Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Jumat 23 Januari 2026, Bacaan I 1 Samuel 24:3-21, Bacaan Injil Markus 3:13-19

Fandy Gerungan • Selasa, 13 Januari 2026 | 14:08 WIB
Photo
Photo

Hari Biasa ke 6 Pekan Doa Sedunia (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Samuel 24:3-21

Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu.

Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: "Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam.

Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul;

lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN."

Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul. Sementara itu Saul telah bangun meninggalkan gua itu hendak melanjutkan perjalanannya.

Kemudian bangunlah Daud, ia keluar dari dalam gua itu dan berseru kepada Saul dari belakang, katanya: "Tuanku raja!" Saul menoleh ke belakang, lalu Daud berlutut dengan mukanya ke tanah dan sujud menyembah.

Lalu berkatalah Daud kepada Saul: "Mengapa engkau mendengarkan perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Daud mengikhtiarkan celakamu?

Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.

Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku.

TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau;

seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau.

Terhadap siapakah raja Israel keluar berperang? Siapakah yang kaukejar? Anjing mati! Seekor kutu saja!

Sebab itu TUHAN kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu."

Setelah Daud selesai menyampaikan perkataan itu kepada Saul, berkatalah Saul: "Suaramukah itu, ya anakku Daud?" Sesudah itu dengan suara nyaring menangislah Saul.

Katanya kepada Daud: "Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu.

Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku.

Apabila seseorang mendapat musuhnya, masakan dilepaskannya dia berjalan dengan selamat? TUHAN kiranya membalaskan kepadamu kebaikan ganti apa yang kaulakukan kepadaku pada hari ini.

Oleh karena itu, sesungguhnya aku tahu, bahwa engkau pasti menjadi raja dan jabatan raja Israel akan tetap kokoh dalam tanganmu.

Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku demi TUHAN, bahwa engkau tidak akan melenyapkan keturunanku dan tidak akan menghapuskan namaku dari kaum keluargaku."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 57:2,3-4,6,11

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya.

Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil

dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.

Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus,

Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh,

selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot,

dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Bacaan Injil Markus 3:13-19

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya.

Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil

dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.

Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus,

Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh,

selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot,

dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada saat dalam hidup ketika kita memiliki kesempatan untuk “membalas”. Kesempatan itu terbuka lebar, alasan tampak masuk akal, dan orang-orang di sekitar kita bahkan mendorongnya.

Secara manusiawi, inilah momen yang dianggap tepat untuk melukai balik, membungkam, atau menjatuhkan mereka yang telah menyakiti kita. Namun justru di saat seperti inilah kualitas iman seseorang diuji.

Daud berada pada titik itu. Ia tidak hanya dikejar untuk dibunuh, tetapi juga diperlakukan tidak adil. Namun ketika keadaan berbalik dan musuhnya berada dalam posisi paling lemah, Daud memilih menahan diri.

Ia sadar bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika kita mampu menjatuhkan orang lain, melainkan ketika kita mampu menguasai diri sendiri. Hatinya terusik bukan karena kehilangan kesempatan, tetapi karena ia hampir melukai kehendak Tuhan dengan caranya sendiri.

Keputusan Daud menunjukkan kedewasaan rohani. Ia tidak menyerahkan penilaian pada emosi atau dorongan massa, tetapi pada Allah yang menjadi hakim sejati.

Ia berani membiarkan keadilan berada di tangan Tuhan, meski itu berarti menunda pembenaran diri. Inilah iman yang tidak reaktif, iman yang sabar, iman yang percaya bahwa Tuhan bekerja juga lewat keheningan dan penantian.

Sikap itu akhirnya menyentuh hati Saul. Kekerasan tidak menghentikan kekerasan, tetapi kebaikan yang tulus mampu melunakkan hati yang paling keras. Daud menang tanpa pedang, menang tanpa darah, menang dengan integritas. Ia tidak merebut masa depan, tetapi menerimanya sebagai anugerah yang datang pada waktunya.

Dalam Injil, kita melihat Yesus yang memanggil orang-orang biasa untuk berjalan bersama-Nya. Mereka bukan orang sempurna, bahkan salah satunya kelak akan mengkhianati-Nya. Namun Yesus tetap memilih, mempercayakan, dan mengutus. Panggilan Tuhan bukanlah hadiah bagi mereka yang tanpa cela, melainkan tugas bagi mereka yang bersedia dibentuk.

Yesus tidak memanggil murid-murid untuk membalas dunia dengan kekerasan, tetapi untuk menghadirkan kabar baik. Kuasa yang mereka terima bukan untuk menguasai, melainkan untuk membebaskan. Jalan yang mereka tempuh bukan jalan balas dendam, tetapi jalan pelayanan.

Dari kedua bacaan ini, kita diingatkan bahwa menjadi umat pilihan bukan berarti bebas berbuat sesuka hati. Justru karena dipilih, kita dipanggil untuk hidup berbeda: menahan diri saat bisa membalas, setia saat bisa mengkhianati, dan percaya saat segalanya terasa tidak adil.

Hari ini, kita diajak bertanya: dalam situasi apa Tuhan sedang meminta kita menahan tangan dan menyerahkan penghakiman kepada-Nya? Sebab sering kali, justru di situlah Tuhan sedang membentuk kita menjadi pribadi yang layak diutus dan dipercaya. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan