Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 20 Januari 2026, Bacaan I 1 Samuel 16:1-13, Bacaan Injil Markus 2:23-28

Fandy Gerungan • Senin, 12 Januari 2026 | 10:11 WIB
Photo
Photo

Hari Biasa ke 2 Pekan Doa Sedunia (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Samuel 16:1-13

Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku."

Tetapi Samuel berkata: "Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku." Firman TUHAN: "Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.

Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu."

Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: "Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?"

Jawabnya: "Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini." Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya."

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN."

Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN."

Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN."

Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari."

Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia."

Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 89:20,21-22,27-28

Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku; Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus,

maka tangan-Ku tetap dengan dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia.

Musuh tidak akan menyergapnya, dan orang curang tidak akan menindasnya.

Akupun juga akan mengangkat dia menjadi anak sulung, menjadi yang mahatinggi di antara raja-raja bumi.

Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia untuk selama-lamanya, dan perjanjian-Ku teguh bagi dia.

Bacaan Injil Markus 2:23-28

Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.

Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"

Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan,

bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu?yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutn

Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat,

jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i kita hidup di dunia yang sangat mudah menilai dari luar. Penampilan, jabatan, usia, prestasi, dan citra sering dijadikan ukuran utama untuk menentukan siapa yang layak, siapa yang pantas, dan siapa yang dianggap penting. Tanpa sadar, cara pandang ini juga sering kita bawa ke dalam kehidupan iman.

Samuel pun pernah berada dalam situasi seperti itu. Ia masih larut dalam kesedihan atas kegagalan seorang pemimpin yang dahulu diurapi Tuhan. Namun Tuhan mengajaknya untuk berhenti terpaku pada masa lalu. Kesedihan tidak boleh membuat kita terjebak, karena Tuhan selalu menyiapkan masa depan yang baru, sering kali di tempat yang tidak kita duga.

Saat Samuel bertemu dengan anak-anak Isai, naluri manusianya langsung bekerja. Yang tampak kuat, dewasa, dan meyakinkan terasa paling layak. Namun Tuhan justru mengoreksi cara pandang itu.

Tuhan tidak terpesona oleh apa yang memukau mata manusia. Ia menembus lapisan luar dan memandang kedalaman hati. Yang sering terabaikan, tersembunyi, bahkan dianggap remeh, justru bisa menjadi pilihan-Nya.

Daud tidak berada di barisan depan. Ia tidak sedang memamerkan diri. Ia setia menjalani tugas kecil yang dipercayakan kepadanya. Dalam kesederhanaan dan kesunyian itulah hatinya dibentuk. Tuhan melihat kesetiaan sebelum melihat kemampuan. Tuhan melihat kerendahan hati sebelum melihat kepemimpinan.

Injil hari ini menegaskan pesan yang sama dengan cara yang berbeda. Orang-orang yang merasa paling benar justru terjebak dalam aturan yang kaku. Mereka lebih sibuk menjaga hukum daripada memahami maksudnya.

Bagi Yesus, hukum Tuhan bukanlah beban yang mematikan, melainkan sarana untuk menghadirkan kehidupan. Ketika aturan kehilangan cinta, maka yang lahir adalah penghakiman, bukan keselamatan.

Yesus mengingatkan bahwa iman tidak boleh berhenti pada formalitas. Ketaatan sejati selalu berpihak pada kehidupan, belas kasih, dan kebutuhan manusia. Tuhan tidak senang pada kesalehan yang dingin dan tanpa hati. Ia menghendaki iman yang hidup, yang peka, dan yang mampu membaca situasi dengan kasih.

Renungan ini mengajak kita bertanya: bagaimana cara kita memandang sesama?. Apakah kita menilai seperti Tuhan, atau masih terjebak pada penampilan luar dan aturan yang kaku?. Apakah kita memberi ruang bagi Tuhan untuk memilih dan bekerja dengan cara-Nya sendiri, meski sering kali tidak sesuai harapan kita?.

Semoga kita memiliki hati seperti Daud sederhana, setia, dan terbuka serta iman yang dibebaskan oleh Yesus, iman yang tidak mengikat, tetapi menghidupkan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan