Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 9 Desember 2025, Bacaan I Yesaya 40:1-11, Bacaan Injil Matius 18:12-14

Fandy Gerungan • Selasa, 2 Desember 2025 | 16:07 WIB
Photo
Photo

Pekan ke II Masa Adven ( Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Yesaya 40:1-11

Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu,

tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya.

Ada suara yang berseru-seru: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!

Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;

maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya."

Ada suara yang berkata: "Berserulah!" Jawabku: "Apakah yang harus kuserukan?" "Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang.

Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput.

Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya."

Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: "Lihat, itu Allahmu!"

Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya.

Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 96:1-2.3.10ac.11-12.13

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi!

Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari.

Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa.

Katakanlah di antara bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran."

Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya,

biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai

di hadapan Tuhan, sebab Ia datang. sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia datang menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetianNya.

Bacaan Injil Matius 18:12-14

"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?

Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.

Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."

Demikianlah Injil

U. Terpujilah Kristus

Renungan


Saudara/i ada saat-saat dalam hidup ketika hati kita terasa seperti padang gurun: kering, sunyi, dan seakan kehilangan arah. Kadang kita merasa jauh dari Tuhan, entah karena dosa, kekecewaan, atau pergumulan yang panjang.

Namun bacaan hari ini membawa pesan yang begitu lembut dan menyejukkan: Allah tidak membiarkan kita berlama-lama dalam kesunyian itu. Ia datang dengan suara penghiburan.

Nabi Yesaya menggambarkan Allah seperti seseorang yang memeluk umat-Nya yang lelah. Ia berbicara kepada hati yang terluka dan mengatakan bahwa masa penderitaan tidak berlangsung selamanya.

Ada saat ketika badai harus berhenti, ketika perjalanan yang melelahkan harus mendapat kekuatan baru, ketika luka yang dalam akhirnya dirawat dengan sentuhan kasih. Allah sendiri yang menyiapkan jalan agar kita bisa kembali kepada-Nya.

Namun suara yang memanggil itu tidak berhenti hanya pada janji penghiburan. Suara itu juga mengajak: bersiaplah. Ada lembah yang harus ditimbun, ada gunung yang perlu diratakan. Artinya, ada bagian dalam hidup kita yang perlu ditata kembali.

Ada kebiasaan yang perlu ditinggalkan, ada relasi yang perlu diperbaiki, ada sikap hati yang perlu direndahkan. Karena ketika hati kita dipersiapkan, kemuliaan Tuhan menjadi lebih mudah kita lihat dalam hidup.

Lalu Injil hari ini melengkapi gambaran itu dengan begitu indah. Yesus memperlihatkan wajah Bapa sebagai gembala yang tidak pernah menyerah mencari domba yang tersesat. Ia tidak puas hanya dengan yang aman dan terkumpul. Ia mengingat yang hilang.

Ia menghitung satu per satu, dan ketika ada yang tidak ada di tempatnya, Ia berjalan mencarinya bahkan ke tempat yang mungkin gelap, licin, dan berbatu.

Dan inilah kabar baik bagi kita: kita masing-masing adalah domba yang begitu berharga di hadapan Tuhan. Ketika kita tersesat baik karena pilihan-pilihan kita, kelemahan manusiawi, atau beban hidup yang membuat kita goyah Tuhan tidak berhenti memanggil nama kita. Ia tidak menunggu kita pulang; Ia yang mendatangi kita. Kebahagiaan-Nya begitu besar ketika akhirnya kita ditemukan.

Yesaya menunjukkan Allah yang menggendong domba-domba kecil dengan penuh kelembutan, dan Injil menunjukkan Allah yang berlari menembus gelap demi menemukan yang hilang. Dua gambaran ini menyatu menjadi pesan inti: kita dicari, kita dihargai, dan kita dikasihi tanpa syarat.

Hari ini kita bisa bertanya pada diri sendiri: Di bagian mana aku sedang menjadi domba yang tersesat?. Apakah aku sedang menjauh karena rasa bersalah?. Atau mungkin karena rutinitas yang membuat iman terasa hambar?. Atau sedang terluka dan merasa tidak ada yang mengerti?.

Kabar baiknya: Tuhan sedang mencarimu. Ia tidak datang dengan kemarahan, tetapi dengan kehangatan seorang gembala yang merindukan kepulangan anaknya. Ia ingin memeluk, menuntun, dan memulihkan.

Mari membuka hati. Biarkan Ia menemukan kita. Biarkan tangan-Nya mengangkat kita dari tempat yang gelap. Dan ketika Ia temukan kita, jangan ragu untuk kembali pada-Nya karena sukacita terbesar-Nya adalah memulihkan apa yang sempat hilang. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan