Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Senin 8 Desember 2025, Bacaan I Kejadian 3:9-15.20, Bacaan Injil Lukas 1:26-38

Fandy Gerungan • Selasa, 2 Desember 2025 | 16:05 WIB
Photo
Photo

Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Kejadian 3:9-15.20

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"

Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."

Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"

Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."

Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."

Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.

Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."

Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 98:1.2-3ab.3bc-4

Mazmur. Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.

TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.

Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.

Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.

Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!

Bacaan Injil Lukas 1:26-38

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,

kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."

Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.

Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.

Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,

dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."

Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"

Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.

Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.

Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."

Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada satu benang merah yang sangat indah dalam kedua bacaan hari ini: perjalanan manusia dari ketakutan menuju penyerahan, dari kejatuhan menuju pemulihan. Di awal Kitab Suci, kita melihat manusia yang baru saja jatuh dalam dosa.

Ia bersembunyi, takut, dan mulai menyalahkan. Hubungan yang tadinya akrab dengan Allah berubah menjadi tegang dan penuh jarak. Ada luka, ada rasa malu, ada keinginan untuk menutupi kesalahan.

Namun Allah tidak membiarkan manusia berjalan sendirian di dalam bayang-bayang dosanya. Dalam situasi paling gelap itu, Allah justru menabur janji. Ia memperlihatkan bahwa akan ada seseorang yang lahir dari seorang perempuan, yang kelak akan menghancurkan kuasa kegelapan. Dengan kata lain, sejak awal kejatuhan manusia, Allah sudah merencanakan pemulihan.

Janji itu akhirnya mulai terlihat wujudnya dalam peristiwa di Nazaret. Di tempat kecil yang tidak dianggap penting, dalam kehidupan seorang gadis muda yang sederhana, Allah memulai karya besar-Nya.

Maria tidak bersembunyi seperti Adam dan Hawa, meski ia juga terkejut dan mungkin takut. Tetapi berbeda dari manusia pertama yang mencoba menghindar, Maria justru membuka diri. Ia tidak memahami sepenuhnya apa yang akan terjadi, namun ia memilih percaya.

Keberanian Maria untuk menjawab panggilan Allah menjadi kebalikan dari ketakutan manusia di taman pertama. Jika Adam dan Hawa memilih jalan yang menjauh dari Allah, Maria memilih jalan yang mendekat.

Jika manusia pertama jatuh karena mengikuti suara yang menyesatkan, Maria justru berdiri dalam terang ketika ia mendengarkan suara Allah yang datang kepadanya.

Ketaatan Maria bukan sekadar persetujuan pasif, tetapi sebuah keputusan sadar untuk mempercayakan hidup sepenuhnya pada Tuhan. Melalui dialah, janji pemulihan yang telah dinyatakan sejak awal dunia mulai digenapi.

Dalam dirinya, Allah menunjukkan bahwa dosa dan ketakutan tidak memiliki kata akhir. Harapan selalu mungkin, bahkan ketika manusia merasa tidak pantas atau tidak siap.

Hari ini, kita diajak melihat diri sendiri. Apakah kita lebih sering seperti Adam dan Hawa bersembunyi, takut, sibuk menyalahkan keadaan atau orang lain? Atau berani seperti Maria membuka hati, meskipun tidak mengerti jalan Tuhan sepenuhnya?

Tuhan tidak pernah datang untuk menelanjangi atau mempermalukan kita. Ia datang untuk memulihkan, menuntun, dan membawa kita kembali kepada terang. Yang Ia minta hanyalah hati yang bersedia. Hati yang mau berkata, “Aku percaya Engkau bekerja dalam hidupku.”

Semoga kita belajar menanggapi panggilan-Nya dengan keberanian seperti Maria, dan membiarkan rencana Allah tumbuh dalam hidup kita, meskipun terkadang kita tidak mengerti sepenuhnya. Karena di tengah segala ketidakpastian, Tuhan tetap setia, dan karya-Nya selalu membawa kehidupan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan