Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Rabu, 30 Desember 2025, Mazmur 124:1-8 Pertolongan Kita Adalah Nama Tuhan

Alfianne Lumantow • Minggu, 28 Desember 2025 | 10:27 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab : Mazmur 124:1-8
Tema : Pertolongan Kita Adalah Nama Tuhan
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, Firman Tuhan yang kita dengarkan hari ini diambil dari Mazmur 124 ayat 1 sampai 8.

Mazmur ini juga merupakan bagian dari Nyanyian Ziarah, yang dinyanyikan umat Israel dalam perjalanan menuju Yerusalem.

Jika Mazmur 120 berbicara tentang seruan dari kesesakan dan Mazmur 122 tentang sukacita beribadah, maka Mazmur 124 adalah mazmur syukur yang lahir dari kesadaran akan pertolongan Tuhan.

Pemazmur mengajak seluruh umat untuk merenungkan satu pertanyaan penting: apa yang akan terjadi jika Tuhan tidak berada di pihak kita?

Mazmur ini dibuka dengan pengakuan iman yang kuat: “Jikalau bukan TUHAN yang di pihak kita—baiklah Israel berkata demikian.” Kalimat ini mengundang umat untuk bersama-sama mengingat kembali perjalanan hidup mereka.

Pemazmur tidak berbicara secara pribadi, tetapi mengajak seluruh Israel untuk mengakui bahwa keberadaan mereka sebagai umat hanya mungkin karena Tuhan menyertai dan menolong.

Pertanyaan ini juga relevan bagi kehidupan kita saat ini. Jika kita menoleh ke belakang dan merenungkan perjalanan hidup kita, kita pun bisa bertanya: di manakah kita sekarang jika bukan karena pertolongan Tuhan?

Banyak dari kita mungkin pernah menghadapi situasi yang hampir membuat kita menyerah: sakit, kegagalan, konflik, kehilangan, atau tekanan hidup yang berat. Namun kita masih berdiri sampai hari ini karena Tuhan ada di pihak kita.

Pemazmur menggambarkan ancaman yang dihadapi umat dengan bahasa yang sangat kuat. Ia berkata bahwa musuh-musuh mereka hampir menelan mereka hidup-hidup.

Gambaran ini menunjukkan betapa besar dan nyata bahaya yang mereka alami. Ini bukan ancaman kecil, melainkan situasi yang bisa menghancurkan seluruh kehidupan mereka.

Dalam kehidupan kita, ancaman tidak selalu datang dalam bentuk fisik atau kekerasan. Ancaman bisa berupa tekanan batin, ketakutan akan masa depan, ketidakpastian ekonomi, konflik relasi, atau pergumulan iman.

Terkadang masalah datang bertubi-tubi hingga kita merasa seolah-olah hidup kita akan “ditelan” oleh keadaan.

Pemazmur kemudian menggunakan gambaran air yang meluap dan arus yang menghanyutkan. Air yang seharusnya memberi kehidupan justru menjadi simbol bahaya yang mengancam.

Ini menggambarkan situasi di mana masalah terasa begitu besar dan di luar kendali, seperti banjir yang datang tiba-tiba dan menyeret segala sesuatu.

Siapa di antara kita yang tidak pernah merasa seperti itu? Ada saat-saat di mana masalah datang begitu cepat dan begitu banyak, sehingga kita merasa kewalahan dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dalam situasi seperti itu, Mazmur 124 mengingatkan kita bahwa tanpa Tuhan, kita tidak akan mampu bertahan.

Namun inti dari mazmur ini bukanlah pada besarnya ancaman, melainkan pada besarnya pertolongan Tuhan. Pemazmur berkata, “Terpujilah TUHAN yang tidak menyerahkan kita menjadi mangsa bagi gigi mereka.”

Kalimat ini adalah pujian yang lahir dari pengalaman nyata akan keselamatan Tuhan. Tuhan tidak membiarkan umat-Nya hancur.

Pemazmur kemudian memakai gambaran burung yang terlepas dari jerat penangkap. Jerat adalah alat yang tersembunyi, licik, dan mematikan.

Banyak ancaman dalam hidup kita juga datang secara tidak terduga. Kita tidak selalu melihat bahaya itu sejak awal. Namun Tuhan sanggup mematahkan jerat dan melepaskan kita.

Pengalaman dilepaskan dari jerat ini mengajarkan kita tentang anugerah Tuhan. Kita diselamatkan bukan karena kecerdikan atau kekuatan kita, tetapi karena Tuhan bertindak.

Ketika jerat itu patah, pemazmur berkata, “kita pun terluput.” Ini adalah kesaksian tentang kebebasan yang diberikan oleh Tuhan.

Mazmur ini mengajak kita untuk hidup dengan kesadaran akan anugerah. Sering kali, setelah melewati masa sulit, kita mudah lupa dan menganggap semuanya sebagai hasil usaha sendiri.

Namun pemazmur dengan jujur mengakui bahwa semua pertolongan itu berasal dari Tuhan. Kesadaran ini menumbuhkan kerendahan hati dan rasa syukur.

Ayat terakhir menjadi penutup yang sangat kuat: “Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Ini bukan hanya pernyataan iman, tetapi juga pengakuan akan kuasa Tuhan yang tidak terbatas.

Tuhan yang menolong umat-Nya bukanlah Tuhan yang lemah, melainkan Pencipta langit dan bumi.

Ketika kita mengandalkan Tuhan, kita mengandalkan Pribadi yang berdaulat atas segala sesuatu. Tidak ada masalah yang terlalu besar bagi-Nya, dan tidak ada situasi yang berada di luar kendali-Nya. Pernyataan ini memberi kita keberanian untuk menghadapi masa depan dengan iman dan pengharapan.

Mazmur 124 juga mengajarkan kita untuk bersyukur bersama sebagai umat. Pengalaman akan pertolongan Tuhan bukan hanya milik pribadi, tetapi juga milik komunitas.

Ketika kita berbagi kesaksian tentang pertolongan Tuhan, iman kita dan iman sesama dikuatkan.

Dalam konteks kehidupan gereja, mazmur ini mengajak kita untuk menjadi komunitas yang saling menguatkan.

Kita dipanggil untuk mengingatkan satu sama lain tentang kesetiaan Tuhan, terutama di saat-saat sulit. Gereja seharusnya menjadi tempat di mana kesaksian tentang pertolongan Tuhan terus diceritakan dan dirayakan.

Saudara-saudari yang terkasih, Mazmur 124 mengajak kita untuk hidup dalam syukur dan kepercayaan penuh kepada Tuhan.

Ketika kita menghadapi ancaman dan kesulitan, kita tidak berjalan sendirian. Tuhan ada di pihak kita. Ia melihat, Ia peduli, dan Ia bertindak.

Marilah kita belajar untuk selalu mengingat pertolongan Tuhan dalam hidup kita. Jangan hanya datang kepada Tuhan ketika kita membutuhkan, tetapi juga datang dengan hati yang penuh syukur ketika kita telah diselamatkan. Biarlah hidup kita menjadi kesaksian tentang kesetiaan Tuhan.

Kiranya Firman Tuhan hari ini meneguhkan iman kita, menguatkan pengharapan kita, dan menuntun kita untuk selalu bersandar kepada Tuhan. Sebab pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Amin.

Doa : Tuhan Allah sumber pertolongan kami, kami bersyukur atas kasih dan penyertaan-Mu dalam setiap perjalanan hidup kami. Engkaulah yang melepaskan dan menopang kami dari segala bahaya. Ajarlah kami selalu bersandar kepada-Mu dan hidup dalam syukur serta iman yang teguh. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB