Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Kamis 22 Januari 2026, Bacaan I 1 Samuel 18:6-9;19:1-7, Bacaan Injil Markus 3:7-12

Fandy Gerungan • Selasa, 13 Januari 2026 | 14:06 WIB
Photo
Photo

Hari Biasa ke 5 Pekan Doa Sedunia (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Samuel 18:6-9;19:1-7

Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing;

dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa."

Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya."

Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.

Saul mengatakan kepada Yonatan, anaknya, dan kepada semua pegawainya, bahwa Daud harus dibunuh. Tetapi Yonatan, anak Saul, sangat suka kepada Daud,

sehingga Yonatan memberitahukan kepada Daud: "Ayahku Saul berikhtiar untuk membunuh engkau; oleh sebab itu, hati-hatilah besok pagi, duduklah di suatu tempat perlindungan dan bersembunyilah di sana.

Aku akan keluar dan berdiri di sisi ayahku di padang tempatmu itu. Maka aku akan berbicara dengan ayahku perihalmu; aku akan melihat bagaimana keadaannya, lalu memberitahukannya kepadamu."

Lalu Yonatan mengatakan yang baik tentang Daud kepada Saul, ayahnya, katanya: "Janganlah raja berbuat dosa terhadap Daud, hambanya, sebab ia tidak berbuat dosa terhadapmu; bukankah apa yang diperbuatnya sangat baik bagimu!

Ia telah mempertaruhkan nyawanya dan telah mengalahkan orang Filistin itu, dan TUHAN telah memberikan kemenangan yang besar kepada seluruh Israel. Engkau sudah melihatnya dan bersukacita karenanya. Mengapa engkau hendak berbuat dosa terhadap darah orang yang tidak bersalah dengan membunuh Daud tanpa alasan?"

Saul mendengarkan perkataan Yonatan dan Saul bersumpah: "Demi TUHAN yang hidup, ia tidak akan dibunuh."

Lalu Yonatan memanggil Daud dan Yonatan memberitahukan kepadanya segala perkataan itu. Yonatan membawa Daud kepada Saul dan ia bekerja padanya seperti dahulu.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 56:2-3,9-10a,10bc-11,12-13

Seteru-seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan sombong.

Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu;

Maka musuhku akan mundur pada waktu aku berseru; aku yakin, bahwa Allah memihak kepadaku.

Kepada Allah, firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya kupuji,

Kepada Allah, firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya kupuji,

kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?

Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu.

Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.

Bacaan Injil Markus 3:7-12

Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea,

dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya.

Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya.

Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya.

Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: "Engkaulah Anak Allah."

Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam perjalanan hidup, tidak jarang kita dihadapkan pada situasi di mana keberhasilan orang lain justru melukai hati kita. Pujian yang semestinya menjadi sumber sukacita bersama, malah berubah menjadi api kecemburuan.

Dari sinilah konflik sering bermula bukan karena kesalahan orang lain, melainkan karena hati yang tidak mampu berdamai dengan kenyataan bahwa kita tidak selalu berada di pusat perhatian.

Kisah tentang Saul dan Daud memperlihatkan betapa berbahayanya iri hati yang dibiarkan tumbuh. Saul bukan kehilangan kekuasaan secara nyata, tetapi kehilangan kedamaian batin.

Ia mulai memandang Daud bukan sebagai rekan seperjuangan, melainkan sebagai ancaman. Ketika hati sudah dikuasai rasa dengki, akal sehat pun menjadi tumpul. Yang benar terasa salah, dan yang setia justru dicurigai.

Namun di tengah kegelapan itu, muncul sosok Yonatan seorang yang memilih kebenaran di atas kepentingan pribadi. Ia berani menjadi jembatan perdamaian, membela yang benar meski berisiko kehilangan kenyamanan.

Yonatan mengajarkan bahwa persahabatan sejati lahir dari hati yang jujur dan berani memperjuangkan keadilan. Tidak semua orang terpanggil menjadi pahlawan besar, tetapi setiap orang bisa menjadi penenang di tengah badai.

Sementara itu, dalam Injil kita melihat Yesus yang dikerumuni banyak orang karena kuasa penyembuhan-Nya. Ia dikenal, dicari, bahkan diakui oleh kuasa gelap. Namun Yesus tidak membiarkan popularitas menentukan arah hidup-Nya.

Ia tidak mengejar sorotan, tidak membiarkan identitas-Nya dipakai untuk kepentingan yang salah. Ada kebijaksanaan dalam keheningan-Nya, ada kekuatan dalam kerendahan hati-Nya.

Dari kedua bacaan ini, kita diajak bercermin. Apakah kita seperti Saul yang mudah terluka oleh keberhasilan orang lain?. Ataukah kita seperti Yonatan yang berani memilih kebenaran dan menjaga damai?.

Atau mungkinkah kita belajar dari Yesus, yang tetap tenang dan rendah hati meski memiliki kuasa besar?

Renungan hari ini mengajak kita menjaga hati: membersihkannya dari iri, mengisinya dengan kejujuran, dan menuntunnya pada kerendahan hati. Sebab hanya hati yang damai yang mampu melihat sesama bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai anugerah. Dalam keheningan dan kesetiaan, Tuhan bekerja paling nyata. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan