Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Rabu 17 Desember 2025, Bacaan I Kejadian 49:2.8-10, Bacaan Injil Matius 1:1-17

Fandy Gerungan • Selasa, 9 Desember 2025 | 10:19 WIB
Photo
Photo

Pekan ke III Masa Adven (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Kejadian 49:2.8-10

Berhimpunlah kamu dan dengarlah, ya anak-anak Yakub, dengarlah kepada Israel, ayahmu.

Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu.

Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya?

Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 72:1.3-4ab.7-8.17

Dari Salomo. Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja!

Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran!

Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras!

Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan!

Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi!

Biarlah namanya tetap selama-lamanya, kiranya namanya semakin dikenal selama ada matahari. Kiranya segala bangsa saling memberkati dengan namanya, dan menyebut dia berbahagia.

Bacaan Injil Matius 1:1-17

Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.

Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,

Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram,

Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon,

Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai,

Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,

Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa,

Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia,

Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia,

Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia,

Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel.

Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel,

Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor,

Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud,

Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub,

Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ketika kita membaca silsilah panjang yang menuntun sampai pada kelahiran Yesus, mungkin bagi sebagian orang daftar nama-nama itu terasa seperti deretan sejarah yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun bila kita memperhatikannya dengan hati yang terbuka, kita akan menemukan pesan yang sangat indah.

Tuhan bekerja melalui waktu, melalui keluarga, melalui sejarah yang penuh warna bahkan melalui orang-orang yang tidak sempurna untuk menghadirkan keselamatan.

Dalam bacaan pertama, kita melihat bagaimana seorang ayah menubuatkan masa depan bagi anaknya. Ada gambaran tentang kehormatan, kekuatan, dan kepemimpinan yang kelak akan muncul dari keturunan tertentu. Yang menarik, gambaran itu bukan hanya tentang kehebatan manusia.

Tetapi tentang rencana Tuhan yang akan mengalir melalui generasi demi generasi. Ada janji yang dipelihara, ada garis keturunan yang diarahkan, dan semuanya menuju pada satu tujuan besar: hadirnya Sang Penyelamat bagi dunia.

Ketika kemudian kita melihat silsilah panjang dalam Injil, kita dapat merasakan bahwa janji itu tidak pernah dilepaskan oleh Tuhan. Tidak peduli berapa lama waktu berlalu, tidak peduli berapa banyak kisah rumit, drama manusia, kegagalan, dan pertobatan yang terjadi di sepanjang jalan.

Tuhan tetap setia menuntun garis tersebut menuju kepada Yesus. Ada nama-nama yang mungkin tidak sempurna, ada kisah keluarga yang penuh luka, ada karakter yang punya masa lalu kelam namun Tuhan tetap berkarya melalui mereka.

Inilah salah satu pesan terindah dari renungan hari ini: Tuhan tidak bekerja hanya melalui orang-orang sempurna, tetapi melalui orang-orang yang bersedia berjalan bersama-Nya.

Tuhan tidak berhenti bekerja hanya karena manusia gagal. Bahkan melalui kelemahan, melalui sejarah yang tidak mulus, melalui keturunan yang panjang dan berliku, Ia tetap menyusun rencana kasih-Nya secara utuh dan indah.

Hal ini mengajak kita untuk melihat hidup kita sendiri. Betapa seringnya kita merasa bahwa masa lalu kita menghalangi masa depan, atau bahwa kekurangan kita membuat kita tidak layak dipakai oleh Tuhan. Kita mungkin melihat silsilah hidup kita sendiri keluarga, pengalaman, kesalahan, luka batin dan merasa bahwa semua itu terlalu kacau untuk disentuh Tuhan.

Namun renungan ini menegaskan bahwa Tuhan bekerja bukan di luar sejarah, tetapi di dalam sejarah. Tidak ada kehidupan yang terlalu rusak untuk dipulihkan; tidak ada masa lalu yang terlalu gelap untuk dipakai; tidak ada keluarga yang terlalu berantakan untuk dijadikan tempat tumbuhnya harapan baru.

Silsilah Yesus juga menunjukkan bahwa karya Tuhan tidak instan. Ia menyusun rencana secara perlahan, setia, dan penuh kesabaran. Kadang kita juga perlu menerima bahwa pembaruan dalam hidup kita membutuhkan waktu. Namun sebagaimana Tuhan setia dari generasi ke generasi, Ia pun setia mendampingi perjalanan kita hari demi hari.

Maka hari ini, marilah kita melihat hidup kita dengan kacamata yang lebih luas:
Bahwa setiap bagian dari sejarah kita baik yang indah maupun yang menyakitkan dapat dipakai Tuhan untuk menghadirkan berkat. Bahwa Tuhan setia pada janji-Nya, meski perjalanan kita panjang dan penuh liku.
Bahwa dari hidup yang biasa-biasa saja pun, Tuhan dapat menumbuhkan sesuatu yang luar biasa.

Semoga hati kita semakin berani percaya bahwa Tuhan sedang menulis cerita penyelamatan juga dalam hidup kita, sama seperti Ia menulisnya melalui banyak generasi sebelum Kristus datang. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan