Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Teruna, GPIB, Kamis, 15 Januari 2025, Hakim-Hakim 6:33-37 Bertanya Itu Boleh Asal Jangan Lari

Alfianne Lumantow • Rabu, 14 Januari 2026 | 11:26 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Bacaan Alkitab: Hakim-hakim 6:33–37
Tema: Bertanya Itu Boleh, Asal Jangan Lari

Sobat Teruna yang terkasih dalam Tuhan, pernahkah kita berada di satu titik di mana kita harus mengambil keputusan besar, tetapi hati kita dipenuhi rasa takut dan ragu?

Kita tahu ada tanggung jawab di depan mata, ada kesempatan yang terbuka, bahkan mungkin ada dorongan dari orang lain, tetapi di dalam hati kita muncul banyak pertanyaan: “Apakah aku sanggup? Apakah ini benar dari Tuhan? Bagaimana kalau aku gagal?”

Mungkin ada di antara kita yang diminta menjadi ketua kelompok belajar, koordinator pemuda, pengurus ibadah, atau terlibat lebih serius dalam pelayanan. Ada juga keputusan tentang studi, masa depan, pergaulan, bahkan tentang bagaimana kita bersikap ketika menghadapi konflik dan tekanan hidup.

Di saat-saat seperti itu, keraguan sering kali datang. Kita ingin taat, tetapi kita juga takut melangkah. Pergumulan seperti inilah yang dialami oleh Gideon.
Dalam bacaan kita hari ini, Gideon sedang berada pada masa yang sangat sulit. Bangsa Israel ditindas oleh orang Midian. Setiap kali mereka menanam, hasilnya dirampas. Mereka hidup dalam ketakutan dan kekurangan.

Di tengah kondisi seperti itu, Tuhan memanggil Gideon untuk menjadi alat pembebasan. Bukan orang yang hebat, bukan panglima perang, melainkan seorang pemuda yang merasa dirinya kecil, tidak berdaya, dan berasal dari kaum yang tidak terpandang.

Tuhan sudah berbicara dengan jelas kepada Gideon. Tuhan sudah menyatakan kehendak-Nya. Namun ketika saatnya semakin dekat, Gideon masih bergumul. Ia belum lari. Ia tidak menolak.

Tetapi ia berkata kepada Tuhan, “Jika Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan…” Lalu ia meminta tanda melalui guntingan bulu domba.

Sobat Teruna, penting untuk kita perhatikan: Gideon bertanya, tetapi ia tidak pergi. Ia tetap tinggal di hadapan Tuhan. Ia membawa keraguannya kepada Tuhan, bukan menjauhi Tuhan.

Sering kali dalam kehidupan kita, saat ragu, ada dua pilihan: mendekat atau menjauh. Ada orang yang ketika ragu, memilih berhenti berdoa, berhenti pelayanan, bahkan berhenti percaya. Tetapi Gideon melakukan hal sebaliknya. Ia justru datang dan membuka isi hatinya kepada Tuhan.

Inilah pelajaran pertama bagi kita: bertanya kepada Tuhan bukanlah dosa, yang berbahaya adalah lari dari Tuhan.

Sobat Teruna, kadang kita berpikir bahwa orang beriman tidak boleh ragu. Kita merasa bersalah ketika punya pertanyaan. Kita takut dianggap kurang rohani.

Padahal Alkitab menunjukkan bahwa banyak tokoh iman pernah bertanya kepada Tuhan. Musa bertanya, Yeremia mengeluh, Daud mencurahkan kegelisahannya dalam Mazmur, bahkan murid-murid Yesus pun sering tidak mengerti.

Tuhan tidak alergi terhadap pertanyaan yang lahir dari hati yang ingin taat. Tuhan justru menentang sikap pura-pura kuat, tetapi hatinya menjauh. Gideon tidak berpura-pura berani. Ia jujur dengan ketakutannya.

Yang menarik, Tuhan tidak memarahi Gideon. Tuhan tidak berkata, “Mengapa kamu masih ragu?” Sebaliknya, Tuhan dengan sabar menjawab permintaannya. Tuhan memberi tanda. Bahkan dalam ayat selanjutnya, Tuhan mengulang tanda itu sekali lagi sesuai permintaan Gideon.

Ini menunjukkan bahwa Tuhan sabar menghadapi proses iman kita. Tuhan tahu iman tidak tumbuh dalam semalam. Tuhan mengerti bahwa keberanian sering kali lahir setelah kepastian.

Namun Sobat Teruna, kita juga perlu belajar dari sikap Gideon yang tidak berhenti hanya pada bertanya. Setelah Tuhan menjawab, Gideon tidak terus meminta tanda demi tanda tanpa melangkah. Ia akhirnya maju. Ia taat. Ia menjalani panggilannya meskipun dengan segala keterbatasan.

Di sinilah letak keseimbangannya: bertanya itu boleh, tetapi jangan menjadikan pertanyaan sebagai alasan untuk menunda ketaatan.

Dalam kehidupan kita, kadang kita terlalu lama berada di fase bertanya. Kita terus berkata, “Tunggu dulu, aku belum yakin.” Padahal Tuhan sudah berkali-kali berbicara lewat firman, nasihat orang percaya, dan dorongan Roh Kudus. Tanpa sadar, pertanyaan berubah menjadi pelarian.

Sobat Teruna, Tuhan menghargai kejujuran hati, tetapi Tuhan juga memanggil kita untuk berani melangkah. Iman bukan berarti tahu semuanya terlebih dahulu. Iman adalah melangkah meski belum melihat semuanya dengan jelas, tetapi percaya bahwa Tuhan berjalan bersama kita.

Mungkin saat ini ada di antara kita yang sedang berada di titik ragu. Ragu akan masa depan. Ragu akan kemampuan diri. Ragu apakah Tuhan benar-benar menyertai. Ragu karena pernah gagal dan takut mengulang kesalahan yang sama. Semua itu manusiawi.

Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: selama kita masih mau datang kepada Tuhan, selama kita masih mau bertanya dengan hati yang terbuka, kita tidak sedang tersesat. Kita sedang bertumbuh.

Yang perlu kita waspadai adalah ketika rasa takut membuat kita diam di tempat, menutup telinga, dan memilih menjauh dari Tuhan dan komunitas iman. Ketika kita berhenti berdoa, berhenti mendengar firman, berhenti melayani, di situlah iman mulai melemah.

Sobat Teruna, Gideon mengajarkan bahwa keberanian sejati tidak selalu dimulai dengan rasa percaya diri, tetapi dengan ketergantungan kepada Tuhan. Ia sadar bahwa tanpa Tuhan, ia tidak sanggup. Justru kesadaran itulah yang membuat Tuhan dapat bekerja melalui hidupnya.

Tuhan tidak mencari orang yang merasa paling mampu. Tuhan mencari orang yang mau taat, meskipun dengan langkah kecil. Tuhan tidak menuntut kita sempurna, tetapi Tuhan rindu kita setia dalam proses.

Maka hari ini, firman Tuhan mengajak kita untuk melakukan dua hal:
Pertama, beranilah jujur kepada Tuhan. Jika ragu, sampaikan. Jika takut, akui. Tuhan tidak menolak doa yang jujur.


Kedua, bersiaplah untuk melangkah ketika Tuhan menjawab. Jangan menunda ketaatan. Jangan bersembunyi di balik alasan keraguan.

Sobat Teruna, iman sejati bukan hanya tentang percaya di dalam hati, tetapi juga tentang keberanian mengikuti Tuhan dalam tindakan nyata. Ketika Tuhan memanggil, Dia juga yang menyertai. Ketika Tuhan mengutus, Dia juga yang memampukan.

Jadi, jangan takut untuk bertanya. Jangan malu mengakui keraguan. Tetapi setelah bertanya, bukalah hati untuk taat. Karena Tuhan yang memanggil Gideon, adalah Tuhan yang sama yang memanggil kita hari ini.

Kiranya kita menjadi generasi muda yang berani datang kepada Tuhan dengan segala pergumulan, dan juga berani melangkah ketika Tuhan menjawab. Amin.

Doa : Tuhan yang setia, terima kasih atas firman-Mu yang menguatkan iman kami. Di tengah keraguan dan ketakutan, ajar kami tetap datang kepada-Mu dan tidak lari dari panggilan-Mu. Teguhkan langkah kami agar berani taat ketika Engkau menjawab. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB