Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 23 Desember 2025, Bacaan I Maleakhi 3:1-4; Bacaan Injil Lukas 1:57-66

Fandy Gerungan • Senin, 22 Desember 2025 | 09:17 WIB
Photo
Photo

Pekan Ke IV Masa Adven (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Maleakhi 3:1-4, 4:5-6

Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.

Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.

Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.

Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.

Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.

Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 25:4bc-5ab.8-9.10.14.

Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.

Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.

TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.

Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.

Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.

TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.

Bacaan Injil Lukas 1:57-66

Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki.

Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.

Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya,

tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes."

Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian."

Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu.

Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan merekapun heran semuanya.

Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea.

Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam hidup, kita sering menantikan kehadiran Tuhan dengan cara kita sendiri. Kita berharap Ia datang membawa kenyamanan, jawaban cepat, dan jalan yang mulus. Namun bacaan hari ini mengingatkan bahwa kedatangan Tuhan justru sering diawali dengan proses yang tidak selalu nyaman: pemurnian hati dan pembaruan hidup.

Allah digambarkan sebagai Dia yang datang untuk membersihkan, seperti api yang memurnikan logam atau air yang membersihkan pakaian. Gambaran ini menyadarkan kita bahwa iman bukan sekadar soal ritual yang rapi di luar, tetapi soal hati yang siap dibentuk.

Tuhan tidak hanya ingin disambut di bait-Nya, melainkan juga di dalam batin kita. Dan ketika Ia datang, Ia ingin menjumpai hati yang jujur, rendah, dan mau diubah.

Karena itu, sebelum Tuhan hadir secara penuh, selalu ada utusan yang diutus untuk menyiapkan jalan. Tugasnya bukan sekadar memberitakan, tetapi membangunkan kesadaran, memanggil orang untuk bertobat, dan memulihkan relasi yang rusak terutama dalam keluarga.

Pertobatan sejati tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi tampak dalam hubungan yang kembali hangat antara orang tua dan anak, antara generasi yang saling memahami dan mengampuni.

Injil hari ini menampilkan kelahiran seorang anak yang sejak awal hidupnya sudah membawa tanda-tanda karya Allah. Anak ini lahir dari penantian panjang, di tengah keterbatasan dan ketidakmungkinan menurut manusia.

Sukacita yang dirasakan bukan hanya oleh orang tuanya, tetapi juga oleh lingkungan sekitarnya. Ketika Allah berkarya, sukacita sejati selalu meluas dan menular.

Menariknya, sejak awal anak ini tidak mengikuti pola dan kebiasaan umum. Namanya tidak diambil dari tradisi keluarga, melainkan dari kehendak Allah. Di sini kita belajar bahwa rencana Tuhan sering kali melampaui kebiasaan, ekspektasi, dan logika manusia.

Dan saat orang tuanya taat pada kehendak Tuhan, belenggu yang sebelumnya membungkam pun dilepaskan. Ketaatan membuka jalan bagi pujian, kesaksian, dan pewartaan.

Orang-orang pun bertanya-tanya tentang masa depan anak ini, sebab mereka melihat jelas bahwa tangan Tuhan menyertainya. Pertanyaan itu sejatinya juga ditujukan kepada kita: menjadi apakah kita di hadapan Tuhan?. Apakah hidup kita sungguh menyiapkan jalan bagi-Nya?. Apakah hati kita bersedia dimurnikan agar kehadiran Tuhan sungguh berkenan?.

Renungan hari ini mengajak kita untuk memberi ruang bagi proses pemurnian Tuhan. Mungkin ada kebiasaan, sikap, atau relasi yang perlu dibersihkan. Jangan takut pada api pemurnian itu, sebab tujuannya bukan menghancurkan, melainkan memurnikan agar hidup kita menjadi persembahan yang menyenangkan bagi-Nya.

Kiranya kita berani taat, setia dalam penantian, dan terbuka pada kehendak Tuhan, sehingga hidup kita sungguh menjadi jalan yang disiapkan bagi kehadiran-Nya di dunia. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan