Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Yeremia 23:1–8 Untuk W/KI, Menanti Kedatangan Raja yang Bijaksana dan Benar

Clavel Lukas • Sabtu, 29 November 2025 | 05:05 WIB

 

Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Kitab Yeremia ditulis ketika bangsa Yehuda hidup pada masa paling gelap dalam sejarah mereka.

Pemimpin-pemimpin Israel—baik raja, imam, maupun nabi—tidak lagi hidup dalam takut akan Tuhan.

Mereka mengejar kepentingan sendiri, menindas rakyat, menipu dengan kata-kata manis, dan memimpin bangsa menuju penyembahan berhala.

Yeremia, nabi yang lembut hati namun tegas dalam kebenaran, dipanggil Allah untuk menyampaikan pesan yang pahit tetapi sangat penting:

Bahwa Tuhan akan menghukum ketidaksetiaan para pemimpin, tetapi pada waktunya Ia akan memulihkan umat-Nya melalui seorang Raja yang Adil dari keturunan Daud.

Tema “Menanti Kedatangan Raja yang Bijaksana dan Benar” muncul dari tengah kegelapan kepemimpinan yang bobrok.

Baca Juga: Materi Khotbah Yeremia 23:1-8, Menanti Kedatangan Raja Yang Bijaksana dan Benar

Baca Juga: Renungan Yeremia 23:1–8, Menanti Kedatangan Raja yang Bijaksana dan Benar

Di sanalah Allah menyatakan janji terbesar: akan datang Seorang Raja yang benar.

Seorang pemimpin yang akan memulihkan, menggembalakan, melindungi, dan membawa umat-Nya kepada damai sejahtera yang sejati.

Bagi kaum ibu, pesan ini sangat relevan. Karena dalam keluarga, ibu sering merasakan akibat langsung dari kepemimpinan yang salah—ketidakstabilan, ketidakpastian, luka emosional, kekacauan moral, dan hilangnya rasa aman.

Karena itu Yeremia 23 hadir sebagai penghiburan, penguatan, dan harapan, bahwa pemimpin sejati yang kita nantikan bukanlah manusia biasa, tetapi Yesus Kristus, Raja yang bijaksana dan benar.

PEMBAHASAN AYAT PER AYAT 

Ayat 1

“Celakalah para gembala yang membiarkan domba domba gembalaan-Ku binasa dan terserak!”

Allah memulai dengan suara murka. Kata “gembala” di sini menunjuk pada para pemimpin Yehuda: raja, imam, dan nabi.

Mereka diberi mandat untuk merawat umat, tetapi justru menjadi penyebab kebinasaan.

Kata “binasa” menunjukkan kehancuran moral dan spiritual, sedangkan kata “tersesat” menggambarkan umat yang kehilangan arah dan perlindungan.

Dalam konteks perempuan atau kaum ibu masa kini, ayat ini mengingatkan bahwa sering kali ibu menjadi saksi bagaimana pemimpin—baik dalam rumah, masyarakat, atau bahkan gereja—dapat membawa orang-orang yang mereka pimpin kepada kekacauan ketika tidak taat kepada Tuhan.

Ayat ini mengingatkan ibu-ibu bahwa Allah melihat ketidakadilan, mendengar tangisan keluarga, dan menghakimi pemimpin yang menyesatkan.

Ayat 2

“Kamu telah menyerakkan domba-Ku… sebab itu Aku akan mengawas kamu karena perbuatanmu.”

Kegagalan para gembala bukan hanya karena lalai, tetapi karena mereka secara aktif menyebarkan umat ke tempat binasa: dengan ajaran palsu, manipulasi politik, dan keserakahan.

Allah menegaskan, "Aku akan mengawas kamu." Dalam bahasa Ibrani: paqad, berarti memeriksa, menuntut pertanggungjawaban, bahkan menghukum.

Kaum ibu sering menjadi pihak yang harus “mengumpulkan kembali” ketika anggota keluarga tersesat oleh pengaruh-pengaruh buruk.

Tetapi ayat ini menegaskan bahwa Allah sendiri bertindak sebagai hakim atas pemimpin yang jahat, dan sekaligus sebagai Bapa yang memulihkan umat-Nya.

Ayat 3

“Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa domba-Ku… dan Aku akan mengembalikan mereka ke padang rumput mereka.”

Inilah sisi lain hati Tuhan—kasih yang memulihkan. Allah melangkah menggantikan pemimpin yang gagal.

Kata “mengumpulkan” menggemakan eksodus baru—pemulihan dari ketercerai-beraian.

“Padang rumput” melambangkan:

Bagi kaum ibu, ayat ini adalah janji yang menyentuh hati: Ketika keluarga tercerai-berai, Tuhan adalah Gembala yang mengumpulkan kembali.

Dalam tekanan hidup, Tuhan menuntun ibu-ibu ke padang rumput rohani—ketenangan, kekuatan, dan pemulihan.

Ayat 4

“Aku akan mengangkat gembala-gembala… mereka tidak akan takut atau terkejut lagi.”

Allah tidak hanya memulihkan, tetapi memberikan pemimpin baru. Gembala-gembala ini akan memelihara dengan hati Tuhan. Dampaknya:

Inilah gambaran karakter pemimpin yang lahir dari hati Allah—yang nantinya digenapi dalam diri Yesus dan para pelayan-Nya yang setia.

Bagi kaum ibu, ayat ini menyatakan harapan bahwa keluarga dapat menjadi tempat aman ketika dipimpin oleh nilai-nilai Kristus: kasih, kejujuran, kesetiaan, dan ketulusan.

Ayat 5

“Aku akan menumbuhkan Tunas yang Adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana.”

Inilah pusat nubuatan.
“Tunas” (tsemach) merujuk kepada Mesias—Yesus Kristus.

Ia disebut:

Bagi kaum ibu, ini sangat penting: Pemimpin sejati yang dapat diandalkan bukanlah manusia biasa, tetapi Kristus sendiri.

Kita menantikan Dia, tetapi juga belajar meneladani karakter-Nya dalam hubungan keluarga, pelayanan, dan kehidupan sehari-hari.

Ayat 6

“Yehuda akan dibebaskan… Nama-Nya: TUHAN KEADILAN KITA.”

Dalam zaman Mesias, pembebasan akan menjadi tanda utama pemerintahan-Nya. Nama Mesias adalah: TUHAN KEADILAN KITA.

Artinya:

  1. Kebenaran tidak berasal dari manusia, tetapi dari Tuhan.

  2. Kristus adalah sumber keadilan—bagi yang tertindas, bagi yang kehilangan suara, bagi mereka yang selama ini menderita.

  3. Dialah pembela bagi semua yang merasakan ketidakadilan.

Banyak kaum ibu memikul beban hidup: ketidakadilan dalam rumah, beban ekonomi, kekerasan verbal, atau tekanan sosial.

Tetapi ayat ini memberikan harapan: Keadilan sejati datang dari Allah—dan Ia sedang bekerja memulihkan.

Ayat 7–8

Allah menegaskan bahwa karya pemulihan Mesias akan melampaui eksodus dari Mesir. Ini berarti:

Bagi W/KI, ayat-ayat ini menyatakan bahwa Tuhan masih mengerjakan perkara besar bagi keluarga.

Tidak ada situasi terlalu rusak bagi-Nya. Tidak ada keluarga terlalu jauh dari pemulihan-Nya.
Ia memimpin kita menuju masa depan penuh harapan.

PENUTUP

Tema renungan “Menanti Kedatangan Raja yang Bijaksana dan Benar” mengajak kaum ibu melihat bahwa dunia ini sedang dilanda krisis pemimpin—baik pemimpin politik, pemimpin keluarga, maupun pemimpin rohani.

Namun Yeremia menegaskan bahwa harapan kita bukan pada sistem dunia, tetapi pada Raja yang dijanjikan, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Kita menantikan Raja itu bukan hanya sebagai pengamat pasif, tetapi sebagai perempuan yang:

Yeremia 23 menunjukkan bahwa ketika manusia gagal, Allah turun tangan. Ketika pemimpin mengecewakan, Allah menghadirkan Raja yang sempurna.

Ketika keluarga tercerai-berai, Ia mengumpulkan kembali. Ketika ketidakadilan merajalela, Ia menyatakan diri sebagai TUHAN, Keadilan Kita.

Bagi kaum ibu GMIM, pesan ini berarti:

1. Kristus adalah pemimpin utama rumah tangga.

Dialah sumber hikmat bagi ibu menghadapi anak yang sedang dalam tekanan, menghadapi tantangan ekonomi, bahkan menghadapi suami yang tidak sejalan.

2. Keadilan dan pemulihan Allah nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Allah melihat ketidakadilan yang dialami ibu-ibu. Dan Ia berjanji memulihkan.

3. Harapan tidak pernah padam.

Seperti Israel menantikan Mesias, demikian juga ibu-ibu menantikan pertolongan Tuhan dalam berbagai pergumulan hidup. Ia tidak pernah terlambat bertindak.

4. Ibu adalah penabur nilai kerajaan Allah di rumah.

Melalui kelembutan, kesabaran, ketekunan, pengajaran, doa, dan keteladanan, seorang ibu merefleksikan kasih Mesias.

5. Menanti Raja berarti hidup dalam kebenaran.

Ibu menolak kebohongan, gosip, iri, dendam, dan ketidakjujuran—sebaliknya hidup dalam kasih, damai, pengampunan, dan keadilan.

Ajakan untuk W/KI GMIM

Akhirnya, menanti kedatangan Raja yang bijaksana dan benar bukan sekadar menunggu hari kedatangan-Nya, tetapi membiarkan kerajaan-Nya memerintah di rumah, di hati, dan di kehidupan kita.

Kiranya setiap ibu menjadi pembawa harapan—mewakili kasih Kristus bagi keluarga dan jemaat—dan menjadi saksi hidup bahwa Raja yang benar telah datang dan sedang bekerja memulihkan kehidupan kita.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
#WKI GMIM #khotbah #GMIM #Yeremia #W/KI #Renungan