kita menjaga pengharapan meski dunia gelap.
Karena ketika Kristus datang kembali, Ia akan menemukan kita:

Dan pada hari itulah, semua yang Yeremia nubuatkan akan digenapi dalam kemuliaan sempurna—ketika Raja Adil berdiri sebagai Raja segala raja, dan umat-Nya hidup dalam damai yang kekal.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
#khotbah #GMIM #Yeremia #Renungan GMIM #Renungan