Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Senin, 8 Desember 2025, Markus 8:18-21 Mengingat Untuk Percaya

Alfianne Lumantow • Kamis, 4 Desember 2025 | 12:53 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan: Markus 8:18–21
Tema: “Mengingat untuk Percaya”

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pembacaan kita hari ini membawa kita pada perikop yang melanjutkan percakapan antara Yesus dan para murid mengenai respons mereka terhadap kekurangan roti.

Dalam Markus 8:18–21, Yesus berkata: “Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat, dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat?...”

Ini bukan sekadar pertanyaan, tetapi sebuah teguran penuh kasih yang mengingatkan murid-murid bahwa mereka gagal melihat karya dan kuasa Allah meskipun mereka telah menyaksikan berbagai mujizat-Nya.

Sekilas, persoalan ini tampak sederhana—mereka tidak membawa roti. Namun yang Yesus soroti bukanlah persoalan fisiknya, melainkan kondisi rohani mereka.

Mereka melihat mujizat, tetapi tidak memahami maknanya. Mereka mendengar ajaran Yesus, tetapi tidak menaruhnya dalam hati.
Firman ini juga berbicara kepada kita pada hari ini.

Mata yang Melihat, Tetapi Tidak Mengerti

Yesus bertanya, “Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat?” Ini menunjukkan bahwa murid-murid sebenarnya melihat banyak hal yang luar biasa. Mereka melihat:
• Orang lumpuh berjalan,
• Orang buta melihat,
• Orang kerasukan dilepaskan,
• Ribuan orang diberi makan dengan cara ajaib.

Namun, meskipun mata mereka melihat, hati mereka belum mengerti siapa Yesus sebenarnya.

Mereka masih memandang Yesus sebatas Guru yang besar, bukan Tuhan yang berkuasa penuh atas hidup mereka.

Di zaman ini, banyak orang percaya pun mengalami hal yang sama. Kita melihat berkat Tuhan setiap hari—napas kehidupan, perlindungan, penyertaan, pintu-pintu yang Tuhan buka.

Namun sering kali kita tidak menyadari bahwa itu adalah tanda kasih dan kuasa-Nya. Kita terbiasa diberkati sampai lupa bahwa semua berasal dari Tuhan.

Melihat saja tidak cukup. Kita harus mengenali karya Tuhan dan percaya kepada-Nya.

Telinga yang Mendengar, Tetapi Tidak Menyimpan

Yesus melanjutkan dengan pertanyaan: “Kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?”

Para murid sudah sering mendengar ajaran Yesus: ajaran tentang kerajaan Allah, kepercayaan, pengampunan, dan kasih. Namun saat masalah muncul, ajaran itu seolah hilang dari ingatan.

Begitu juga kita hari ini. Kita mendengar firman Tuhan setiap minggu, bahkan ada yang mendengar setiap hari melalui renungan, musik rohani, atau ibadah.

Namun ketika masalah datang, hati kita cepat gentar. Ketika kekurangan datang, kita segera kuatir. Ketika doa belum dijawab, kita mulai meragukan kuasa Tuhan.

Telinga kita mendengar firman, tetapi apakah firman itu tinggal, mengakar, dan menguatkan kita?

Firman Tuhan bukan hanya untuk di dengar, tetapi untuk diingat, dihidupi, dan menjadi dasar iman.

Mengingat Karya Tuhan: Dasar Iman Sejati
Yesus bertanya, “Tidakkah kamu ingat?” Lalu Ia menyebut dua peristiwa penting:
• Ketika Ia memberi makan 5.000 orang dengan 5 roti, dan ada 12 bakul sisa
• Ketika Ia memberi makan 4.000 orang dengan 7 roti, dan ada 7 bakul sisa

Yesus sengaja bertanya fakta itu bukan karena Ia lupa, tetapi karena Ia ingin murid-murid belajar mengenang dan memahami.

Mengapa? Karena iman tumbuh melalui ingatan akan perbuatan Tuhan.

Ketika umat Israel berada di padang gurun, Tuhan berulang kali berkata, “Ingatlah apa yang telah Aku lakukan.” Sebab melupakan karya Tuhan membuat manusia mudah takut dan mudah berpaling kepada dunia.

Begitu pula kita—ketika kita ingat bagaimana Tuhan memelihara kita dulu, bagaimana Ia menjawab doa, membuka jalan, menyembuhkan, menghibur, dan menolong—maka hati kita akan kembali dikuatkan.
Menghadapi tantangan iman hari ini, Tuhan juga berkata kepada kita: “Ingatlah Aku, bukan masalahmu.”

Iman yang Dewasa: Percaya Tanpa Harus Melihat Bukti Baru
Yesus menutup bagian ini dengan pertanyaan yang menusuk: “Masakan kamu belum juga mengerti?”

Maksud Yesus bukan membuat mereka malu, tetapi memanggil mereka untuk bertumbuh. Yesus ingin murid-murid melangkah dari iman yang reaktif—iman yang hanya percaya jika melihat mujizat—menjadi iman yang dewasa, iman yang percaya karena mengenal siapa Yesus itu.

Iman yang dewasa berkata:
• “Aku percaya, bukan karena situasiku baik, tetapi karena Yesus besarku hidup.”
• “Aku percaya bukan karena aku melihat jalan, tetapi karena Tuhan memegang masa depanku.”
• “Aku percaya bukan karena tidak ada tantangan, tetapi karena Allah menyertaiku.”

Tuhan Mengundang Kita untuk Percaya, Bukan Kuatir

Dalam konteks ini, para murid sibuk khawatir soal roti. Yesus ingin mereka memahami: jika Ia sanggup memberi makan ribuan orang, apakah Ia tidak mampu memelihara dua belas murid-Nya?

Kadang kita juga seperti itu. Kita percaya Tuhan besar, tetapi tetap kuatir karena masalah yang kita hadapi terasa besar.

Kita percaya Tuhan sanggup melakukan mujizat, tetapi hati kita gelisah karena situasi tidak sesuai harapan.

Hari ini Tuhan berkata kepada kita: “Jangan takut. Ingatlah Aku. Aku adalah Allah yang sama kemarin, hari ini, dan selamanya.”

Panggilan untuk Mengingat dan Percaya

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Firman hari ini mengajarkan tiga respons yang harus kita bangun dalam hidup:
1. Melihat karya Tuhan dengan iman, bukan hanya dengan mata jasmani.
2. Mendengar firman dan menyimpannya sebagai dasar hidup.
3. Mengingat semua karya Tuhan sebagai kekuatan dalam perjalanan iman.
Jangan biarkan kekhawatiran, situasi, atau kekurangan mengaburkan kehadiran Kristus. Tuhan yang memelihara dahulu, tetap memelihara hari ini.
Biarlah kita menutup firman ini dengan satu keyakinan:
“Jika Yesus ada bersama kita, maka tidak ada kekurangan yang perlu membuat kita takut.” Amin.

Doa : Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu yang menegur dan menguatkan kami. Ajari kami untuk selalu mengingat kasih-Mu, percaya pada kuasa-Mu, dan hidup dalam ketaatan kepada-Mu. Kuatkan iman kami agar tidak mudah goyah oleh keadaan. Sertai langkah kami dan jadikan kami pelaku firman-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB