Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Senin 12 Januari 2026, Bacaan I 1 Samuel 1:1-8, Bacaan Injil Markus 1:14-20

Fandy Gerungan • Rabu, 7 Januari 2026 | 10:18 WIB
Photo
Photo

Pekan Biasa I (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Samuel 1:1-8

Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim.

Orang ini mempunyai dua isteri: yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak.

Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas.

Pada hari Elkana mempersembahkan korban, diberikannyalah kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya yang laki-laki dan perempuan masing-masing sebagian.

Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya.

Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya.

Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan.

Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: "Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?"

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 116:12-13,14,17,18-19

Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?

Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN,

akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya.

Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN,

akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya,

di pelataran rumah TUHAN, di tengah-tengahmu, ya Yerusalem! Haleluya!

Bacaan Injil Markus 1:14-20

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah,

kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.

Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."

Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.

Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu.

Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada orang yang tampak lengkap dan bahagia, namun menyimpan luka yang dalam. Hana adalah gambaran dari banyak orang yang setia, tulus, dan taat beribadah, tetapi harus menanggung kenyataan pahit yang terus mengusik hatinya.

Setiap tahun ia datang ke rumah Tuhan dengan hati yang sama: berharap, namun pulang dengan kesedihan yang belum terjawab.

Yang membuat penderitaan itu semakin berat bukan hanya keadaan, tetapi juga sikap orang di sekitarnya. Luka Hana diperdalam oleh perbandingan, ejekan, dan rasa tidak dihargai. Bahkan kasih suaminya yang tulus pun tidak sepenuhnya mampu mengisi kekosongan di hatinya.

Dari sini kita belajar bahwa ada kesedihan yang tidak bisa dihibur oleh kata-kata, harta, atau perhatian manusia. Hanya Tuhan yang sungguh mengenal dan memahami jeritan hati yang paling dalam.

Namun menariknya, di tengah kesedihan itu, Hana tidak meninggalkan Tuhan. Ia tetap datang ke hadapan-Nya, meski dengan air mata dan hati yang remuk. Ia mengajarkan kepada kita bahwa iman sejati bukanlah tidak pernah terluka, melainkan tetap setia mencari Tuhan ketika luka itu terasa paling menyakitkan.

Dalam Injil, kita melihat wajah Tuhan yang berbeda, namun dengan maksud yang sama: memulihkan dan mengubah hidup. Yesus datang membawa kabar baru dan mengajak orang-orang sederhana untuk terlibat dalam karya besar Allah. Mereka bukan orang-orang sempurna, bukan pula tokoh penting. Mereka hanyalah nelayan yang sedang menjalani rutinitas sehari-hari.

Yang mengejutkan, panggilan itu menuntut keberanian. Para murid harus meninggalkan jala, perahu, bahkan keluarga. Mereka diminta mempercayakan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan, tanpa jaminan kenyamanan. Namun justru dalam ketaatan itulah hidup mereka menemukan makna yang baru.

Dari Hana kita belajar tentang kesetiaan dalam penantian, dan dari para murid kita belajar tentang keberanian dalam menjawab panggilan. Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda pada setiap orang.

Ada yang dibentuk melalui air mata dan kesabaran, ada pula yang ditempa lewat keputusan cepat dan radikal. Tetapi tujuannya sama: membawa manusia masuk ke dalam rencana kasih-Nya.

Renungan hari ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: di bagian mana Tuhan sedang bekerja dalam hidup kita?. Apakah kita sedang berada dalam masa menunggu seperti Hana, atau sedang dipanggil untuk melangkah seperti para murid?.

Apa pun situasinya, Tuhan tidak pernah jauh. Ia hadir, memanggil, dan setia menuntun setiap langkah kita.

Semoga kita diberi hati yang setia dalam penderitaan dan berani dalam panggilan, agar hidup kita sungguh menjadi jawaban atas kasih Tuhan. (*

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan