Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 21 Desember 2025, Bacaan I Yesaya 7:10-14, Bacaan II Roma 1:1-7, Bacaan Injil Matius 1:18-24

Fandy Gerungan • Kamis, 18 Desember 2025 | 10:16 WIB
Photo
Photo

MINGGU ADVEN IV (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Yesaya 7:10-14

“Seorang perempuan muda akan mengandung.”

Beginilah firman Tuhan Allah kepada Ahas bin Yotam bin Uzia, raja Yehuda, “Mintalah suatu pertanda dari Tuhan, Allahmu, entah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah, entah sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.”

Tetapi Ahas menjawab, “Aku tidak mau minta! Aku tidak mau mencobai Tuhan!” Lalu berkatalah Nabi Yesaya, “Baiklah! Dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga?

Sebab itu, Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia Imanuel.”

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mazmur Tanggapan Mzm 24:1-2.3-4b.5-6

Refrain: Tuhan akan datang. Dialah Raja kemuliaan

Miliklah Tuhanlah bumi dan segala isinya, jagad dan semua yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkan bumi di atas lautan, dan menegakkannya di atas sungai-sungai.

Siapakah yang boleh naik ke gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?

Orang yang bersih tangannya dan muni hatinya, yang tidak menyerahkan diri kepada penipuan, dan tidak bersumpah palsu.

Dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan dan keadilan dari Allah, penyelamatnya. Itulah angkatan orang-orang yang mencari Tuhan, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.

Bacaan II Roma 1:1-7

“Yesus Kristus, keturunan Daud itu adalah Anak Allah.”

Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Injil itu dahulu telah dijanjikan-Nya dengan perantaraan para nabi dalam kitab-kitab suci.

Pokok isinya ialah tentang Anak Allah, yang menurut daging dilahirkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan sebagai Anak Allah yang berkuasa oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati.

Dia itulah Yesus Kristus Tuhan kita. Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Dan kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus, kamu pun termasuk di antara mereka. Kepada kamu semua yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Semoga kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, menyertai kamu.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Bait Pengantar Injil Matius 1:23

Refrain: Alleluya, alleluya, alleluya.

Seorang gadis akan mengandung dan melahirkan putra, nama-Nya: Imanuel, Allah beserta kita.

Bacaan Injil Matius 1:18-24

“Yesus lahir dari Maria, tunangan Yusuf, anak Daud.”

Kelahiran Yesus Kristus adalah sebagai berikut: Pada waktu Maria, ibu Yesus, bertunangan dengan Yusuf, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf, suaminya, seorang yang tulus hati, dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

Tetapi ketika Yusuf mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi, dan berkata,”Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab Anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

Maria akan melahirkan Anak laki-laki, dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Hal itu terjadi supaya genaplah firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi: Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamai Dia Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita.”

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus

Saudara/i dalam hidup, tidak jarang Tuhan datang dengan tawaran yang mengejutkan: sebuah undangan untuk percaya lebih dalam. Namun justru di saat itu, manusia sering memilih aman. Bukan karena iman yang besar, tetapi karena hati yang takut mengambil risiko bersama Tuhan. Kita lebih nyaman mengandalkan perhitungan sendiri daripada membuka diri pada kehendak-Nya.

Dalam kisah seorang raja, kita melihat bagaimana Tuhan sebenarnya membuka ruang dialog. Ia memberi kesempatan untuk meminta tanda, sebagai penguat iman. Namun kesempatan itu ditolak dengan alasan kesalehan. Di balik sikap itu tersembunyi keraguan dan keengganan untuk sungguh menyerahkan diri. Meski demikian, Tuhan tidak berhenti berkarya.

Ketika manusia menutup diri, Tuhan justru mengambil inisiatif. Ia menghadirkan sebuah tanda yang tidak lahir dari kekuasaan atau kekuatan, melainkan dari kelembutan dan kesederhanaan—kehadiran seorang anak yang menjadi lambang bahwa Allah sungguh dekat dengan umat-Nya.

Janji itu tidak berhenti sebagai nubuat. Ia menjelma nyata dalam sejarah. Anak yang lahir dari garis keturunan manusia, namun sekaligus berasal dari Allah sendiri. Dalam diri-Nya, janji lama menemukan kepenuhannya.

Ia bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi pusat kabar baik yang mengubah arah hidup manusia. Melalui-Nya, manusia dipanggil keluar dari keterikatan lama menuju hidup baru dalam iman dan ketaatan.

Namun yang paling menyentuh dari kisah ini bukan hanya tentang kelahiran, melainkan tentang mereka yang terlibat di dalamnya. Seorang perempuan muda yang menerima rencana Tuhan dalam diam. Seorang pria sederhana yang harus memilih antara rasa takut dan ketaatan.

Dalam keheningan mimpi, ia diajak untuk percaya bahwa apa yang terjadi melampaui logika manusia. Dan ketika ia bangun, ia tidak banyak bicara ia bertindak. Ketaatannya menjadi ruang di mana karya keselamatan Allah terus berjalan.

Renungan ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah kita berani mempercayakan hidup kita pada rencana Tuhan, meski tidak semuanya jelas?.
Apakah kita bersedia taat, bukan hanya ketika semuanya masuk akal, tetapi juga ketika jalan Tuhan terasa asing?.

Allah yang sama masih menyertai kita hari ini. Ia hadir bukan selalu lewat tanda besar, tetapi sering melalui panggilan sederhana: untuk percaya, untuk taat, dan untuk berjalan bersama-Nya. Dalam keheningan hati yang terbuka, Tuhan bekerja. Dan di sanalah kita menemukan makna sejati dari iman Allah yang sungguh menyertai. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan