Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 6 Januari 2026, Bacaan I 1 Yohanes 4:7-10, Bacaan Injil Markus 6:34-44

Fandy Gerungan • Senin, 5 Januari 2026 | 14:41 WIB
Photo
Photo

Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I 1 Yohanes 4:7-10

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.

Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 72:2.3-4ab.7-8

Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!

Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran!

Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras!

Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan!

Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi!

Bacaan Injil Markus 6:34-44

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.

Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini."

Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?"

Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan."

Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.

Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.

Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.

Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.

Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.

Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i kasih bukan sekadar perasaan hangat atau kata-kata indah. Kasih sejati selalu berawal dari Allah dan selalu mengalir keluar untuk memberi hidup. Ketika seseorang mampu mengasihi dengan tulus, di situlah tampak bahwa ia hidup dekat dengan Tuhan.

Sebaliknya, ketika hati tertutup terhadap sesama, sebenarnya kita sedang menjauh dari sumber kasih itu sendiri.

Bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa kasih Allah bukan reaksi atas kebaikan manusia. Kasih itu mendahului segalanya. Bahkan sebelum kita mampu membalas atau memahami, Allah lebih dahulu mengambil inisiatif untuk mendekat, memulihkan, dan menyelamatkan.

Dari sinilah kita belajar bahwa mengasihi bukan menunggu pantas atau tidak pantas, melainkan keberanian untuk memberi diri.

Injil menggambarkan wajah kasih itu secara sangat nyata. Yesus melihat kerumunan orang yang datang dengan kelelahan, kebingungan, dan kebutuhan yang nyata. Ia tidak menutup mata, tidak pula menyuruh mereka pergi.

Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Ia mengajar mereka, mendampingi mereka, dan pada akhirnya memperhatikan kebutuhan paling sederhana: rasa lapar.

Yang menarik, Yesus tidak langsung menyelesaikan semuanya sendiri. Ia mengajak para murid untuk terlibat. Apa yang tampak sangat kecil sedikit roti dan ikan menjadi awal dari mukjizat besar ketika diserahkan dengan kepercayaan.

Di tangan Tuhan, keterbatasan tidak menjadi penghalang, tetapi menjadi sarana untuk menyatakan kasih yang berlimpah.

Renungan ini mengajak kita bercermin: sering kali kita merasa tidak cukup tidak cukup mampu, tidak cukup waktu, tidak cukup sumber daya untuk peduli dan berbagi.

Namun Tuhan tidak meminta kita memiliki segalanya. Ia hanya meminta kita memberikan apa yang ada dengan hati yang terbuka. Dari sana, kasih-Nya bekerja dan melampaui perhitungan manusia.

Ketika kita berani mengasihi, berbagi, dan terlibat dalam kebutuhan sesama, kita sedang mengambil bagian dalam karya Allah sendiri. Kasih yang kita bagikan mungkin tampak sederhana, tetapi di tangan Tuhan, kasih itu mampu mengenyangkan banyak hati dan memberi harapan baru.

Semoga kita semakin berani hidup dalam kasih, karena dari sanalah hidup sejati mengalir. (*

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan