Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Sabtu, 27 Desember 2025, Yohanes 1:43-51 Datang Dan Lihat Dari Keraguan Menuju Pengakuan Iman

Alfianne Lumantow • Selasa, 23 Desember 2025 | 12:42 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab : Yohanes 1:43-51
Tema : Datang dan Lihat: Dari Keraguan Menuju Pengakuan Iman

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, Firman Tuhan yang kita dengarkan hari ini diambil dari Injil Yohanes pasal 1 ayat 43 sampai 51.

Bagian ini menceritakan bagaimana Yesus memanggil murid-murid-Nya, khususnya Filipus dan Natanael.

Kisah ini sederhana, tetapi mengandung pesan iman yang sangat dalam bagi kehidupan kita sebagai umat Tuhan.

Melalui perjumpaan ini, kita diajak untuk melihat bagaimana iman bertumbuh: dari undangan, dari keraguan, hingga pada pengakuan akan Yesus sebagai Anak Allah.

Kisah ini dimulai dengan keputusan Yesus untuk pergi ke Galilea. Di sana Ia bertemu dengan Filipus dan berkata, “Ikutlah Aku.” Panggilan Yesus sangat singkat, tanpa penjelasan panjang, tanpa janji kenyamanan, dan tanpa jaminan hidup mudah.

Namun panggilan ini mengandung kuasa yang menggerakkan hati Filipus untuk mengikuti Yesus.

Panggilan Yesus kepada Filipus mengingatkan kita bahwa iman sering kali dimulai dari sebuah undangan sederhana.

Tuhan memanggil kita tidak selalu melalui peristiwa besar atau pengalaman spektakuler, tetapi sering kali melalui hal-hal sederhana dalam hidup sehari-hari. Panggilan itu bisa datang melalui Firman yang kita dengar, melalui kesaksian orang lain, atau melalui pergumulan hidup yang membawa kita untuk mencari Tuhan.

Setelah bertemu dengan Yesus, Filipus tidak menyimpan pengalaman itu untuk dirinya sendiri.

Ia segera menemui Natanael dan berkata, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Ini menunjukkan bahwa iman yang hidup selalu mendorong seseorang untuk bersaksi dan membagikan kabar baik kepada orang lain.

Namun respons Natanael sangat manusiawi. Ia berkata, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Nazaret adalah kota kecil yang tidak terkenal, bahkan dipandang rendah.

Keraguan Natanael mencerminkan cara berpikir manusia yang sering menilai sesuatu dari latar belakang, asal-usul, dan penampilan luar.

Berapa sering kita bersikap seperti Natanael? Kita cepat menghakimi, meragukan, atau menolak sesuatu hanya karena tidak sesuai dengan harapan atau standar kita.

Kita meragukan karya Tuhan karena Ia bekerja dengan cara yang sederhana dan tidak sesuai dengan pikiran kita. Namun Tuhan sering justru menyatakan kemuliaan-Nya melalui hal-hal yang dianggap kecil dan tidak berarti oleh dunia.

Menariknya, Filipus tidak berdebat panjang dengan Natanael. Ia tidak memaksa atau membela Yesus dengan argumen rumit.

Ia hanya berkata, “Mari dan lihat.” Kalimat ini sangat penting dalam Injil Yohanes. “Mari dan lihat” adalah undangan untuk mengalami sendiri, bukan hanya mendengar cerita orang lain.

Iman Kristen bukan sekadar hasil diskusi intelektual atau warisan tradisi, tetapi lahir dari perjumpaan pribadi dengan Yesus. Filipus mengajak Natanael untuk bertemu langsung dengan Yesus.

Demikian pula, gereja dan umat Tuhan dipanggil bukan untuk memaksakan iman, tetapi mengundang orang untuk datang dan mengalami kasih Tuhan secara pribadi.

Ketika Natanael datang kepada Yesus, terjadi peristiwa yang mengubah pandangannya. Yesus berkata tentang Natanael, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya.”

Natanael terkejut karena Yesus mengenalnya, bahkan sebelum mereka berjumpa secara langsung. Yesus mengetahui hati dan kehidupan Natanael secara mendalam.

Yesus kemudian berkata bahwa Ia telah melihat Natanael ketika ia berada di bawah pohon ara. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Yesus mengenal Natanael secara pribadi, bahkan dalam saat-saat tersembunyi dalam hidupnya.

Pohon ara sering dihubungkan dengan tempat doa dan perenungan pribadi. Ini menyiratkan bahwa Yesus mengenal Natanael bukan hanya secara lahiriah, tetapi juga secara batiniah.

Pengalaman ini membuat Natanael mengalami perubahan besar. Dari keraguan, ia beralih pada pengakuan iman yang kuat: “Rabi, Engkau adalah Anak Allah, Engkau adalah Raja Israel!”

Pengakuan ini sangat dalam, terutama karena diucapkan pada tahap awal pelayanan Yesus. Natanael menyadari bahwa Yesus bukan sekadar guru atau orang biasa, melainkan Pribadi yang diutus Allah.

Perjalanan iman Natanael mengajarkan kita bahwa Tuhan tidak menolak orang yang ragu. Keraguan bukanlah akhir dari iman, melainkan bisa menjadi awal dari pengenalan yang lebih dalam akan Tuhan.

Tuhan tidak memarahi Natanael karena keraguannya, tetapi justru menyatakan diri-Nya dan membawa Natanael pada iman yang lebih dewasa.

Sering kali kita merasa bersalah ketika ragu atau mempertanyakan iman kita. Namun Firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa Tuhan bersedia menemui kita di tengah keraguan kita. Yang terpenting adalah kita mau datang kepada Yesus dan membuka hati untuk mengalami karya-Nya.

Yesus kemudian berkata kepada Natanael bahwa ia akan melihat hal-hal yang lebih besar. Ia berbicara tentang langit yang terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.

Gambaran ini mengingatkan kita pada kisah Yakub dalam Perjanjian Lama, tentang tangga yang menghubungkan surga dan bumi. Yesus menyatakan bahwa Dialah penghubung antara Allah dan manusia.

Dengan kata lain, Yesus adalah jalan kepada Allah. Melalui Yesus, relasi yang rusak antara manusia dan Allah dipulihkan. Inilah inti dari Injil: Allah datang mendekat kepada manusia, dan manusia dipanggil untuk datang kepada Allah melalui Yesus Kristus.
Bagi kita sebagai umat, Firman ini mengajak kita untuk merenungkan perjalanan iman kita sendiri.

Apakah kita sudah sungguh-sungguh datang dan melihat siapa Yesus itu dalam hidup kita? Ataukah kita hanya mengenal Yesus dari cerita orang lain, dari kebiasaan gereja, atau dari tradisi semata?

Firman ini juga menantang kita untuk menjadi seperti Filipus, yang dengan sederhana mengundang orang lain untuk datang kepada Yesus. Kita mungkin merasa tidak pandai berbicara atau tidak cukup pengetahuan teologi.

Namun kesaksian yang paling kuat sering kali adalah undangan sederhana: “Mari dan lihat,” mari rasakan sendiri kasih Tuhan dalam hidup.

Selain itu, kisah Natanael mengingatkan kita untuk tidak memandang rendah orang lain. Tuhan bisa bekerja melalui siapa saja dan dari mana saja. Jangan sampai prasangka, kebiasaan, atau kenyamanan kita sendiri menghalangi kita untuk melihat karya Tuhan yang sedang berlangsung.

Saudara-saudari yang terkasih, Yohanes 1:43–51 mengajak kita untuk berani melangkah dari keraguan menuju iman, dari penilaian manusia menuju pengenalan akan Kristus. Tuhan mengenal kita lebih dalam daripada kita mengenal diri kita sendiri. Ia melihat hati kita, pergumulan kita, dan kerinduan kita yang tersembunyi.

Marilah kita menjawab panggilan Yesus dengan setia, seperti Filipus. Marilah kita datang dan melihat, seperti Natanael.

Dan marilah kita hidup sebagai umat yang bersaksi tentang Yesus, Sang Anak Allah, yang menghubungkan surga dan bumi, dan yang memberi hidup bagi dunia.

Kiranya Firman Tuhan ini meneguhkan iman kita dan menuntun kita untuk semakin mengenal dan mengikuti Yesus dalam seluruh aspek kehidupan kita. Amin.

Doa : Tuhan Yesus, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengundang kami untuk datang dan melihat kasih-Mu. Teguhkan iman kami, ubahkan keraguan menjadi keyakinan, dan pakailah hidup kami menjadi saksi-Mu bagi sesama. Bimbing langkah kami untuk setia mengikuti Engkau setiap hari. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB