Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 6 Desember 2025, Bacaan I Yesaya 30:19-21.23-26, Bacaan Injil 9:35-10:1.6-8

Fandy Gerungan • Jumat, 28 November 2025 | 14:58 WIB
Photo
Photo

Hari Biasa Pekan I Adven (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Yesaya 30:19-21.23-26

Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab.

Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia,

dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya," entah kamu menganan atau mengiri.

Lalu TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas;

sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak.

Dari setiap gunung yang tinggi dan dari setiap bukit yang menjulang akan memancar sungai-sungai pada hari pembunuhan yang besar, apabila menara-menara runtuh.

Maka terang bulan purnama akan seperti terang matahari terik dan terang matahari terik akan tujuh kali ganda, yaitu seperti terangnya tujuh hari, pada waktu TUHAN membalut luka umat-Nya dan menyembuhkan bekas pukulan.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 147:1-2.3-4.5-6

Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.

TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai;

Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;

Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya.

Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga.

TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.

Bacaan Injil 9:35-10:1.6-8

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.

Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.

Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" ?lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu?:"Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"

Dan orang itupun bangun lalu pulang.

Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.

Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.

Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"

Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"

Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.

Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup."

Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.

Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.

Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."

Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut,

berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia.

Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu.

Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud."

Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya."

Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu."

Maka meleklah mata mereka. Dan Yesuspun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: "Jagalah supaya jangan seorangpun mengetahui hal ini."

Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.

Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan.

Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: "Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel."

Tetapi orang Farisi berkata: "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan."

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.

Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.

Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya,

Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus,

Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,

melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.

Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada masa dalam hidup ketika kita merasa berjalan sambil menahan air mata. Kita berdoa, tetapi seolah tidak ada jawaban. Kita berharap, tetapi kenyataan yang datang justru serba kekurangan baik kekurangan tenaga, kekurangan harapan, bahkan kekurangan iman.

Namun melalui nubuat Yesaya, Tuhan meyakinkan kita bahwa tangis tidak akan berlangsung selamanya. Ia mendengarkan seruan kita, dan Ia menjawab dengan cara-Nya, waktu-Nya, dan kasih-Nya.

Yesaya menggambarkan Tuhan yang mendekat, Tuhan yang tidak lagi tersembunyi. Mata kita akan melihat kehadiran-Nya, dan telinga kita akan mendengar tuntunan-Nya, bahkan ketika kita bingung memilih langkah.

Tuhan bukan hanya memulihkan, tetapi juga menuntun. Ia bukan sekadar memberi roti untuk bertahan hidup, tetapi hujan berlimpah yang membuat benih kita berbuah. Ia menyembuhkan luka batin, mencahayai kegelapan, dan mengubah kehidupan yang kering menjadi ladang subur.

Janji pemulihan ini tampak nyata dalam perjalanan Yesus di Injil. Dia tidak tinggal diam. Ia bergerak dari kota ke kota, dari desa ke desa, menghampiri orang-orang yang lelah, sakit, dan tersisih.

Belas kasihan-Nya bukan hanya perasaan, tetapi tindakan. Penyakit disembuhkan, yang mati dibangkitkan, yang tidak berdaya dipulihkan. Dia tidak hanya melihat kerumunan, tetapi merasakan kelelahan jiwa mereka.

Namun satu hal menarik: Yesus tidak bekerja sendirian. Setelah melihat besarnya kebutuhan, Ia mengajak murid-murid untuk terlibat. Ia memanggil, mengutus, dan memberikan kuasa. Apa yang mereka terima cuma-cuma kasih, kesembuhan, pengampunan diminta untuk dibagikan tanpa pamrih.

Sahabat terkasih, dua bacaan hari ini meneguhkan dua kebenaran besar:

1. Tuhan selalu mendengar, memulihkan, dan menuntun.

Tidak ada luka yang terlalu dalam, tidak ada kegelapan yang terlalu pekat, tidak ada kekurangan yang terlalu besar bagi kasih Tuhan.

Bahkan ketika hidup terasa seperti malam panjang, Tuhan sedang mempersiapkan fajar yang lebih terang daripada yang kita bayangkan. Pemulihan dari Tuhan bukan sekadar menutup luka, tetapi membuat kita sanggup berjalan lagi.

2. Kita dipanggil untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan.

Yesus melihat dunia yang lelah dan Ia mengutus pekerja-pekerja. Kita pun termasuk di dalamnya. Ada seseorang di sekitar kita yang membutuhkan perhatian, pengampunan, sapaan, atau bantuan sederhana yang bisa kita berikan. Kadang panggilan Tuhan tidak datang dalam bentuk suara lantang… melainkan dalam bisikan: “Pergilah. Aku sudah memberi engkau apa yang kau perlukan.”?

Ketika kita percaya dan melangkah, kita akan melihat bahwa Tuhan yang menjawab seruan Israel di masa Yesaya masih bekerja dengan cara yang sama hari ini mengubah yang kering menjadi subur, yang sakit menjadi sembuh, yang gelap menjadi terang.

Semoga kita menjadi pribadi yang terbuka pada pemulihan Tuhan dan sekaligus menjadi pembawa pemulihan bagi sesama. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan