Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Khotbah Pdt Dr Stefanus Mawitjere MTh, 4-11 Januari 2026 Efesus 5:1-21, Hiduplah Sebagai Anak-anak Terang

Tanya Rompas • Jumat, 2 Januari 2026 | 18:24 WIB

Photo
Photo

SAUDARA-saudara yang dikasihi Tuhan, salah satu pernyataan yang penuh makna soal terang di Alkitab yaitu perkataan Yesus : Akulah Terang Dunia (ἐγώ εἰμι τὸ φῶς τοῦ κόσμου). Yesus tidak sekadar membawa terang; Ia adalah terang itu sendiri, gambaran kehadiran Allah, gambaran terang yang menghapus kegelapan dosa, tapi juga frasa tersebut adalah klaim keilahian sehingga memotivasi kita senantiasa hidup dalam Kristus di sepanjang tahun yang baru 2026 ini.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, kota Efesus sendiri adalah pusat kebudayaan Yunani-Romawi dan rumah bagi kuil Artemis, salah satu keajaiban dunia kuno. Dalam konteks itu, jemaat Efesus hidup di tengah tekanan moralitas duniawi dan nilai-nilai kafir. Karena itu, pasal 5 menjadi seruan pastoral agar umat Allah hidup berbeda sebagai anak-anak terang yang meniru Allah di dalam Kristus.

Paulus membuka perikop ini dengan panggilan: “Jadilah penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih” (bahasa Yunani mimētai, yang berarti “peniru” atau “pengikut teladan). Paulus membuka pasal ini dengan seruan yang mendalam: “Jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih, dan hiduplah di dalam kasih.” Dalam bahasa Yunani, kata mimētai tou Theou berarti “peniru Allah” — dari sinilah lahir istilah teologis Imitatio Dei, yakni panggilan untuk meneladani karakter Allah dalam kehidupan nyata. Menurut tafsiran biblika, konteks ayat ini melanjutkan tema kehidupan baru dalam Kristus (Ef. 4:22–32): orang yang telah ditebus kini dipanggil bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi mencerminkan kasih dan kekudusan Allah dalam relasi dengan sesama. Dasar teladan itu adalah kasih Kristus yang “telah mengasihi kita dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Kasih itu bukan perasaan sentimental, tetapi tindakan pengorbanan aktif.

Pandangan teologi Reformed menekankan bahwa Imitatio Dei bukan usaha manusia untuk menjadi seperti Allah melalui kekuatan diri, melainkan respons syukur atas karya anugerah. Calvin menulis bahwa “tidak ada jalan yang lebih baik untuk menghormati Allah daripada meniru kebaikan-Nya yang telah kita terima.” Roh Kuduslah yang memperbarui hati sehingga orang percaya dapat meneladani kasih Kristus dalam hidup sehari-hari. 

Ini bukan sekedar imitasi lahiriah, tetapi suatu transformasi batin melalui karya Roh Kudus supaya hidup meniru Allah, terutama hidup di dalam kasih, sebab kasih adalah sifat utama Allah yang dinyatakan sempurna dalam Kristus. Kasih Kristus yang rela berkorban menjadi dasar iman Kristen. Dalam teologi Reformed, hal ini disebut imitatio Dei—peniruan terhadap Allah yang tidak didasarkan pada usaha manusia, melainkan respons anugerah terhadap karya penebusan Kristus. John Calvin menyatakan bahwa peniruan terhadap Allah hanya mungkin terjadi bila manusia telah diperbaharui oleh Roh Kudus, sebab tanpa kelahiran baru, manusia hanya meniru dosa lamanya.

Selanjutnya Paulus memperingatkan jemaat agar menjauhi segala bentuk kenajisan, keserakahan, dan percabulan (ay. 3–7). Istilah porneia (percabulan) dan pleonexia (keserakahan) mencerminkan dua bentuk penyembahan berhala modern: kenikmatan dan materi. Dalam konteks Efesus, kedua hal ini terkait erat dengan ritual kafir di kuil Artemis. Paulus mengingatkan bahwa hidup semacam itu tidak layak bagi orang kudus, sebab umat Allah dipanggil untuk hidup dalam kekudusan dan ucapan syukur. Efesus 5:3–7 dengan tegas memperingatkan agar “percabulan dan segala kecemaran atau keserakahan”. Seruan ini tidak sekedar moralistik, tetapi bersifat teologis — mengakar pada identitas baru orang percaya sebagai anak-anak terang (ay. 8). Dalam bahasa Yunani, kata porneia (ayat 3) mencakup segala bentuk penyimpangan seksual, sedangkan akatharsia berarti kenajisan moral yang mencemarkan hati dan pikiran. Paulus menegaskan bahwa dosa seksual bukan sekadar pelanggaran etis, tetapi pemberontakan terhadap kekudusan Allah yang telah menebus tubuh dan jiwa.

Dalam tradisi Reformed, Calvin menafsirkan bahwa Paulus ingin umat Allah “menyadari tubuh mereka bukan milik sendiri, tetapi bait Roh Kudus.” Karena itu, setiap bentuk hawa nafsu yang menomorsatukan keinginan diri di atas kehendak Kristus adalah bentuk penyembahan berhala. John Stott menambahkan bahwa dosa seksual dan keserakahan memiliki akar yang sama yaitu cinta diri yang berpusat pada kenikmatan pribadi, bukan pada kasih yang rela berkorban. 

Bagian tengah perikop (ay. 8–14) menjadi inti teologisnya:” Paulus tidak berkata bahwa mereka hidup di dalam kegelapan, melainkan bahwa mereka adalah kegelapan itu sendiri. Ini menunjukkan sifat eksistensial dosa: manusia tanpa Kristus tidak hanya tersesat, tetapi adalah bagian dari kegelapan itu. Namun dalam Kristus, identitas mereka diubah menjadi terang. Dalam tradisi Reformed, ini menggambarkan doktrin union with Christ—persatuan dengan Kristus yang membawa manusia keluar dari kegelapan menuju terang kasih karunia. Hidup dalam terang berarti menghasilkan buah kebenaran, keadilan, dan kebenaran (ay. 9). Paulus kemudian menasihati jemaat agar tidak mengambil bagian dalam perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa (ay. 11). Perbuatan kegelapan bersifat destruktif, tersembunyi, dan mematikan, sedangkan terang menyingkapkan dan memperbarui. 

Secara gramatikal kata Yunani phōs (terang) di ayat 8 mengacu bukan pada sesuatu yang dimiliki, tetapi identitas: “Kamu dahulu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.” Paulus tidak berkata “memiliki terang,” melainkan menjadi terang—transformasi eksistensial yang dihasilkan oleh kasih karunia Kristus. Kegelapan (skotos) menunjuk pada sistem dunia yang menolak Allah dan menyembunyikan dosa. Karena itu, tugas orang percaya bukan sekadar menjauhi dosa, tetapi “menelanjangi” (ayat 11, elenchete) artinya mengungkap, menegur, dan melawan kegelapan dengan kesaksian hidup yang kudus. Dalam ayat 14, kutipan liturgis kuno “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati, dan Kristus akan bercahaya atas kamu,” mengingatkan bahwa terang Kristus membangunkan dari kematian rohani menuju kehidupan baru.

Pada bagian terakhir (ay. 15–21), Paulus menasihati agar jemaat hidup dengan bijaksana, memakai waktu dengan baik, dan penuh dengan Roh. Hidup bijaksana berarti menilai segala sesuatu dari perspektif kekekalan. Kata kairos yang dipakai untuk “waktu” menandakan momen yang bernilai, bukan sekadar durasi kronologis. Orang yang bijaksana mengisi hidupnya dengan penyembahan sejati, ucapan syukur, dan ketundukan dalam kasih, dan berpusat pada Kristus. Roh Kudus memampukan orang percaya untuk memuji Tuhan, bersyukur dalam segala hal, dan saling merendahkan diri di dalam kasih Kristus (ay. 18–21).

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, renungan ini memberikan pesan firman : Yesus berkata, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Ini berarti hidup di zaman yang penuh pilihan, godaan, dan kegelapan moral hanya bisa dijalani dengan satu arah terang — yaitu Kristus. Dunia menawarkan banyak “lampu neon” yang tampak indah: kesenangan sesaat, pencitraan di media sosial, dan ambisi pribadi. Namun semua itu cepat padam. Hanya terang Kristus yang memberi arah sejati dan tidak pernah padam. Orang Kristen dipanggil untuk memancarkan terang lewat pikiran, perkataan, perbuatan bahkan lewat media sosial. Karena itu, biarlah setiap langkahmu dipimpin oleh Yesus, Sang Terang Dunia, agar hidupmu bersinar di tengah zaman yang menawarkan nikmatnya kegelapan, tetaplah hiduplah dalam terang Kristus di sepanjang tahun baru 2026 ini. Amin. (***)

Editor : Tanya Rompas