Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 3 Januari 2026, Bacaan I Yohanes 2:29-3:6, Bacaan Injil Yohanes 1:29-34

Fandy Gerungan • Selasa, 30 Desember 2025 | 10:29 WIB
Photo
Photo

Hari Biasa Masa Natal (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Yohanes 2:29-3:6

Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.

Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.

Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.

Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 98:1,3cd-4,5-6

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.

Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.

Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!

Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring,

dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN

Bacaan Injil Yohanes 1:29-34

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.

Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.

Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel."

Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.

Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.

Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendefinisikan diri berdasarkan peran, status, atau pencapaian. Kita dikenal sebagai pekerja, orang tua, anak, atau anggota masyarakat tertentu.

Namun iman mengajak kita masuk lebih dalam: melihat jati diri yang paling mendasar, yaitu sebagai anak-anak Allah. Ini bukan sekadar gelar rohani, melainkan panggilan hidup yang nyata dan menuntut tanggung jawab.

Sebagai anak Allah, hidup kita seharusnya mencerminkan siapa Bapa kita. Kebenaran, kasih, dan kekudusan bukan hanya nilai indah untuk dikagumi, tetapi jalan hidup yang perlu diperjuangkan setiap hari.

Ketika seseorang memilih untuk berbuat benar, ia sedang menunjukkan dari mana ia berasal. Bukan dari dunia yang sering mengagungkan kepentingan diri, melainkan dari Allah yang adalah sumber kebenaran itu sendiri.

Namun menjadi anak Allah tidak selalu membuat hidup terasa nyaman. Dunia sering kali tidak memahami pilihan hidup yang didasarkan pada iman.

Ketika kita berusaha hidup jujur di tengah budaya manipulatif atau memilih kesetiaan di tengah godaan, kita bisa merasa asing dan sendirian. Tetapi justru di situlah iman diteguhkan: kita diingatkan bahwa pengakuan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan kesetiaan kepada Allah.

Harapan kristiani juga mengarahkan pandangan kita ke masa depan. Hidup ini belum selesai. Ada proses pertumbuhan yang sedang berlangsung, sebuah pembentukan menuju keserupaan dengan Kristus.

Harapan akan perjumpaan penuh dengan-Nya mendorong kita untuk terus membersihkan hati, memperbaiki diri, dan tidak berdamai dengan dosa. Bukan karena kita takut dihukum, tetapi karena kita rindu hidup selaras dengan kasih yang telah lebih dahulu kita terima.

Dalam Injil, kita melihat sosok Yohanes Pembaptis yang rendah hati dan jujur. Ia tidak memusatkan perhatian pada dirinya, tetapi menunjuk kepada Yesus. Ia sadar bahwa tugasnya bukan menjadi pusat, melainkan menjadi saksi.

Dari sikap ini, kita belajar bahwa iman sejati selalu mengarahkan orang lain kepada Kristus, bukan kepada kehebatan pribadi.

Yesus hadir sebagai Dia yang mengangkat beban dosa manusia. Kehadiran-Nya membawa pemulihan dan hidup baru. Ketika kita memilih untuk tinggal dekat dengan-Nya, kita diajak meninggalkan kebiasaan lama yang menjauhkan kita dari Allah. Bukan berarti kita langsung sempurna, tetapi ada arah yang jelas: hidup yang semakin selaras dengan kasih dan kehendak-Nya.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya: apakah hidup kita sudah mencerminkan identitas sebagai anak Allah?. Apakah orang lain dapat melihat Kristus melalui cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak?.

Semoga kita diberi rahmat untuk terus tinggal dalam Dia, agar hidup kita menjadi kesaksian yang hidup tentang kasih Allah di tengah dunia. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan