Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Rabu 31 Desember 2025, Bacaan I 1 Yohanes 2:18-21, Bacaan Injil Yohanis 1:1-18

Fandy Gerungan • Selasa, 30 Desember 2025 | 10:17 WIB
Photo
Photo

Hari ketujuh dalam Oktaf Natal (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I 1 Yohanes 2:18-21

Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.

Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.

Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya.

Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 96:1-2.11-12.13

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi!

Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari.

Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya,

biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai

di hadapan Tuhan, sebab Ia datang. sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia datang menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetianNya.

Bacaan Injil Yohanes 1:1-18

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.

Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;

ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.

Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.

Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku."

Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;

sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.

Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Kita hidup di zaman yang penuh suara. Banyak ajaran, banyak klaim kebenaran, dan tidak sedikit yang tampak meyakinkan. Namun justru di tengah keramaian itulah iman sering diuji. Tidak semua yang berbicara tentang kebenaran sungguh berasal dari kebenaran.

Ada yang tampak sejalan, tetapi perlahan menjauh; ada yang pernah berjalan bersama, namun akhirnya memilih arah lain. Semua ini mengajak kita untuk waspada dan dewasa dalam iman.

Iman Kristen bukan sekadar soal berada dalam komunitas, tetapi soal ketekunan hati. Bertahan dalam kebenaran sering kali lebih sulit daripada memulainya. Ada godaan untuk mengikuti arus, menyesuaikan iman dengan kenyamanan pribadi, atau mencampuradukkan kebenaran dengan kepentingan diri.

Namun Tuhan tidak membiarkan kita berjalan dalam kebingungan. Ia menganugerahkan penerangan batin, agar hati kita mampu membedakan mana yang sejati dan mana yang menyesatkan.

Di tengah dunia yang gelap oleh egoisme, kebohongan, dan ketidakpedulian, hadir Terang yang tidak dapat dipadamkan. Terang itu bukan sekadar ide atau ajaran, melainkan Pribadi yang memberi hidup.

Ia hadir sebelum segala sesuatu ada, dan oleh-Nya segala sesuatu memperoleh makna. Terang ini tidak menjauh dari manusia, tetapi justru masuk ke dalam realitas hidup kita dalam suka dan duka, dalam harapan dan kerapuhan.

Sayangnya, tidak semua orang mau membuka diri. Ada yang menolak karena merasa sudah cukup dengan dunianya sendiri. Namun bagi mereka yang mau menerima, hidup mereka diubah.

Mereka tidak lagi hanya menjadi penonton kehidupan rohani, melainkan diangkat menjadi anak-anak Allah orang-orang yang hidupnya dituntun oleh kasih dan kebenaran.

Renungan hari ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: apakah aku sungguh tinggal dalam terang, atau hanya merasa dekat dengannya?. Apakah aku setia pada kebenaran meski tidak populer?.

Di zaman yang penuh kebingungan ini, iman dipanggil bukan untuk bersembunyi, tetapi untuk bersinar dengan hidup yang jujur, setia, dan penuh kasih.

Semoga kita terus berakar dalam terang sejati, agar tidak mudah goyah oleh arus zaman, dan mampu menjadi saksi harapan bagi dunia yang sedang mencari arah. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan