Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Kamis 15 Januari 2026, Bacaan I 1 Samuel 4:1-11, Bacaan Injil Markus 1:40-45

Fandy Gerungan • Kamis, 8 Januari 2026 | 10:36 WIB
Photo
Photo

Pekan Biasa I (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Samuel 4:1-11

Dan perkataan Samuel sampai ke seluruh Israel. (4-1b) Orang Israel maju berperang melawan orang Filistin dan berkemah dekat Eben-Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek.

Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu.

Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: "Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita."

Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian TUHAN semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu.

Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar.

Dan orang Filistin yang mendengar bunyi sorak itu berkata: "Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?" Ketika diketahui mereka, bahwa tabut TUHAN telah sampai ke perkemahan itu,

ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: "Allah mereka telah datang ke perkemahan itu," dan mereka berkata: "Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu.

Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun.

Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!"

Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki.

Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 44:10-11,14-15,24-25

Engkau membuat kami mundur dari pada lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami mengadakan perampokan.

Engkau menyerahkan kami sebagai domba sembelihan dan menyerakkan kami di antara bangsa-bangsa.

Engkau membuat kami menjadi sindiran di antara bangsa-bangsa, menyebabkan suku-suku bangsa menggeleng-geleng kepala.

Sepanjang hari aku dihadapkan dengan nodaku, dan malu menyelimuti mukaku,

Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami?

Sebab jiwa kami tertanam dalam debu, tubuh kami terhampar di tanah.

Bacaan Injil Markus 1:40-45

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku."

Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir."

Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.

Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras:

"Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka."

Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Demikianlah Injil

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i bangsa Israel mengalami kekalahan besar dalam peperangan. Mereka merasa Tuhan tidak berpihak, lalu berinisiatif membawa tabut perjanjian ke medan perang. Bagi mereka, kehadiran tabut dianggap sebagai jaminan kemenangan.

Ada sorak-sorai, ada rasa percaya diri, bahkan musuh pun sempat gentar. Namun yang terjadi justru sebaliknya: kekalahan yang jauh lebih besar, kehilangan nyawa, bahkan simbol kehadiran Allah itu sendiri dirampas.

Peristiwa ini menyadarkan kita akan satu hal penting: Tuhan tidak bisa diperlakukan seperti benda sakti atau alat pemuas kepentingan manusia.

Ketika relasi dengan Tuhan hanya berhenti pada simbol, ritual, atau kebiasaan luar, tanpa pertobatan dan ketaatan hati, maka iman menjadi kosong. Tuhan tidak hadir untuk dikendalikan, melainkan untuk diimani dan ditaati.

Berbeda sekali dengan gambaran dalam Injil. Seorang yang terpinggirkan, dianggap najis, dan dijauhi masyarakat, datang kepada Yesus dengan kerendahan hati. Ia tidak menuntut, tidak memaksa, tidak menjadikan Tuhan sebagai alat.

Ia datang dengan iman yang sederhana dan penuh kepercayaan. Dan di sanalah kita melihat wajah Allah yang sejati: Allah yang digerakkan oleh belas kasih, yang berani mendekat, menyentuh, dan memulihkan.

Yesus tidak sekadar menyembuhkan tubuh orang itu, tetapi memulihkan martabatnya sebagai manusia. Ia hadir bukan sebagai simbol, melainkan sebagai kasih yang hidup dan nyata.

Namun menariknya, setelah mengalami pemulihan, orang itu justru sulit menaati arahan yang diberikan. Kebaikan Tuhan yang begitu besar belum tentu langsung diikuti dengan ketaatan yang dewasa.

Dari dua bacaan ini, kita diajak bercermin. Jangan-jangan kita pun sering datang kepada Tuhan hanya saat butuh, berharap mukjizat, kemenangan, atau jalan keluar instan, tetapi lupa membangun relasi yang tulus. Kita rajin berdoa, beribadah, mengikuti tradisi, namun hati belum sungguh-sungguh mau diubah.

Hari ini Tuhan mengundang kita untuk melampaui iman yang bersifat simbolik menuju iman yang relasional. Bukan sekadar membawa “tabut” dalam hidup kita, tetapi sungguh menghadirkan Tuhan dalam keputusan, sikap, dan cara hidup kita sehari-hari. Datanglah kepada-Nya dengan kerendahan hati, iman yang jujur, dan ketaatan yang lahir dari cinta.

Sebab Tuhan bukan jimat yang menjamin kemenangan, melainkan Pribadi yang mengubah hati dan memberi hidup yang baru. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan