Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda GPIB, Minggu 30 November 2025, Matius 9:35-36 Melihat Dengan Belas Kasihan Seperti Yesus

Alfianne Lumantow • Jumat, 28 November 2025 | 11:20 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Matius 9:35-36
Tema: "Melihat Dengan Belas Kasihan Seperti Yesus"

Saudara-saudari muda yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan kita sehari-hari, dunia sering mengajarkan kita untuk melihat segala sesuatu secara cepat, praktis, dan kadang tanpa empati.
Kita melihat orang lain hanya sebagai bagian dari rutinitas: orang yang lewat, teman sekolah, pekerja, sopir ojek online, atau bahkan keluarga sendiri.
Namun, hari ini firman Tuhan dalam Matius 9:35-36 mengajak kita untuk memperhatikan sesuatu yang lebih dalam—cara Yesus memandang manusia.
Ayat ini berkata: "Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak punya gembala."
Ada dua kata penting di sini: melihat dan tergerak hati oleh belas kasihan. Yesus tidak hanya memandang secara biasa.
Ia melihat lebih jauh—mengenali kondisi terdalam manusia. Ia melihat kebutuhan yang tidak terlihat oleh mata biasa: kelelahan, kekosongan, kehilangan arah, dan luka batin.
Yesus Melihat Dengan Mata yang Penuh Perhatian
Yesus bukan hanya guru atau penyembuh, tetapi seorang yang memberi perhatian. Ia “berkeliling” dari satu tempat ke tempat lain.
Artinya Yesus hadir di tengah masyarakat, menyentuh kehidupan nyata—bukan hanya berbicara teori.
Sebagai pemuda Kristen, kadang kita juga hadir dalam lingkungan sekitar tetapi tidak benar-benar hadir secara emosional. Kita dekat secara fisik tetapi jauh secara empati. Kita cepat berkata:
• "Itu bukan urusanku."
• "Dia pasti bisa atasi sendiri."
• "Yang penting aku baik, aku beres."
Namun Yesus mengajak kita untuk bertanya:
Apakah saya sudah benar-benar melihat orang di sekitar saya?
Mungkin ada teman yang selalu tertawa di luar tetapi sebenarnya menyimpan kesedihan yang dalam. Ada seseorang yang tampak kuat tetapi sebenarnya kehilangan arah.
Ada anak muda yang terlihat hidup dalam kesuksesan media sosial, tetapi di dalam hati: hampa.
Melihat dengan belas kasih bukan hanya melihat keadaan luar, tetapi merasakan kondisi hati orang lain.
Hati Yesus Diggerakkan oleh Belas Kasihan
Firman berkata: “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan.”
Dalam bahasa asli (Yunani), kata ini berasal dari kata splagchnizomai—sebuah kata yang menggambarkan perasaan terdalam, seperti rasa sakit di hati ketika melihat seseorang menderita.
Ini bukan belas kasihan yang basa-basi. Bukan simpati lewat kata: “Kasihan ya…” dan kemudian pergi begitu saja.
Ini belas kasih yang mendorong tindakan.
Contohnya:
• Yesus tidak hanya berkata kepada orang sakit, “Semoga cepat sembuh,” tetapi Ia menyembuhkan.
• Ia tidak hanya berkata kepada orang berdosa, “Jangan lakukan lagi,” tetapi Ia memberi pengampunan.
• Ia tidak hanya melihat kerumunan sebagai angka atau massa, tetapi sebagai anak-anak Bapa yang dikasihi.
Belas kasih sejati selalu menghasilkan tindakan.
Di era media sosial, kita terlatih untuk melihat penderitaan dari layar—bencana, kemiskinan, bullying—lalu scroll dan lupa. Namun Yesus memanggil kita untuk berhenti, menyadari, dan peduli.
Mereka Lelah dan Tersesat: Potret Pemuda Masa Kini
Ayat tersebut juga menggambarkan keadaan orang banyak yang dilihat Yesus:
“...karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak punya gembala.”
Mari kita renungkan: apakah ini juga menggambarkan generasi muda sekarang?
Banyak pemuda terlihat kuat, energik, dan memiliki banyak peluang. Tetapi di balik itu:
• Banyak yang kelelahan secara mental karena tekanan sekolah, pekerjaan, keluarga, ekonomi.
• Banyak yang terlantar secara batin—tidak memiliki arah hidup, tujuan, atau identitas sejati.
• Banyak yang mencari pelarian pada hal-hal yang merusak: kecanduan game, pornografi, alkohol, dan toxic relationship.
• Banyak yang merasa sendirian meski memiliki ribuan followers.
Generasi ini pintar, tetapi tidak selalu kuat secara iman. Berbakat, tetapi sering merasa tidak berharga. Berprestasi, tetapi terjebak dalam kekosongan rohani.
Yesus melihat kondisi itu dulu, dan Ia tetap melihatnya hari ini. Ia tidak menghakimi—Ia mengasihi.
Kita Dipanggil Menjadi Perpanjangan Hati Yesus
Jika Yesus melihat dengan belas kasih, maka kita sebagai pengikut-Nya juga dipanggil melakukan hal yang sama.
Pertanyaannya:
???? Apakah saya menjadi pemuda yang acuh atau pemuda yang peduli?
???? Apakah saya hanya menjalani hidup untuk diri sendiri, atau saya mau menjadi saluran kasih Tuhan?
Belas kasih bukan hanya untuk orang yang “rohani” atau “aktif pelayanan.” Belas kasih adalah gaya hidup semua murid Kristus.
Kita bisa mulai dari hal sederhana:
• Mendengarkan tanpa menghakimi ketika ada teman yang curhat.
• Menguatkan dengan Firman, bukan gosip atau ejekan.
• Menolong bukan untuk dilihat, tetapi karena itu kehendak Tuhan.
• Mendoakan orang, bahkan jika mereka tidak pernah tahu.
Yesus memanggil kita bukan hanya untuk melihat keadaan dunia, tetapi untuk menjadi jawaban dari pergumulan itu.
Belas Kasihan Mengubah Dunia dan Mengubah Kita
Ketika kita hidup dengan belas kasih, kita bukan hanya menolong orang lain—kita juga berubah.
Belas kasih membuat hati kita lebih lembut.
Belas kasih mengubah cara kita berbicara.
Belas kasih menjauhkan kita dari keegoisan dan membawa kita pada kehidupan yang bermakna.
Tuhan tidak meminta kita menjadi pahlawan besar. Tuhan meminta kita mulai dari satu tindakan kecil dengan hati yang besar.
Saudara-saudari terkasih, Matius 9:35-36 mengajak kita untuk memiliki mata yang melihat seperti Yesus, hati yang digerakkan oleh belas kasih seperti Yesus, dan tindakan kasih yang nyata seperti Yesus.
Dunia tidak kekurangan orang pintar, orang sukses, atau orang terkenal. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang peduli.
Mari kita menjadi generasi yang tidak hanya melihat tetapi juga merasakan.
Tidak hanya berbicara tetapi juga bertindak.
Tidak hanya beriman tetapi juga mengasihi.
Kiranya kasih Kristus tinggal dalam hati kita dan menjadi kesaksian hidup bagi banyak orang. Amin.
Doa : Ya Tuhan, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami memiliki hati yang penuh belas kasih seperti Yesus. Mampukan kami melihat dan menolong sesama yang membutuhkan dengan kasih yang tulus. Kuatkan langkah kami agar hidup kami menjadi berkat dan kesaksian bagi banyak orang. Sertai kami dalam setiap langkah hidup. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin

Editor : Clavel Lukas
#SABDA BINA PEMUDA #GPIB