Tema: Tuhanlah Hakim Kita, Bukan Sesama
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Kehidupan sebagai umat Tuhan tidak pernah terlepas dari perbedaan.
Kita hidup dalam keluarga, masyarakat, dan gereja yang penuh variasi: perbedaan latar belakang, kebiasaan, cara berpikir, ekspresi iman, bahkan cara hidup.
Perbedaan itu seharusnya menjadi kekayaan, namun sering kali justru menjadi sumber pertengkaran, konflik, dan saling menghakimi.
Dalam Roma 14, Rasul Paulus menegur jemaat Roma yang terpecah karena hal-hal yang sesungguhnya bukan inti iman.
Ada yang menilai dirinya lebih benar, dan ada yang merasa lebih suci dibanding orang lain.
Paulus ingin meluruskan bahwa Kristus tidak memanggil kita untuk menjadi hakim satu sama lain, melainkan untuk hidup dalam kasih dan kesatuan tubuh Kristus.
Hari ini kita akan merenungkan Roma 14:9-12 dalam tiga poin penting.
Kristus Mati dan Bangkit untuk Menjadi Tuhan Semua (Ayat 9)
Paulus menulis:
"Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan atas orang mati dan orang hidup."
Ayat ini mengingatkan kita bahwa dasar iman kita bukan aturan manusia, bukan tradisi, bukan perbandingan spiritual, tetapi Kristus yang mati dan bangkit bagi semua orang.
Karena Kristus mati dan bangkit, maka:
• Dia berkuasa atas semua orang, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup.
• Dialah pusat kehidupan iman kita, bukan diri kita, bukan pendapat kita, bukan penilaian kita.
• Dialah yang layak menilai, bukan manusia.
Ketika Paulus mengatakan Yesus adalah Tuhan atas hidup dan mati, itu berarti tidak ada satu pun orang percaya yang berada di luar otoritas dan kasih Tuhan.
Dengan kata lain, jika Kristus menerima seseorang, bagaimana mungkin kita menolaknya?
Jika Kristus tidak menghakimi seseorang berdasarkan kebiasaan luarnya, bagaimana mungkin kita merasa berhak melakukannya?
Kemuliaan Yesus bukan hanya tampak dalam karya keselamatan, tetapi juga dalam cara Ia memperlakukan orang dengan kasih, kesabaran, dan pengampunan.
Jangan Menghakimi Sesama, Sebab Kita Semua Akan Berdiri di Hadapan Tuhan (Ayat 10)
Paulus melanjutkan dengan pertanyaan yang sangat menegur:
“Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu?”
Pertanyaan ini bukan sekadar teguran, tetapi ajakan untuk bercermin.
Sering kali kita lebih cepat menilai orang lain dibandingkan menilai diri sendiri. Kita mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kelemahan diri.
Tanpa sadar, kita berkata dalam hati:
• “Iman saya lebih kuat.”
• “Saya lebih layak.”
• “Mereka kurang rohani.”
• “Cara mereka salah.”
Namun Paulus mengingatkan:
“Kita semua akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Allah.”
Saat hari itu tiba, Tuhan tidak akan bertanya:
• Gereja mana yang kau pilih?
• Jenis ibadah apa yang kau sukai?
• Siapa yang menurutmu kurang rohani?
Tetapi Ia akan bertanya:
• Apakah engkau mengasihi Tuhan?
• Apakah engkau mengasihi sesamamu?
• Apakah hidupmu mencerminkan Kristus?
Penghakiman bukan milik manusia—itu milik Tuhan.
Setiap Orang akan Memberi Pertanggungjawaban kepada Allah (Ayat 11-12)
Paulus meneguhkan ajarannya dengan kutipan dari Perjanjian Lama:
"Demi Aku hidup, setiap lutut akan bertelut kepada-Ku dan setiap lidah akan mengaku kepada Allah."
Ini menegaskan bahwa suatu hari kelak, semua manusia—tanpa terkecuali—akan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan.
Pada hari itu:
• Tidak ada yang dapat menyombongkan diri.
• Tidak ada yang bisa membandingkan diri.
• Tidak ada lagi ruang untuk menghakimi sesama.
• Semua manusia setara di hadapan Tuhan: pendosa yang diselamatkan oleh anugerah.
Paulus menutup dengan kalimat sangat penting:
"Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah."
Perhatikan: dirinya sendiri.
Kita tidak akan diminta bertanggung jawab untuk:
• Kesalahan orang lain,
• Kekurangan saudara seiman,
• Perbedaan pilihan iman orang lain yang tidak esensial.
Tetapi kita akan bertanggung jawab atas:
• Sikap hati kita,
• Perkataan kita,
• Cara kita memperlakukan orang lain,
• Apakah kita hidup sesuai kasih Kristus.
Mari Hidup dengan Kasih, Bukan Penghakiman
Saudaraku yang terkasih dalam Kristus, Roma 14:9-12 mengingatkan kita bahwa:
1. Kristus adalah Tuhan atas semua orang, bukan hanya atas diri kita.
2. Tugas kita bukan menghakimi, tetapi menerima dan mengasihi.
3. Setiap orang akan mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah.
Maka marilah kita hidup dengan rendah hati, memandang sesama bukan dengan kritikan, tetapi dengan kasih; bukan dengan perbandingan, tetapi dengan pengertian; bukan dengan kebanggaan rohani, tetapi dengan hati yang bersyukur bahwa kita semua diselamatkan oleh kasih karunia.
Kiranya melalui hidup kita, orang lain dapat melihat wajah Kristus—yang penuh kasih, sabar, lembut, dan setia. Amin.
Doa : Ya Tuhan Yesus, terima kasih untuk firman-Mu yang mengingatkan kami bahwa hanya Engkaulah hakim atas hidup kami. Ajar kami hidup dalam kasih, bukan dalam sikap menghakimi. Bentuk hati kami agar rendah hati, sabar, dan mau menerima sesama seperti Engkau menerima kami. Sertai langkah kami ke depan dan pimpin hidup kami selalu dalam kasih-Mu. Dalam nama Yesus. Amin.
Editor : Clavel Lukas