Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 11 Januari 2026, Bacaan I Yesaya 42:1-4,6-7, Bacaan II Kisah Para Rasul 10:34-38, Bacaan Injil Matius 3:13-17

Fandy Gerungan • Rabu, 7 Januari 2026 | 10:16 WIB
Photo
Photo

PESTA PEMBABTISAN TUHAN (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Yesaya 42:1-4,6-7

“Lihat, itu hamba-Ku, yang kepadanya Aku berkenan.”

Beginilah firman Tuhan, “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku yang kepada-Nya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.

Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suaranya, atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan ia padamkan, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.

Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.” Beginilah firman Tuhan, “Aku, Tuhan, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan.

Aku telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan membuat engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.”

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan Mzm. 29:1a-2,3ac-4.3b,9b-10

Refrain: Tuhan memberkati umat-Nya dengan damai sejahtera.

Sampaikanlah kepada Tuhan, hai penghuni surga, sampaikanlah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan!

Suara Tuhan terdengar di atas air, suara Tuhan mengguruh di atas air yang besar. Suara Tuhan penuh kekuatan, suara Tuhan penuh semarak.

Allah yang mulia mengguntur. Di dalam bait-Nya setiap orang berseru, “Hormat!” Tuhan bersemayam di atas air bah, Tuhan bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya.

Bacaan II Kisah Para Rasul 10:34-38

“Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus.”

Sekali peristiwa Allah menyuruh Petrus menemui perwira Romawi dan seisi rumahnya. Setibanya di rumah sang perwira, Petrus berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membeda-bedakan orang.

Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Allah dan mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh karena Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.

Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea mulai dari Galilea sesudah pembaptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang Yesus dari Nazaret: Bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa.

Yesus itu telah berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.”

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil Markus 9:6;2/4

Ref.rain: Alleluya, alleluya.

Ayat: Langit terbuka, dan terdengarlah suara Bapa, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!”

Bacaan Injil Matius 3:13-17

“Sesudah dibaptis, Yesus melihat Roh Allah turun ke atas-Nya.”

Ketika Yohanes membaptis di Sungai Yordan, datanglah Yesus dari Galilea ke sana untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, “Akulah yang musti dibaptis oleh-Mu! Masakan Engkau yang datang kepadaku!”

Lalu Yesus menjawab kepadanya, kata-Nya, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menurutinya.

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air, dan pada waktu itu juga langit terbuka, dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i hari ini kita diajak merenungkan wajah Allah yang hadir dengan cara yang lembut, tidak memaksa, namun penuh kuasa. Allah memperkenalkan karya keselamatan-Nya bukan lewat teriakan, bukan lewat pamer kekuatan, melainkan melalui seorang hamba yang setia, rendah hati, dan penuh belas kasih. Inilah cara Allah bekerja: tenang, sabar, namun mengubah dunia.

Hamba yang dipilih Allah digambarkan sebagai pribadi yang peka terhadap kerapuhan manusia. Ia tidak menghancurkan yang sudah rapuh, tidak memadamkan harapan yang hampir padam.

Sebaliknya, ia merawat, menguatkan, dan menegakkan keadilan dengan kesetiaan. Dari sini kita belajar bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk menekan, melainkan kesanggupan untuk menopang dan memulihkan.

Karya keselamatan ini tidak berhenti pada satu bangsa atau kelompok tertentu. Allah menunjukkan bahwa kasih dan keselamatan-Nya bersifat universal. Siapa pun yang membuka diri pada kebenaran dan hidup dalam kehendak-Nya berkenan di hadapan Allah.

Tidak ada batas suku, latar belakang, atau status. Semua dipanggil untuk mengalami damai sejahtera yang lahir dari perjumpaan dengan Kristus.

Yesus hadir sebagai pribadi yang diurapi oleh Roh Kudus dan berjalan di tengah manusia dengan satu tujuan: berbuat baik. Ia mendekati mereka yang tersisih, menyembuhkan yang terluka, dan membebaskan yang terbelenggu. Hidup-Nya menjadi tanda nyata bahwa Allah tidak jauh, tetapi menyertai manusia dalam perjuangan dan penderitaan mereka.

Peristiwa pembaptisan Yesus menyingkapkan identitas-Nya secara mendalam. Ia yang tidak berdosa justru memilih untuk berdiri sejajar dengan manusia, masuk ke dalam air, dan taat sepenuhnya pada kehendak Bapa. Di sanalah tampak relasi kasih yang utuh antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sebuah pengakuan ilahi bahwa jalan kerendahan hati adalah jalan yang berkenan kepada Allah.

Bagi kita, permenungan ini menjadi undangan untuk melihat kembali makna baptisan yang telah kita terima. Kita pun telah dipilih, diurapi, dan diutus. Dipanggil untuk menjadi terang di tengah kegelapan, membuka mata hati yang tertutup, dan menghadirkan harapan bagi mereka yang hampir menyerah. Bukan dengan kehebatan diri, tetapi dengan kesetiaan dalam hal-hal kecil dan kasih yang nyata.

Semoga kita berani berjalan di jalan Kristus: jalan kerendahan hati, ketaatan, dan pelayanan. Jalan yang mungkin sunyi dan tidak selalu dipuji, namun itulah jalan yang membawa terang dan keselamatan bagi banyak orang. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan