Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 17 Januari 2026, Bacaan I 1 Samuel 9:1-4,17-19, Bacaan Injil Markus 2:13-17

Fandy Gerungan • Senin, 12 Januari 2026 | 10:02 WIB
Photo
Photo

Peringatan Wajib St. Antonius (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I 1 Samuel 9:1-4,17-19

Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kish bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah, seorang suku Benyamin, seorang yang berada.

Orang ini ada anaknya laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.

Kish, ayah Saul itu, kehilangan keledai-keledai betinanya. Sebab itu berkatalah Kish kepada Saul, anaknya: "Ambillah salah seorang bujang, bersiaplah dan pergilah mencari keledai-keledai itu."

Lalu mereka berjalan melalui pegunungan Efraim; juga mereka berjalan melalui tanah Salisa, tetapi tidak menemuinya. Kemudian mereka berjalan melalui tanah Sahalim, tetapi keledai-keledai itu tidak ada; kemudian mereka berjalan melalui tanah Benyamin, tetapi tidak menemuinya.

Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku."

Dalam pada itu Saul, datang mendekati Samuel di tengah pintu gerbang dan berkata: "Maaf, di mana rumah pelihat itu?"

Jawab Samuel kepada Saul, katanya: "Akulah pelihat itu. Naiklah mendahului aku ke bukit. Hari ini kamu makan bersama-sama dengan daku; besok pagi aku membiarkan engkau pergi dan aku akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ada dalam hatimu.

Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: "Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat TUHAN, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri:

Mazmur 21:2-3,4-5,6-7

Apa yang menjadi keinginan hatinya telah Kaukaruniakan kepadanya, dan permintaan bibirnya tidak Kautolak. Sela

Sebab Engkau menyambut dia dengan berkat melimpah; Engkau menaruh mahkota dari emas tua di atas kepalanya.

Hidup dimintanya dari pada-Mu; Engkau memberikannya kepadanya, dan umur panjang untuk seterusnya dan selama-lamanya.

Besar kemuliaannya karena kemenangan yang dari pada-Mu; keagungan dan semarak telah Kaukaruniakan kepadanya.

Ya, Engkau membuat dia menjadi berkat untuk seterusnya; Engkau memenuhi dia dengan sukacita di hadapan-Mu.

Sebab raja percaya kepada TUHAN, dan karena kasih setia Yang Mahatinggi ia tidak goyang.

Bacaan Inji Markus 2:13-17

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka.

Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.

Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia.

Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: "Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i sering kali kita membayangkan panggilan Tuhan datang dalam momen-momen besar dan suci: saat doa yang khusyuk, dalam keheningan kapel, atau melalui peristiwa luar biasa.

Namun bacaan hari ini justru mengingatkan bahwa Tuhan kerap bekerja melalui hal-hal yang sangat sederhana dan bahkan tampak sepele.

Saul tidak sedang mencari kekuasaan, jabatan, atau kehormatan. Ia hanya menjalankan tugas sebagai anak: mencari keledai yang hilang. Perjalanan yang melelahkan, penuh ketidakpastian, dan tampaknya sia-sia itu justru menjadi jalan Tuhan untuk membawanya pada panggilan yang jauh lebih besar.

Dari urusan rumah tangga yang biasa, Saul diarahkan Tuhan menuju tanggung jawab atas seluruh bangsa. Ini menunjukkan bahwa kesetiaan dalam perkara kecil sering menjadi pintu bagi rencana Tuhan yang besar.

Hal serupa juga tampak dalam Injil. Lewi sedang duduk di tempat kerjanya, menjalani rutinitas yang mungkin dipandang rendah oleh banyak orang. Ia bukan sosok religius yang dikagumi, bahkan dicap sebagai orang berdosa. Namun justru di sanalah Yesus menghampirinya.

Tanpa syarat panjang, tanpa tuntutan untuk menjadi “sempurna” terlebih dahulu, Lewi dipanggil apa adanya. Dan ia berani bangkit, meninggalkan hidup lamanya, lalu mengikuti Yesus.

Dari kedua kisah ini, kita belajar bahwa Tuhan tidak menunggu kita menjadi ideal menurut ukuran manusia. Ia memanggil kita di tengah keseharian kita, dengan segala keterbatasan dan kekurangan. Tuhan melihat hati yang bersedia, bukan sekadar penampilan luar atau reputasi masa lalu.

Sering kali kita merasa hidup kita terlalu biasa, terlalu berantakan, atau terlalu penuh dosa untuk dipakai Tuhan. Kita menunda menjawab panggilan-Nya karena merasa belum layak. Padahal justru dalam kondisi itulah Tuhan datang. Ia adalah tabib yang mencari mereka yang terluka, bukan hakim yang menunggu orang sempurna.

Renungan ini mengajak kita untuk lebih peka: jangan meremehkan tugas-tugas kecil yang sedang kita jalani hari ini. Bisa jadi di sanalah Tuhan sedang membentuk kita. Jangan pula menutup telinga ketika Tuhan memanggil, hanya karena kita merasa tidak pantas. Panggilan Tuhan selalu disertai rahmat untuk menjalaninya.

Semoga kita berani setia dalam hal-hal sederhana, rendah hati mengakui kelemahan, dan siap bangkit ketika Tuhan memanggil. Sebab di balik perjalanan biasa, Tuhan sering menyiapkan tujuan yang luar biasa. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan