Ibrani 12:5–9
Tema: Didikan Tuhan sebagai Tanda Kasih Seorang Bapa
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan hari ini diambil dari surat Ibrani 12:5–9, sebuah nas yang mengingatkan kita tentang satu hal yang sering kali sulit diterima, namun sangat penting dalam perjalanan iman kita, yaitu didikan Tuhan. Banyak orang percaya mengasihi berkat Tuhan, menyukai penghiburan Tuhan, dan bersukacita atas pertolongan Tuhan. Tetapi ketika berbicara tentang teguran, disiplin, dan didikan dari Tuhan, tidak sedikit orang yang mulai bertanya: “Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Apakah Tuhan masih mengasihi saya?”
Melalui firman-Nya, Tuhan ingin meluruskan cara pandang kita. Penulis surat Ibrani menulis kepada jemaat yang sedang mengalami tekanan, penderitaan, dan tantangan iman. Mereka mulai lelah, putus asa, bahkan tergoda untuk mundur dari iman. Dalam situasi seperti itu, firman Tuhan datang bukan untuk memanjakan, melainkan untuk menguatkan dan mendewasakan.
Firman Tuhan berkata, “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:5–6).
Saudara-saudari, firman ini langsung menegaskan satu kebenaran penting: didikan Tuhan adalah bukti kasih, bukan tanda penolakan. Di dalam dunia ini, kita sering mengaitkan kasih dengan kenyamanan. Namun kasih Tuhan tidak selalu dinyatakan lewat kenyamanan, melainkan lewat pembentukan karakter dan iman.
Penulis Ibrani mengutip Amsal untuk menunjukkan bahwa apa yang dialami jemaat bukanlah hal baru. Sejak dahulu, Tuhan mendidik umat-Nya seperti seorang ayah mendidik anaknya. Seorang ayah yang baik tidak membiarkan anaknya tumbuh tanpa arahan. Ia menegur ketika anaknya salah, meluruskan ketika anaknya menyimpang, dan terkadang harus bersikap tegas demi kebaikan masa depan anak tersebut.
Masalahnya, sering kali kita menganggap enteng didikan Tuhan atau sebaliknya menjadi putus asa karena didikan itu. Menganggap enteng berarti kita tidak mau belajar, tidak mau bertobat, dan tidak mau berubah. Sementara putus asa berarti kita merasa Tuhan tidak adil, merasa ditinggalkan, dan kehilangan pengharapan. Firman Tuhan hari ini menegur dua sikap ini sekaligus.
Saudara-saudari, didikan Tuhan bukanlah hukuman yang bertujuan menghancurkan, melainkan proses pembentukan. Tuhan tidak sedang melampiaskan murka-Nya, tetapi sedang membentuk kita menjadi pribadi yang serupa dengan kehendak-Nya. Seperti emas yang dimurnikan melalui api, demikian juga iman kita dimurnikan melalui proses yang tidak selalu menyenangkan.
Selanjutnya, firman Tuhan berkata, “Jika kamu harus menanggung ganjaran, maka Allah memperlakukan kamu seperti anak.” (ayat 7). Kalimat ini sangat kuat. Artinya, ketika kita mengalami didikan Tuhan, justru di situlah kita ditegaskan sebagai anak-anak Allah. Sebaliknya, firman Tuhan mengatakan bahwa jika seseorang tidak pernah mengalami didikan, ia bukanlah anak, melainkan orang luar.
Ini mungkin terdengar keras, tetapi sesungguhnya sangat penuh kasih. Tuhan tidak pernah bersikap acuh terhadap anak-anak-Nya. Ia tidak membiarkan kita hidup sembarangan, terjebak dalam dosa, dan akhirnya binasa. Teguran Tuhan adalah tanda bahwa Ia masih peduli, masih memperhatikan, dan masih bekerja dalam hidup kita.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, sering kali kita lebih mudah menerima teguran dari Tuhan di bibir, tetapi sulit menerimanya dalam pengalaman hidup. Ketika rencana kita gagal, ketika usaha kita tidak berhasil, ketika hubungan kita retak, atau ketika kesehatan kita terganggu, kita langsung mengeluh dan mempertanyakan Tuhan. Namun firman Tuhan mengajak kita untuk bertanya dengan cara yang berbeda: “Tuhan, apa yang ingin Engkau ajarkan melalui peristiwa ini?”
Didikan Tuhan bukan hanya terjadi melalui penderitaan, tetapi juga melalui kekecewaan, penantian, dan kegagalan. Semua itu adalah sarana Tuhan untuk membentuk kerendahan hati, kesabaran, ketaatan, dan iman yang dewasa. Tanpa didikan, iman kita akan tetap dangkal dan rapuh.
Penulis Ibrani kemudian membandingkan didikan Tuhan dengan didikan orang tua di dunia. Ia berkata bahwa orang tua jasmani mendidik kita menurut apa yang mereka anggap baik, dan kita menghormati mereka. Apalagi Tuhan, Bapa kita di sorga, yang mendidik kita demi kebaikan sejati, yaitu supaya kita mendapat bagian dalam kekudusan-Nya.
Di sinilah letak tujuan utama dari didikan Tuhan: kekudusan. Tuhan tidak hanya ingin kita menjadi orang baik menurut ukuran dunia, tetapi menjadi umat yang hidup sesuai kehendak-Nya. Kekudusan bukanlah kesempurnaan tanpa cela, melainkan hidup yang terus dibentuk, ditegur, dan diarahkan oleh Tuhan.
Saudara-saudari, hidup sebagai orang percaya bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan hidup yang mau dibentuk oleh Tuhan di tengah masalah. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan adalah Bapa, maka kita tidak lagi melihat didikan sebagai ancaman, melainkan sebagai anugerah. Kita belajar untuk berserah, percaya, dan taat, bahkan ketika kita tidak sepenuhnya mengerti jalan Tuhan.
Firman Tuhan hari ini juga mengajak kita untuk memiliki sikap hati yang benar. Jangan memberontak, jangan mengeraskan hati, tetapi rendahkan diri di hadapan Tuhan. Akui bahwa kita membutuhkan didikan-Nya. Seorang anak yang dewasa bukanlah anak yang tidak pernah ditegur, melainkan anak yang mau belajar dari teguran.
Bagi jemaat yang mungkin sedang lelah, terluka, atau merasa hidup tidak adil, firman Tuhan ini menjadi penghiburan. Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia sedang bekerja, meskipun dengan cara yang tidak selalu kita pahami. Didikan Tuhan mungkin menyakitkan untuk sesaat, tetapi menghasilkan buah kebenaran dan damai sejahtera bagi mereka yang dilatih olehnya.
Akhirnya, saudara-saudari, marilah kita memandang hidup ini dengan kacamata iman. Ketika Tuhan menegur, itu berarti Ia mengasihi. Ketika Tuhan mendidik, itu berarti Ia mengakui kita sebagai anak-Nya. Dan ketika kita mau tunduk pada didikan-Nya, kita sedang dibentuk menjadi umat yang berkenan kepada-Nya.
Kiranya firman Tuhan hari ini menolong kita untuk tidak takut pada didikan Tuhan, tetapi justru bersyukur dan belajar darinya. Sebab di balik setiap proses, ada kasih Bapa yang setia, yang rindu melihat anak-anak-Nya bertumbuh, dewasa, dan hidup dalam kebenaran. Amin.
Doa : Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang menegur dan membentuk hidup kami. Ajarlah kami menerima didikan-Mu dengan iman dan kerendahan hati. Kuatkan kami dalam setiap proses, agar hidup kami semakin serupa dengan kehendak-Mu dan memuliakan nama-Mu. Di dalam Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas