Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Upus Ni Mama GMIM 21-27 Desember 2025, Lukas 1:46-56 Rahmat Tuhan Turun-Temurun Atas Orang-orang Yang Takut Akan Dia

Aprilia Sahari • Rabu, 17 Desember 2025 | 14:13 WIB
LOGO WKI GMIM
LOGO WKI GMIM

Upus Ni Mama GMIM 21-27 Desember 2025
Bacaan Alkitab: Lukas 1:46-56
Tema: "Rahmat Tuhan Turun-Temurun Atas Orang-orang Yang Takut Akan Dia"

Ibu-Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Selamat menikmati sukacita Natal di tahun 2025.

Harapan kiranya damai Natal tidak sekedar kata tanpa makna, tapi akan terus nampak dalam hidup.

Haruslah diakui bahwasanya perjalanan waktu yang panjang telah dilewati dengan segala ritmenya, ada buah manis yang sudah dihasilkan sebagai respon terhadap Rahmat Tuhan, tapi bisa juga buahnya belum ranum sehingga tak sempat dinikmati.

Natal tahun ini kiranya dapat mengingatkan kita untuk berbenah, karena hidup ini hanya seperti uap yang sebentar ada lalu lenyap.

Minggu ini, kita membaca Injil Lukas 1:46-56 tentang Nyanyian Pujian Maria, setelah ia dikunjungi Elisabet yang mengatakan bahwa Maria adalah ibu Tuhanku.

Elisabet dengan tegas menyatakan Maria seperti itu, karena "anak yang di dalam rahimnya melonjak kegirangan".

Selanjutnya Elisabet menyebut berbahagia kepada Maria yang dianggap telah percaya pada pernyataannya sehingga dalam keyakinan Elisabet akan ada peristiwa besar terjadi atas perempuan yang bernama Maria (ay.3945).

Itu sebabnya di ay.46 Maria berkata "Jiwaku memuliakan Tuhan".

Maria adalah seorang perempuan Yahudi dari kaum 'anawim', yaitu kaum yang kecil, tidak dianggap, miskin, termarginal.

Keadaan ini menjadikan Maria, sebagai seorang pribadi yang sadar pada identitas dirinya.

Pujian yang kemudian diberikannya, bukan muncul dari kesombongan religius karena keterpilihannya, tetapi sekali lagi kesadaran diri atas keterbatasan dan ketidaklayakan menerima kasih karunia Allah itu.

Sebagai seorang perempuan muda dan termarginal, dipilih untuk mengandung Mesias, adalah sebuah pernyataan teologis yang sangat radikal di mata manusia.

Dari narasi ini, Lukas hendak menjelaskan bahwa Allah dalam rancangan-Nya untuk menyelamatkan isi dunia ini, tidak bergantung pada status sosial, kekayaan, atau kekuatan duniawi, tetapi sepenuhnya terletak pada kedaulatan dan kasih karunia-Nya semata.

Rahmat (hesed) Tuhan yang dimaksudkan dalam bagian bacaan kita, tidak hanya berhubungan dengan pengampunan atas dosa manusia, melainkan juga kasih karunia dan kesetiaan perjanjian Allah yang terus ada turun temurun kepada orang-orang yang takut akan Dia (ay.50).

Dengan demikian, Rahmat Tuhan itu bersyarat, ia akan diberikan kepada mereka yang takut akan Tuhan.

Kata takut akan Tuhan di sini artinya setia, taat, hormat, patuh, tunduk, dan berserah diri penuh pada kedaulatan Allah.

Dan itulah yang dilakukan Maria ketika ia berkata dalam ayat.48 bahwa Tuhan telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.

Sekali lagi, Maria sangat menyadari identitas dirinya sehingga ketika mendengar apa yang dikatakan Malaikat, Maria hanya bisa berkata "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu (ay.38).

Rahmat Tuhan yang dinarasikan dalam teks ini, sungguh sangat membuat kita tertegun karena sangat revolusioner dan adil.

Rahmat Tuhan menghadirkan rekonsiliasi dan transformasi, di mana yang rendah ditinggikan, yang congkak hatinya dicerai-beraikan, yang lapar dilimpahkan segala yang baik, sedangkan yang kaya disuruh pergi dengan tangan hampa (ay.51-53).

Rahmat Tuhan ini bekerja dari atas ke bawah, memilih yang rendah, miskin, dan termarginal, untuk melakukan perkara-perkara besar.

Maria adalah bukti hidup bahwa Rahmat Tuhan menolak standar kebesaran duniawi.

Injil Lukas 1:46-56, sebenarnya menjadi proklamasi teologis Maria atas Rahmat yang ia terima dari Tuhan.

Menariknya lagi, Maria tidak simpan sendiri Rahmat Tuhan itu, melainkan ia bagikan dalam bentuk Nyanyian Pujian sebagai bentuk kesaksian atas karakter Allah, bahwa Ia adalah Juruselamat (Ay.47) yang setia pada janji (ay.55) dan adil (52-53).

Maria mengakhiri nyanyiannya dengan menempatkan peristiwa yang dialaminya dalam kerangka sejarah keselamatan Israel.

Inkarnasi Yesus adalah bukti bahwa Allah setia mengingat rahmat-Nya kepada Abraham dan keturunannya.

Ibu-Ibu Yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Dari bacaan ini sebagai kaum wanita hendaklah belajar dari Maria, yaitu bahwa sebagai isteri, ibu, dan wanita pekerja hendaklah kita memahami dan menyadari identitas dan harga diri, bahwasanya martabat sejati seorang wanita bukan ditentukan oleh kecantikan, kekayaan dan jabatan sebagai ukuran dunia, tetapi hanya oleh kasih karunia dan pilihan Allah.

Karena itu temukanlah harga dirimu bersama Kristus, dan siap sedia untuk menjadi pribadi yang rendah hati guna dipakai oleh-Nya.

Wanita kaum Ibu adalah Maria masa kini yang dipanggil dan diutus Allah menjadi alat misi-Nya yang berani menyuarakan kebenaran, keadilan, kejujuran, kasih, dan kepedulian, di mulai di dalam keluarga, jemaat dan masyarakat, di tengah pelayanan publik, sebagaimana Maria yang berani bersuara di tengah masyarakat yang didonimasi patriarkhi.

Wanita kaum Ibu harus menjadi agen perubahan yang menolak kesombongan dan eksploitasi.

Seperti Maria, jadilah tiang doa yang senantiasa taat dan setia kepada Dia yang Natal-Nya sedang kita rayakan. Amin

Pertanyaan Untuk Diskusi:
1. Apa yang anda pahami tentang "Rahmat Tuhan atas orang-orang yang takut akan Dia" menurut Lukas 1:46-56?
2. Bagaimana anda mengimplementasikan dalam hidup tiap hari tentang takut akan Tuhan, agar rahmat Tuhan menjadi bagian anda?

Editor : Aprilia Sahari
#Upus Ni Mama GMIM #WKI GMIM #GMIM #Renungan GMIM