Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Kamis, 8 Januari 2026, 1 Tesalonika 5:6-11 Hari Tuhan Siapa Takut

Alfianne Lumantow • Senin, 5 Januari 2026 | 21:58 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.
Pembacaan Alkitab : 1 Tesalonika 5:6–11
HARI TUHAN, SIAPA TAKUT!

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, firman Tuhan yang kita renungkan pada kesempatan ini mengajak kita untuk melihat kembali bagaimana seharusnya sikap hidup orang percaya dalam menantikan Hari Tuhan.

Tema yang diangkat terdengar cukup menantang: “Hari Tuhan, siapa takut!” Ungkapan ini bukan ajakan untuk meremehkan Hari Tuhan, melainkan sebuah pernyataan iman bahwa orang yang hidup di dalam Kristus tidak perlu gentar, sebab hidupnya dijaga dalam terang, pengharapan, dan keselamatan dari Tuhan.

Rasul Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Tesalonika yang sedang bergumul dengan banyak pertanyaan, khususnya mengenai kedatangan Tuhan kembali. Ada di antara mereka yang resah, takut, bahkan bingung.

Mereka bertanya-tanya: kapan Hari Tuhan itu datang? Bagaimana nasib mereka yang telah meninggal? Apakah mereka yang masih hidup sudah siap? Menanggapi kegelisahan itu, Paulus tidak memberikan tanggal atau waktu yang pasti.

Sebaliknya, ia mengarahkan jemaat pada sikap hidup yang benar dalam menantikan Hari Tuhan.

Paulus menegaskan bahwa bagi orang-orang yang telah percaya kepada Kristus, Hari Tuhan bukanlah ancaman, melainkan penggenapan janji Allah.

Namun, sikap menantikan itu tidak boleh dijalani dengan kelalaian. Karena itu Paulus berkata: “Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar…” (ay.8)

Ungkapan “orang-orang siang” menunjuk pada mereka yang hidup dalam terang Kristus. Orang-orang siang adalah mereka yang hidupnya diterangi oleh firman Tuhan, bukan oleh kegelapan dosa. Karena itu, hidup orang percaya seharusnya berbeda dengan mereka yang hidup dalam kegelapan.

Paulus kemudian menekankan satu kata kunci penting: berjaga-jaga. Berjaga-jaga bukan berarti hidup dalam ketakutan, melainkan hidup dalam kesadaran rohani.

Kesadaran bahwa hidup ini adalah anugerah Tuhan dan setiap tindakan kita memiliki makna di hadapan-Nya. Berjaga-jaga berarti hidup dengan penuh tanggung jawab iman.

Untuk menjelaskan sikap berjaga-jaga ini, Paulus menggunakan gambaran yang sangat kuat, yaitu: “jangan tidur”. Tidur di sini bukan berbicara tentang istirahat fisik, melainkan kondisi rohani yang terlelap.

Orang yang “tidur” adalah orang yang hidup tanpa kepekaan rohani, tanpa kepekaan terhadap kehendak Tuhan. Ia terbuai oleh kenyamanan, kenikmatan dunia, dan rutinitas hidup, hingga tidak menyadari bahwa hidupnya telah menjauh dari kebenaran.

Saudara-saudari, gambaran ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini. Dunia menawarkan banyak hal yang bisa membuat kita “tertidur” secara rohani: kesibukan, ambisi, hiburan, pencapaian materi, bahkan rutinitas keagamaan yang dijalani tanpa hati. Semua itu bisa membuat seseorang tampak aktif, tetapi sebenarnya kehilangan kepekaan terhadap suara Tuhan.

Karena itu, Paulus mengingatkan jemaat agar tetap sadar dan membentengi diri. Ia menuliskan: “Berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan” (ay.8).

Ini adalah gambaran perlengkapan rohani yang harus dikenakan oleh orang percaya. Bajuzirah iman dan kasih menunjukkan bahwa iman tidak boleh berdiri sendiri. Iman harus dinyatakan dalam kasih, dalam perbuatan nyata yang mencerminkan kehendak Tuhan. Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama adalah tanda bahwa iman kita hidup.

Sementara itu, ketopong pengharapan keselamatan melambangkan keyakinan akan masa depan yang Tuhan sediakan. Pengharapan ini bukan pengharapan kosong, tetapi pengharapan yang berakar pada keselamatan yang telah dikerjakan oleh Kristus.

Dengan pengharapan inilah orang percaya mampu bertahan, meski hidup di tengah tantangan, penderitaan, dan ketidakpastian.

Paulus kemudian menegaskan dasar dari pengharapan ini, yaitu karya keselamatan Allah. Ia berkata bahwa Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, melainkan untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus.

Artinya, hidup orang percaya berdiri di atas anugerah, bukan atas usaha manusia semata. Keselamatan yang Tuhan sediakan menjadi dasar keyakinan bahwa Ia setia memelihara umat-Nya.

Saudara-saudari, ini adalah kabar yang meneguhkan. Tuhan tidak menghendaki kita kembali kepada kehidupan yang gelap dan tidak benar. Tuhan tidak meninggalkan kita berjalan sendirian. Ia hadir, menyertai, dan menuntun kita dalam perjalanan iman.

Namun, menantikan Hari Tuhan dalam kesetiaan memang bukan perkara mudah. Ada kalanya kita merasa lelah, bosan, bahkan putus asa.

Karena itu, Paulus memberikan nasihat yang sangat penting di ayat 11: “Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.”

Iman tidak dimaksudkan untuk dijalani sendirian. Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam komunitas. Dalam komunitas iman, kita saling menguatkan, saling menegur dengan kasih, dan saling membangun.

Ketika satu orang lemah, yang lain menopang. Ketika satu orang jatuh, yang lain mengangkat. Inilah kekuatan dari persekutuan umat Tuhan.

Jemaat Tesalonika diajak untuk menjadikan penantian akan Hari Tuhan sebagai ajang sukacita, bukan ketakutan. Sukacita itu tumbuh ketika jemaat hidup dalam kebersamaan, saling mendukung, dan tetap setia dalam iman. Komunitas yang saling menguatkan akan dimampukan untuk tetap berjaga-jaga dan setia hingga Tuhan datang.

Paulus juga mengingatkan agar fokus hidup kita bukan pada kuantitas, tetapi pada kualitas. Bukan seberapa lama kita menanti, melainkan bagaimana kita hidup selama menanti. Kualitas hidup yang beriman, penuh kasih, dan berpengharapan itulah yang menjadi kesaksian nyata di tengah dunia.

Saudara-saudari, komunitas iman masa kini dipanggil untuk menjadi komunitas yang hidup. Komunitas yang terbuka untuk saling berbagi, berdiskusi, dan memberi dukungan. Komunitas yang memaknai hidup sebagai anugerah Tuhan, bukan sebagai beban. Dalam komunitas seperti inilah, iman dipelihara dan pengharapan diteguhkan.

Mengakhiri perenungan ini, kita diingatkan bahwa Hari Tuhan pasti datang. Pertanyaannya bukan kapan, tetapi bagaimana sikap hidup kita hari ini. Apakah kita hidup sebagai orang-orang siang yang sadar dan berjaga-jaga, ataukah kita terlelap dalam kenyamanan dunia?

Hari Tuhan, siapa takut? Bagi orang yang hidup dalam iman, kasih, dan pengharapan, Hari Tuhan adalah pengharapan yang penuh sukacita. Karena itu, marilah kita terus berjaga-jaga, saling menguatkan, dan membangun satu sama lain. Biarlah hidup kita menjadi kesaksian yang memuliakan Tuhan, sampai hari kedatangan-Nya. Amin.

Doa : Tuhan yang setia, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengingatkan kami untuk hidup berjaga-jaga. Kuatkan iman, kasih, dan pengharapan kami dalam menantikan Hari-Mu. Mampukan kami saling menguatkan dan membangun sebagai satu tubuh Kristus. Jagalah hidup kami agar tetap setia hingga akhir. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas